Efek 'Kerumunan Massa' Bikin Habib Rizieq Kalahkan Puan dan Menteri Jokowi di Survei Capres

loading...
Efek Kerumunan Massa Bikin Habib Rizieq Kalahkan Puan dan Menteri Jokowi di Survei Capres
Hasil riset LSI menjaring nama Imam Besar Ormas terlarang Front Pembela Islam (FPI), Habib Rizieq Shihab sebagai calon presiden potensial di 2024 mendatang. Foto/SINDOnews
JAKARTA - Hasil riset Lembaga Survei Indonesia (LSI) menjaring nama Imam Besar 'Ormas terlarang' Front Pembela Islam (FPI), Habib Rizieq Shihab (HRS) sebagai calon presiden (Capres) potensial di 2024 mendatang. Berdasarkan top of mind, Habib Rizieq berada pada posisi 15 dengan tingkat elektabilitas 0,2%.

Perolehan ini mengalahkan elektabilitas Ketua DPR Puan Maharani dan sejumlah nama menteri Kabinet Indonesia maju. Baca juga: Tak Punya Pengikut, Elektabilitas Puan Dinilai Wajar Kalah dari Habib Rizieq

Direktur Eksekutif Sudut Demokrasi Riset dan Analisi (SUDRA), Fadhli Harahab menilai terjaringnya nama Habib Rizieq dalam sejumlah survei tak lepas dari kepopulerannya sebagai pimpinan salah satu ormas islam yang kerap berseberangan dengan pemerintah.

"Tiap hari terekspos media massa. Tiap hari bikin kerumunan massa tentu saja HRS populer berdasarkan top of mind," ujar Fadhli saat dihubungi, Rabu (24/2/2021).



Fadhli menyebut kepopuleran Habib Rizieq memuncak saat dia kembali ke Tanah Air dengan membawa 'misi revolusi akhlak'. Akibat kepulangannya ke Tanah Air, kemudian muncul kasus 'kerumunan massa' yang terjadi di beberapa lokasi.

"Puncaknya saat dia pulang dengan membawa revolusi akhlak itu. Ribuan orang menjemput, berkerumun di bandara meski masih dalam kondisi pandemi," terangnya.

Tak sampai di situ, kerumunan massa masih berlanjut dengan safari dakwah dan prosesi pernikahan anaknya yang cukup mengundang perhatian publik. Saat itu, hampir mayoritas pemberitaan menyoroti sepak terjang mantan 'pentolan' aksi 212 dan 411 tersebut. Baca juga: Kalah dari Habib Rizieq di Survei Capres, Puan Maharani Minim Pengaruh



"Efek kerumunan massa ini kemudian melejitkan nama HRS, dia mendapat porsi pemberitaan lebih karena dinilai kontra terhadap kebijakan pemerintah," pungkasnya.
(kri)
preload video
TULIS KOMENTAR ANDA!
Top