Gerakan Sekolah Menyenangkan: Bullying Menurun, Siswa Lebih Disiplin
Senin, 01 Maret 2021 - 06:05 WIB
loading...
A
A
A
Perubahan area ketiga, yakni school connectedness. Kurikulum yang dibuat tidak boleh terpisah dengan masyarakat. “Pendidikan anak-anak harus melibatkan guru dan orang tua serta masyarakat. Konsep ini sebenarnya sudah ada, tapi biasanya dipakai pada sekolah private yang bayarnya mahal. Sedangkan kami mengajarkan ini di sekolah kampung, sekolah pinggiran,” ujarnya.
Perubahan area keempat, yakni penumbuhan karakter anak. Melalui GSM, salah satu yang diasah adalah pola pikir anak-anak misalnya siswa rutin diajak membahas value dari sebuah kebaikan. Misalnya, dalam hal sampah, anak-anak tidak sekadar diminta membuang pada tempatnya, lalu selesai.
“Kami mendiskusikan mengapa kita harus membuang sampah pada tempatnya, mengapa sampah harus diolah, apa manfaatnya, semua itu didiskusikan. Jadi, penumbuhan karakter anak terjadi akibat dari proses hasil pikir,” jelasnya.
Novi menambahkan, hasil penelitiannya menunjukkan 61% problem pembelajaran disebabkan rendahnya motivasi anak. Ironisnya, kurikulum sekarang masih cukup gagal untuk menumbuhkan motivasi agar anak-anak punya kesadaran untuk mau belajar sendiri. “Mengapa gagal karena ekosistem tidak dibangun. Nah, GSM sebenarnya ada di itu, ingin membangun ekosistem pendidikan agar anak mau belajar mandiri,” katanya.
Novi juga mengharapkan agar pendidikan Indonesia ke depan tidak lagi hanya ditujukan untuk kepentingan pemenuhan tenaga kerja, tapi lebih dari itu pendidikan adalah sebuah jalan membangun peradaban sebuah bangsa. “Dan, peradaban sebuah bangsa hanya bisa dibangun dari kemanusiaan yang dikenalkan melalui pendidikan yang memanusiakan,” tandasnya.
faorick pakpahan/bakti munir
Perubahan area keempat, yakni penumbuhan karakter anak. Melalui GSM, salah satu yang diasah adalah pola pikir anak-anak misalnya siswa rutin diajak membahas value dari sebuah kebaikan. Misalnya, dalam hal sampah, anak-anak tidak sekadar diminta membuang pada tempatnya, lalu selesai.
“Kami mendiskusikan mengapa kita harus membuang sampah pada tempatnya, mengapa sampah harus diolah, apa manfaatnya, semua itu didiskusikan. Jadi, penumbuhan karakter anak terjadi akibat dari proses hasil pikir,” jelasnya.
Novi menambahkan, hasil penelitiannya menunjukkan 61% problem pembelajaran disebabkan rendahnya motivasi anak. Ironisnya, kurikulum sekarang masih cukup gagal untuk menumbuhkan motivasi agar anak-anak punya kesadaran untuk mau belajar sendiri. “Mengapa gagal karena ekosistem tidak dibangun. Nah, GSM sebenarnya ada di itu, ingin membangun ekosistem pendidikan agar anak mau belajar mandiri,” katanya.
Novi juga mengharapkan agar pendidikan Indonesia ke depan tidak lagi hanya ditujukan untuk kepentingan pemenuhan tenaga kerja, tapi lebih dari itu pendidikan adalah sebuah jalan membangun peradaban sebuah bangsa. “Dan, peradaban sebuah bangsa hanya bisa dibangun dari kemanusiaan yang dikenalkan melalui pendidikan yang memanusiakan,” tandasnya.
faorick pakpahan/bakti munir
(bmm)
Lihat Juga :