Atasi Covid-19, Muhaimin Iskandar Dorong Penguasaan Iptek
Kamis, 14 Januari 2021 - 18:16 WIB
loading...
A
A
A
"Saya dengar kabar UGM telah berhasil mengembangkan GeNose untuk mendeteksi virus hanya dalam waktu 80 detik. Seperti ini yang harus dikembangkan massal, cepat dan murah. Ini untuk menjawab kebutuhan. GeNose itu dengan meniupkan nafas kita dalam tabung plastik akan terkoneksi alat dalam waktu 80 detik," tuturnya.
Temuan-temuan semacam ini, lanjut dia, harus dipercepat produksi massalnya. Pemerintah juga harus memfasilitasi anggaran sehingga masyarakat bisa mengakses. "Tidak seperti sekarang masyarakat mau swab test harganya mahal sehingga menambah biaya untuk semua transportasi kita," sambungnya.
Menurut dia, keberadaan alat pendeteksi virus yang cepat dan murah menjadi kebutuhan yang harus dimassalkan oleh pemerintah. "Dalam konteks science dan teknologi, kita sangat ketinggalan karena kita tidak punya research and development yang memadai, baik pemerintah atau swasta tak ada yang memiliki kemauan untuk investasi. Ini harus dicari jalan keluar," tuturnya.
Dia mengungkapkan hingga kini, Kemenristek belum mempunyai kemampuan dan fungsi yang optimal untuk memberikan jawaban yang cepat atas berbagai persoalan bangsa.
"Contoh bagaimana vaksin kita sangat bergantung pada orang lain. Apalagi hal-hal yang lebih mendalam dari kajian science dan teknologi kita belum miliki, mutlak kita harus lakukan evaluasi total kepada riset dan teknologi kita agar kita tidak tertinggal," katanya.
Gus AMI mengeluhkan keterbatasan biaya yang dimiliki negara. Begitu juga penggunaan anggaran tidak tepat sasaran karena ketidakmampuan ilmu pengetahuan dan teknologi. "Ini benar-benar harus dipikir serius. Kemarin penggelontoran APBN yang tidak tepat sasaran menimbulkan kemubaziran di sana. Ketidakmampuan ilmu pengetahuan ini yang harus diantisipasi," katanya. Baca juga: Minta Maaf Setelah Dikritik, Raffi Ahmad: Terima Kasih Sudah Mengingatkan Saya
Temuan-temuan semacam ini, lanjut dia, harus dipercepat produksi massalnya. Pemerintah juga harus memfasilitasi anggaran sehingga masyarakat bisa mengakses. "Tidak seperti sekarang masyarakat mau swab test harganya mahal sehingga menambah biaya untuk semua transportasi kita," sambungnya.
Menurut dia, keberadaan alat pendeteksi virus yang cepat dan murah menjadi kebutuhan yang harus dimassalkan oleh pemerintah. "Dalam konteks science dan teknologi, kita sangat ketinggalan karena kita tidak punya research and development yang memadai, baik pemerintah atau swasta tak ada yang memiliki kemauan untuk investasi. Ini harus dicari jalan keluar," tuturnya.
Dia mengungkapkan hingga kini, Kemenristek belum mempunyai kemampuan dan fungsi yang optimal untuk memberikan jawaban yang cepat atas berbagai persoalan bangsa.
"Contoh bagaimana vaksin kita sangat bergantung pada orang lain. Apalagi hal-hal yang lebih mendalam dari kajian science dan teknologi kita belum miliki, mutlak kita harus lakukan evaluasi total kepada riset dan teknologi kita agar kita tidak tertinggal," katanya.
Gus AMI mengeluhkan keterbatasan biaya yang dimiliki negara. Begitu juga penggunaan anggaran tidak tepat sasaran karena ketidakmampuan ilmu pengetahuan dan teknologi. "Ini benar-benar harus dipikir serius. Kemarin penggelontoran APBN yang tidak tepat sasaran menimbulkan kemubaziran di sana. Ketidakmampuan ilmu pengetahuan ini yang harus diantisipasi," katanya. Baca juga: Minta Maaf Setelah Dikritik, Raffi Ahmad: Terima Kasih Sudah Mengingatkan Saya
Lihat Juga :