Sebut Hujan Penyebab Banjir Kalsel, Demokrat Sebut Pemerintah Tutup Mata

Rabu, 20 Januari 2021 - 16:50 WIB
loading...
Sebut Hujan Penyebab...
Pemerintah dinilai tutup mata dan lepas tangan dengan menyebut penyebab banjir di Kalimantan Selatan adalah hujan. Foto/inews.TV
A A A
JAKARTA - Anggota Komisi V DPR dari Fraksi Partai Demokrat Irwan menyesalkan pernyataan Presiden Joko Widodo (Jokowi) dan Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) yang menuding hujan sebagai penyebab utama banjir setinggi 2-3 meter di Kalimantan Selatan.

Menurutnya, pernyataan itu terburu-buru dan membuat kesan bahwa pemerintah tutup mata dan lepas tangan akan apa yang sebenarnya terjadi.

“Pernyataan Presiden dan Kementerian KLHK terkait penyebab banjir Kalsel itu karena hujan adalah pernyataan terburu-buru dan terkesan tutup mata dan lepas tangan dari penyebab utama banjir yang hampir merendam semua kabupaten di Kalsel ini,” kata Irwan kepada wartawan di Kompleks Parlemen Senayan, Jakarta, Rabu (20/1/2021).

(Baca: Banjir-Longsor Kalsel, 11 Kabupaten-Kota Terdampak 76.962 Jiwa Mengungsi)

Menurut Wakil Sekretaris Jenderal (Wasekjen) Partai Demokrat ini, pernyataan itu ironis dan menggelitik akal sehat, bahwa sebuah kementerian teknis seperti KLHK yang menangani lingkungan dan kehutanan, tetapi hanya bisa menyalahkan hujan atas insiden banjir di Kalsel.

“Analisis tutupan lahannya bagaimana, Analisa Aliran Permukaan (Runoff) bagaimana? lahan kritisnya bagaimana? Kemampuan DAS nya bagaimana? Termasuk juga Land Use nya bagaimana? Apakah semua data itu mau diabaikan? Atau memang tidak pernah ada datanya,” cetus legislator asal Kalimantan Timur ini.

Doktor Kehutanan Universitas Mulawarman ini menjelaskan, sangat jelas bahwa lokasi banjir berada pada Daerah Aliran Sungai (DAS) Barito. Dari hulu, tengah sampai hilir DAS Barito semua banjir. Di hulu DAS Barito yaitu sub DAS Tabalong, sub DAS Balangan, sub DAS Barabai dan sub DAS Riam Kiwa semuanya mengalami banjir.

“Bukankah di hulu dan tengah DAS Barito ini sebagian kritis karena pembukaan dan pemanfaatan lahan oleh pertambangan dan perkebunan terutama di Tabalong, Balangan dan Riam Kiwa. Seluruh Sub DAS itu airnya masuk ke sungai Barito. Ada satu DAS juga yang terpisah dari DAS Barito yaitu Sub DAS Bati-Bati DAS Maluka di kabupaten Tanah Laut yang juga mengalami banjir,” bebernya.

(Baca: Capai Rp35 Triliun, Ini Jatah Dana Banjir-Longsor di Jabodetabekpuncur)

Irwan dapat memahami bahwa pemerintah terus mendorong masuknya investasi untuk menggenjot pertumbuhan ekonomi dan pembangunan nasional. Tetapi, pemanfaatan ruang juga harus memperhatikan aspek dan analisis kebencanaan. Pemerintah wajib mengevaluasi dan monitoring apakah kebijakan pemerintah terkait alokasi anggaran dan program untuk pemanfaatan ruang serta investasi selama ini sudah ramah terhadap alam dan lingkungan.

“Tentu harus ada solusi yang dilakukan oleh pemerintah untuk mitigasi bencana besar di kemudian hari,” desak Irwan Fecho.

“Menurut saya prioritas adalah moratorium izin pertambangan dan perkebunan, membangun bendungan di Riam Kiwa, percepatan reklamasi tambang, rehabilitasi DAS Kritis dengan pola partisipatif masyarakat lokal dan penegakan hukum terhadap pelaku investasi yang melanggar aturan,” tegasnya.
(muh)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Berita Terkait
Kawal Instruksi Presiden...
Kawal Instruksi Presiden Soal Ojol, Komisi V DPR Minta Tarif Baru Tak Bebani Konsumen
Tiyo UGM Dilaporkan...
Tiyo UGM Dilaporkan ke Polisi, Ray Rangkuti: Harusnya Orang Jahat yang Dihukum Bukan yang Berpikir
SPI Jadi yang Pertama...
SPI Jadi yang Pertama Beri Naskah Analisis RUU Advokat ke Pemerintah
AHY: Oposisi Harus Konstruktif,...
AHY: Oposisi Harus Konstruktif, Tidak Boleh Memecah Belah Bangsa
PKB Instruksikan DPC...
PKB Instruksikan DPC dan DPW Berdialog dengan Mahasiswa
Akui Program Pemerintah...
Akui Program Pemerintah Banyak Kekurangan, Wapres Gibran: Kita Perbaiki Bersama
Tanpa Kompensasi, Harga...
Tanpa Kompensasi, Harga Asli Pertamax Tembus Rp20.000 per Liter
Dudung: Pemerintah Selalu...
Dudung: Pemerintah Selalu Buka Ruang untuk Publik Sampaikan Kritik
Ekonom: Kebijakan BI...
Ekonom: Kebijakan BI dan Pemerintah Memperkuat Rupiah Sudah Tepat
Rekomendasi
AEF/MANTENA Cup 2026...
AEF/MANTENA Cup 2026 Dorong Prestasi Berkuda dan Sport Tourism Indonesia
Ancaman Nyata Zionis...
Ancaman Nyata Zionis Bukan Iran, Industri Militer Israel Berlomba Melawan Drone Hizbullah
Perbarui IPKP PPKP Daruba,...
Perbarui IPKP PPKP Daruba, BNPP Soroti Transportasi hingga Infrastruktur Morotai
Berita Terkini
Didik Rachbini Prediksi...
Didik Rachbini Prediksi Safari Politik Jokowi Menjadi Faktor Negatif Ekonomi Nasional
Gus Yaqut Dibantarkan,...
Gus Yaqut Dibantarkan, KPK: Petugas Pengawal Tahanan Lakukan Pengamanan Melekat
Penegak Hukum Terkoneksi...
Penegak Hukum Terkoneksi Politik, Ubedilah Badrun: Mestinya Independen
Kepercayaan Publik terhadap...
Kepercayaan Publik terhadap Polri Meningkat Jadi Modal Sosial yang Harus Diperkuat
Silaturahmi di Lampung,...
Silaturahmi di Lampung, Jokowi: Aku Masih Seperti yang Dulu
Tak Bisa Ditunda, Tata...
Tak Bisa Ditunda, Tata Kelola, Dana, dan Independensi PBNU Harus Dibenahi
Infografis
PBB Sebut Bencana Krisis...
PBB Sebut Bencana Krisis Air Hebat Sudah di Depan Mata
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved