Peningkatan Kesadaran Bela Negara Mampu Kikis Radikalisme dan Terorisme

Rabu, 06 Januari 2021 - 09:24 WIB
loading...
Peningkatan Kesadaran...
Pengamat intelijen dan militer Susaningtyas Kertopati. Foto/Istimewa
A A A
JAKARTA - Pengamat intelijen dan militer Susaningtyas Kertopati menyatakan, implementasi bela negara di kalangan masyarakat dilaksanakan secara menyeluruh berdasarkan Program Bela Negara oleh Kementerian Pertahanan RI sejak 2015. Program ini ditujukan kepada semua lapisan masyarakat baik di kalangan akademik mulai dari pendidikan SD sampai perguruan tinggi.

"Materinya disesuaikan dengan strata pendidikan meliputi bimbingan dan penyuluhan kewarganegaraan hingga pelatihan dasar bela diri dan cinta Tanah Air," tutur Susaningtyas kepada SINDOnews, Rabu (6/1/2021).

Menurut perempuan yang akrab disapa Nuning ini, program-program dari Kemhan RI tersebut sudah berhasil disosialisasikan dan sudah banyak diselenggarakan oleh banyak perguruan tinggi dan kalangan praktisi baik pegawai pemerintah maupun pegawai swasta.

Menurutnya, semua kalangan menyadari pentingnya Program Bela Negara . Bahkan pemahaman mereka arti penting nasionalisme dan patriotisme juga meningkat tajam. "Kesadaran mereka sebagai Kader Bela Negara tidak identik dengan wajib militer tetapi memiliki kesamaan untuk memupuk rasa cinta Tanah Air dan bangga menjadi Bangsa Indonesia," ujar Nuning.

Lebih lanjut Nuning mengatakan, Program Bela Negara juga dapat diproyeksikan untuk memenuhi kebutuhan sebagai komponen pendukung dan komponen cadangan dalam Sistem Pertahanan Semesta. Maka, ia melihat, meningkatnya kesadaran bela negara diyakini dapat mengikis radikalisme dan terorisme. "Pembedaan program bela negara untuk setiap strata pendidikan sudah ditata oleh Kemhan RI," lanjut mantan anggota Komisi I DPR RI ini.

(Baca juga: Menhan Prabowo Ceritakan Sejarah Bela Negara dan Ajak Semua Pihak Gotong Royong ).

Nuning menganggap, wajib militer memang penting untuk Indonesia. Meskipun PBB sudah menghapus ketentuan tersebut dan menggantinya dengan program lain, tapi banyak negara yang tetap mempraktikkannya. Oleh sebab itu justru pemerintah Indonesia sudah sejalan dengan ketentuan PBB agar setiap negara tetap mampu menjaga kesadaran warga negara masing-masing akan arti penting nasionalisme dan patriotisme.

"Banyak kalangan berpendapat program bela negara cukup efektif untuk menurunkan radikalisme. Program bela negara juga memuat metode yang praktis untuk menyelenggarakan aksi-aksi deradikalisasi dan kontra radikalisasi," katanya.

(Baca juga: Temuan Drone Bawah Laut Ancaman Serius Pertahanan RI ).

Sementara itu, soal sikap yang dilontarkan salah satu negara Pasifik, Vanuatu terkait isu HAM di Papua beberapa waktu lalu, Nuning menganggap, hal itu bukan ancaman bagi Indonesia, tetapi dari perspektif hubungan internasional, negara tersebut dapat dikategorikan sebagai negara yang berseberangan (adversaire) dengan kepentingan nasional Indonesia.

Negara tersebut, menurutnya, memang memiliki pandangan negatif terhadap Indonesia, karena memang kurangnya pengalaman dalam berhubungan dengan Indonesia. "Sikap Vanuatu juga tidak mencerminkan sebagian besar negara-negara di Pasifik Selatan yang tergabung ke dalam Melanesian Spearhead Group, Polynesian Leaders Forum dan Pacific Island Forum. Di kalangan negara-negara tersebut, Vanuatu juga dikenal negara yang kurang memiliki empati dengan persoalan negara-negara tetangganya," beber Nuning.
(zik)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Berita Terkait
Densus Ungkap 247 Anak...
Densus Ungkap 247 Anak Terpapar Radikalisme dan Kekerasan Sepanjang 2026
Prabowo Terbitkan Perpres...
Prabowo Terbitkan Perpres Pencegahan dan Penanggulangan Ekstremisme Mengarah Terorisme
Kasus Penyiraman Air...
Kasus Penyiraman Air Keras ke Aktivis KontraS, Prabowo: Ini Terorisme, Tindakan Biadab Harus Diusut
Sinergi Sekolah-Densus...
Sinergi Sekolah-Densus 88: Perkuat Guru sebagai Lini Terdepan Pelindung Remaja dari Radikalisme
Dampak Nyata Perang...
Dampak Nyata Perang Iran dan AS-Israel Terhadap Keamanan Indonesia
Perang Hibrida AS-Israel...
Perang Hibrida AS-Israel vs Iran, Pengamat: Indonesia Bisa Ambil Peran sebagai Mediator Aktif
Dosen UIN Sunan Ampel:...
Dosen UIN Sunan Ampel: Dana Asing Tak Dilarang tapi Negara Wajib Mengawasi
Polda Riau Perkuat Kolaborasi...
Polda Riau Perkuat Kolaborasi Strategis dengan Polis Malaysia Tangani Narkoba hingga Terorisme
Terhubung dengan Radikalisme,...
Terhubung dengan Radikalisme, Telegram Memblokir Hampir 190.000 Akun Berbahaya
Rekomendasi
Rupiah Hari Ini Masih...
Rupiah Hari Ini Masih Terseok-seok ke Posisi Rp17.804 per Dolar AS
Perang Rusia-Ukraina...
Perang Rusia-Ukraina Memicu Perlombaan Senjata AI
RCTI Hadirkan Sinetron...
RCTI Hadirkan Sinetron Komedi Komunal Terbaru Tobat Jatuh Cinta, Kisah Empat Janda di Kampung Sindang Barang!
Berita Terkini
Refly Harun Ungkap Dokter...
Refly Harun Ungkap Dokter Tifa Pakai Baju Tahanan atas Kesadaran Sendiri: Biar Dunia Tahu Kalau Kezaliman Terjadi
Jokowi dan PSI Dinilai...
Jokowi dan PSI Dinilai Satu Paket Politik, Ini Temuan Survei LPI
Frans Antoni Pengendali...
Frans Antoni Pengendali Uang Fredy Pratama Digiring ke Bareskrim usai Ditangkap di Malaysia
Kasus Silmy Karim Cs,...
Kasus Silmy Karim Cs, KPK Geledah Kantor Imigrasi Denpasar
Roy Suryo dan Dokter...
Roy Suryo dan Dokter Tifa Pemeriksaan Kesehatan di RS Polri, Langsung Teriak: Siap!
Sahroni soal Roy Suryo...
Sahroni soal Roy Suryo Ditangkap: Tangkepin yang Hina Presiden dan Penyebar Hoaks
Infografis
10 Negara Penguasa Cadangan...
10 Negara Penguasa Cadangan Logam Tanah Jarang Dunia
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved