Tanpa SBY, Tak Ada Partai Demokrat di Indonesia
Selasa, 23 Februari 2021 - 17:57 WIB
loading...
A
A
A
"Apalagi ketika Ketua Umum waktu itu, Bapak SBY, mesti mendampingi almarhumah Ibu Ani yang dirawat di rumah sakit karena sakit keras, AHY berkeliling Indonesia, berjuang bersama para kader yang militan di garis terdepan kampanye Partai Demokrat selama Pileg 2019," kata Herzaky.
Berkat kepemimpinan AHY, katanya, dan kerja keras serta soliditas kader di berbagai pelosok Indonesia, Demokrat berhasil meraih 7,77% suara pada Pileg 2019. Krisis pun kembali berhasil Demokrat lewati. Kerja keras yang berbuah manis, karena tidak ada jalan mudah bagi partai yang berada di luar Istana.
Kini, Partai Demokrat dipimpin AHY. Meski masih berusia muda sudah disejajarkan dengan tokoh-tokoh nasional yang lebih senior. Elektabilitas AHY juga cenderung terus naik, yang dibuktikan oleh pelbagai survei. Ia kini ada di 5 besar tokoh yang diperhitungkan bakal jadi pemimpin nasional.
"Bersama AHY pula, di Pilkada 2020, Partai Demokrat menang besar, 48%. Jumlah kader yang menjadi kepala daerah pun meningkat signifikan," ucapnya.
Semangat dan militansi kader pun sedang tinggi-tingginya. Kader berlomba-lomba membantu rakyat yang sedang kesulitan, dengan swadaya, sejak wabah COVID-19 melanda Indonesia. Kader terinspirasi AHY, yang turun langsung membantu masyarakat, dan bergerak bersama.
Namun di kala Partai Demokrat sedang naik daun dan diapresiasi luas masyarakat, mendadak ada segelintir orang, termasuk pejabat penting pemerintahan, berusaha melakukan Gerakan Pengambilalihan Kepemimpinan Partai Demokrat (GPK PD). Wajar saja kemudian para pemilik suara, kader militan, kader benaran Partai Demokrat, marah besar kepada mereka, dan mengadukannya ke DPP. Saat ini, jika ada oknum GPK PD yang mencoba mendekat, maka bakal diusir.
"Apalagi, GPK PD ini berencana mengadakan KLB. Lah, KLB itu hak pemilik suara. Ini segelintir petualang politik sisa masa lalu dan mantan-mantan kader, mentang-mentang didukung oknum orang dekat Istana, mau mengadakan KLB, memangnya punya hak suara dari mana? Mungkin mau reunian aja kali, nyanyi-nyanyi sambil mengenang masa lalu," katanya.
Berkat kepemimpinan AHY, katanya, dan kerja keras serta soliditas kader di berbagai pelosok Indonesia, Demokrat berhasil meraih 7,77% suara pada Pileg 2019. Krisis pun kembali berhasil Demokrat lewati. Kerja keras yang berbuah manis, karena tidak ada jalan mudah bagi partai yang berada di luar Istana.
Kini, Partai Demokrat dipimpin AHY. Meski masih berusia muda sudah disejajarkan dengan tokoh-tokoh nasional yang lebih senior. Elektabilitas AHY juga cenderung terus naik, yang dibuktikan oleh pelbagai survei. Ia kini ada di 5 besar tokoh yang diperhitungkan bakal jadi pemimpin nasional.
"Bersama AHY pula, di Pilkada 2020, Partai Demokrat menang besar, 48%. Jumlah kader yang menjadi kepala daerah pun meningkat signifikan," ucapnya.
Semangat dan militansi kader pun sedang tinggi-tingginya. Kader berlomba-lomba membantu rakyat yang sedang kesulitan, dengan swadaya, sejak wabah COVID-19 melanda Indonesia. Kader terinspirasi AHY, yang turun langsung membantu masyarakat, dan bergerak bersama.
Namun di kala Partai Demokrat sedang naik daun dan diapresiasi luas masyarakat, mendadak ada segelintir orang, termasuk pejabat penting pemerintahan, berusaha melakukan Gerakan Pengambilalihan Kepemimpinan Partai Demokrat (GPK PD). Wajar saja kemudian para pemilik suara, kader militan, kader benaran Partai Demokrat, marah besar kepada mereka, dan mengadukannya ke DPP. Saat ini, jika ada oknum GPK PD yang mencoba mendekat, maka bakal diusir.
"Apalagi, GPK PD ini berencana mengadakan KLB. Lah, KLB itu hak pemilik suara. Ini segelintir petualang politik sisa masa lalu dan mantan-mantan kader, mentang-mentang didukung oknum orang dekat Istana, mau mengadakan KLB, memangnya punya hak suara dari mana? Mungkin mau reunian aja kali, nyanyi-nyanyi sambil mengenang masa lalu," katanya.
(abd)
Lihat Juga :