Masih Proses Riset, GeNose untuk Penumpang KA Berpotensi False Negatif
Jum'at, 05 Februari 2021 - 23:55 WIB
loading...
Penggunaan alat GeNose C19 untuk penumpang KA dikhawatirkan berpotensi false negatif atau kurang akurat untuk mendeteksi penunmpang KA. Foto: SINDOnews/Adam Erlangga
A
A
A
JAKARTA - Alat pendeteksi Covid-19, Gadjah Mada Electric Nose Covid-19 atau GeNose C19 resmi digunakan sebagai syarat perjalanan penumpang kereta api (KA) jarak jauh. GeNose diklaim memiliki akurasi 90%.
Epidemiolog Griffith University Australia, Dicky Budiman justru mengkritisi penggunaan GeNose ini untuk deteksi di populasi umum seperti yang digunakan untuk penumpang KA . Sebab akurasi lebih dari 90% diperoleh dari riset di rumah sakit.
“Akurasi deteksi lebih dari 90% itu, itu yang berbasis di setting rumah sakit ya, di setting rumah sakit. Tapi kalau di populasi itu belum ada datanya, di populasi umum,” ungkap Dicky kepada SINDOnews, Jumat (5/2/2021).
(Baca: Hasil Tes GeNose Positif, Ini yang Harus Dilakukan Penumpang Kereta)
Apalagi, kata Dicky, hingga saat ini belum ada data riset GeNose untuk mendeteksi orang yang tidak bergejala Covid-19. “Apalagi mendeteksi orang tidak bergejala, orang berisiko rendah, itu belum ada datanya. Jadi berbeda ya setting pada fase 1, 2 nya itu berbeda dengan peruntukannya. Ini yang nggak bisa disamakan,” katanya.
Bahkan, Genose juga masih dalam proses riset. Sehingga, kata Dicky, bisa berpotensi false negatif ketika Genose ini digunakan. “Jadi, masih ada proses yang harus dilakukan untuk itu (riset). Terutama karena ada bias seleksi partisipan, di fase 1 nya, termasuk fase 2 nya. Jadi ini akan berpotensi terjadinya false negatif, akan sangat berpotensi,” jelasnya.
Selain itu, Dicky juga mengkritisi pelaksanaan pengambilan sampel Genose yang mulai hari ini digunakan di Stasiun Pasar Senen, Jakarta. Ia mengatakan pengambilan sampel riskan potensi paparan Covid-19. Apalagi, penularan Covid-19 terjadi melalui udara.
Epidemiolog Griffith University Australia, Dicky Budiman justru mengkritisi penggunaan GeNose ini untuk deteksi di populasi umum seperti yang digunakan untuk penumpang KA . Sebab akurasi lebih dari 90% diperoleh dari riset di rumah sakit.
“Akurasi deteksi lebih dari 90% itu, itu yang berbasis di setting rumah sakit ya, di setting rumah sakit. Tapi kalau di populasi itu belum ada datanya, di populasi umum,” ungkap Dicky kepada SINDOnews, Jumat (5/2/2021).
(Baca: Hasil Tes GeNose Positif, Ini yang Harus Dilakukan Penumpang Kereta)
Apalagi, kata Dicky, hingga saat ini belum ada data riset GeNose untuk mendeteksi orang yang tidak bergejala Covid-19. “Apalagi mendeteksi orang tidak bergejala, orang berisiko rendah, itu belum ada datanya. Jadi berbeda ya setting pada fase 1, 2 nya itu berbeda dengan peruntukannya. Ini yang nggak bisa disamakan,” katanya.
Bahkan, Genose juga masih dalam proses riset. Sehingga, kata Dicky, bisa berpotensi false negatif ketika Genose ini digunakan. “Jadi, masih ada proses yang harus dilakukan untuk itu (riset). Terutama karena ada bias seleksi partisipan, di fase 1 nya, termasuk fase 2 nya. Jadi ini akan berpotensi terjadinya false negatif, akan sangat berpotensi,” jelasnya.
Selain itu, Dicky juga mengkritisi pelaksanaan pengambilan sampel Genose yang mulai hari ini digunakan di Stasiun Pasar Senen, Jakarta. Ia mengatakan pengambilan sampel riskan potensi paparan Covid-19. Apalagi, penularan Covid-19 terjadi melalui udara.
Lihat Juga :