Politisasi Agama Dinilai Jadi Ancaman Masa Depan Bangsa
Senin, 28 Desember 2020 - 20:12 WIB
loading...
A
A
A
"Konservatisme dalam beragama cukup terlihat di dunia maya. Data hasil penelitian yang dikeluarkan oleh PPIM UIN Jakarta bersama MERIT Indonesia pada awal November 2020 ini, menunjukkan bahwa model keberagamaan di dunia maya mengarah pada model keberagamaan yang konservatif," tuturnya.
Narasi keagamaan di media sosial menunjukkan bahwa 67,2% mengarah ke konservatif, 22,2% mengarah ke moderat, 6,1% liberal, dan 4,5% mengarah ke Islamis.
Penelitian lain yang dilakukan oleh Kominfo pada 2020 ini, juga menunjukkan bahwa banyak konten hoaks (berita bohong) di internet. Melalui studi kuantitatif via survei menemukan bahwa konten dianggap banyak mengandung adalah konten politik (67,2%), kesehatan (46,3%), agama (33,2%), kerusuhan (28,1%), dan konten lingkungan (21,9%).
Menurut Hasan, kemampuan netizen dalam mencerna dan menganalisa juga masih perlu jadi catatan. Temuan Kominfo juga menunjukkan bahwa literasi digital netizen Indonesia masih dalam kategori sedang yaitu 3,47 pada skala 1-5. "Potret ini menunjukkan bahwa netizen kita masih rentan," katanya. (Baca juga:Haedar Nashir: Berhentilah Merumitkan Urusan Keagamaan)
Dikatakan Hasan, netizen merupakan entitas yang cukup rentan dengan konten-konten negatif. Jumlah mereka yang cukup besar, durasi akses mereka terhadap internet tinggi, serta kurang mendapatkan literasi secara optimal, membuat mereka menjadi sasaran empuk. "Mereka akan mudah terperangkap dan terjebak dalam bujuk rayu konten-konten negatif termasuk konten yang memperburuk polarisasi di tengah masyarakat," tutupnya.
Narasi keagamaan di media sosial menunjukkan bahwa 67,2% mengarah ke konservatif, 22,2% mengarah ke moderat, 6,1% liberal, dan 4,5% mengarah ke Islamis.
Penelitian lain yang dilakukan oleh Kominfo pada 2020 ini, juga menunjukkan bahwa banyak konten hoaks (berita bohong) di internet. Melalui studi kuantitatif via survei menemukan bahwa konten dianggap banyak mengandung adalah konten politik (67,2%), kesehatan (46,3%), agama (33,2%), kerusuhan (28,1%), dan konten lingkungan (21,9%).
Menurut Hasan, kemampuan netizen dalam mencerna dan menganalisa juga masih perlu jadi catatan. Temuan Kominfo juga menunjukkan bahwa literasi digital netizen Indonesia masih dalam kategori sedang yaitu 3,47 pada skala 1-5. "Potret ini menunjukkan bahwa netizen kita masih rentan," katanya. (Baca juga:Haedar Nashir: Berhentilah Merumitkan Urusan Keagamaan)
Dikatakan Hasan, netizen merupakan entitas yang cukup rentan dengan konten-konten negatif. Jumlah mereka yang cukup besar, durasi akses mereka terhadap internet tinggi, serta kurang mendapatkan literasi secara optimal, membuat mereka menjadi sasaran empuk. "Mereka akan mudah terperangkap dan terjebak dalam bujuk rayu konten-konten negatif termasuk konten yang memperburuk polarisasi di tengah masyarakat," tutupnya.
(kri)
Lihat Juga :