Iuran BPJS Kembali Dinaikkan, Komisi IX Sebut Negara Digarap Asal-asalan
Rabu, 13 Mei 2020 - 17:46 WIB
loading...
A
A
A
Dikatakan Anggia, belum lama ini Komisi IX DPR juga mendapatkan adanya wacana bahwa kenaikan iuran untuk kelas III Mandiri dari sebelumnya Rp25.500 menjadi Rp42.000 diambilkan dari dana penalangan COVID-19. "Ini yang kita pertanyakan, meskipun Kemenkes juga tak setuju untuk itu. Tetapi ini membuat kita, aduh negara ini mau dibikin seperti apa? Kan kita mintanya yang dibayarkan negara itu Rp16.500, tapi ini malah mau diambilkan dari anggaran Corona dan itu semua Rp42.000. Meskipun Kemenkes belum setuju, tapi kita gempur di Komisi IX tak setuju," katanya.
Anggia mengaku sudah tidak memiliki kata-kata lagi untuk merespons kebijakan pemerintah untuk kembali menaikkan iuran BPJS Kesehatan di tengah pandemi Covid-19 ini. "Jadi emosi saya. Ya Allah... Mbok jangan bikin begitu. Saya gak punya kata-kata lagi, kok bisa cara berpikirnya seperti itu, gimana di saat-saat begini, saya juga kaget kok bisa. Haduuuh.. Saya dekat berbuka puasa jadi lemes. Kenapa sih begitu, gak bijak. Ini aduh..., mbok pelan-pelan. Apa, entalah yang terpikirkan," ungkapnya.
menurutnya, di bulan Ramadhan yang bertepatan dengan pandemi Corona, seyogyanya pemerintah bisa lebih bijaksana dalam mengambil setiap kebijakan. "Ini membuat imun masyarakat turun, sudah stres mendengarkan semua langsung drop. Wes embuh iku. Sebenarnya Ramadhan ini harusnya dipakai buat lebih maksimal beribadah memikirkan warga dengan baik, beribadah itu tak hanya ngaji, salat tarawih banyak, tapi bagaimana memikirkan masyarakat dengan baik. Ini negara digarap tidak proper, asal-asalan, sak karepe dewe (semaunya sendiri). Ini ngomong begini, tiba-tiba ini begini. I have no word, ini maksudnya apa?" ungkapnya. abdul rochim
Anggia mengaku sudah tidak memiliki kata-kata lagi untuk merespons kebijakan pemerintah untuk kembali menaikkan iuran BPJS Kesehatan di tengah pandemi Covid-19 ini. "Jadi emosi saya. Ya Allah... Mbok jangan bikin begitu. Saya gak punya kata-kata lagi, kok bisa cara berpikirnya seperti itu, gimana di saat-saat begini, saya juga kaget kok bisa. Haduuuh.. Saya dekat berbuka puasa jadi lemes. Kenapa sih begitu, gak bijak. Ini aduh..., mbok pelan-pelan. Apa, entalah yang terpikirkan," ungkapnya.
menurutnya, di bulan Ramadhan yang bertepatan dengan pandemi Corona, seyogyanya pemerintah bisa lebih bijaksana dalam mengambil setiap kebijakan. "Ini membuat imun masyarakat turun, sudah stres mendengarkan semua langsung drop. Wes embuh iku. Sebenarnya Ramadhan ini harusnya dipakai buat lebih maksimal beribadah memikirkan warga dengan baik, beribadah itu tak hanya ngaji, salat tarawih banyak, tapi bagaimana memikirkan masyarakat dengan baik. Ini negara digarap tidak proper, asal-asalan, sak karepe dewe (semaunya sendiri). Ini ngomong begini, tiba-tiba ini begini. I have no word, ini maksudnya apa?" ungkapnya. abdul rochim
(cip)