Siaga Bencana, Tetap Waspada Pandemi Covid-19

Rabu, 16 Desember 2020 - 07:35 WIB
loading...
Siaga Bencana, Tetap Waspada Pandemi Covid-19
Kepala BNPB Doni Monardo. Foto/SINDOnews
A A A
JAKARTA - Selain pandemi Covid-19 , Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mengingatkan masyarakat untuk tetap waspada terhadap bencana alam , seperti banjir, erupsi gunung berapi, tanah longsor, dan gempa bumi yang juga mengintai.

Sampai hari ini tercatat tidak kurang dari 362 orang meninggal dunia dan 39 orang masih dalam pencarian akibat bencana tersebut. “Selain pandemi Covid-19, kita juga dihadapkan pada sejumlah bencana, terutama banjir dan tanah longsor,” ungkap Kepala BNPB Doni Monardo dalam Seminar Nasional Sosialisasi dan Pembelajaran Pemulihan Pasca Bencana Alam: Sosial, Ekonomi dan SDA, secara virtual kemarin. (Baca: Ketika Musibah Datang sebagai Peringatan)

Menurut dia, Indonesia memiliki 295 patahan yang memicu terjadinya potensi bencana gempa bumi. Sebagian besar patahan tersebut berada di wilayah Indonesia bagian tengah dan bagian timur. Hanya Pulau Kalimantan relatif aman dari patahan tersebut. “Adapun 295 patahan itu sebagian besar berada di wilayah Indonesia bagian tengah dan bagian timur. Hanya Kalimantan relatif aman dari patahan,” ungkap Doni.

Bahkan, kata Doni, tidak kurang sebanyak 50 desa saat ini berstatus rawan bencana. Jadi, dia meminta semua daerah memperhitungkan potensi terjadinya gempa. Apalagi, hanya Pulau Kalimantan yang aman dari potensi terjadinya gempa. “Oleh karena itu, kita harus bisa memperhitungkan semua daerah yang punya potensi terjadinya gempa. Tidak kurang dari 50 desa berstatus rawan bencana, khususnya bencana gempa,” jelasnya.

Doni mengungkapkan, wilayah Indonesia memiliki pertemuan lempeng patahan subduksi Indo-Australia dan Pasifik yang menjadi pemicu terjadinya gempa dan tsunami di Aceh pada 2004. “Kita punya pertemuan lempeng subduksi induksi Indo-Australia dan Pasifik. Pada 2004 tepatnya tanggal 26 Desember, terjadi gempa dan tsunami di Aceh,” katanya. (Baca juga: Peneliti UI Beberkan Hasil Riset PJJ Selama Pandemi Covid-19)

Doni mengungkapkan, ancaman bencana yang masih terus mengintai wilayah Indonesia adalah bencana geologi dan vulkanologi. Indonesia, menurut dia, punya 500 gunung api dan 127 di antaranya aktif. “Kita punya tiga gunung berapi yang sangat rentan kapan saja bisa meletus. Ada gunung api Purba Danau Toba, Krakatau, dan Tambora,” tandasnya.

Lebih jauh Doni mengingatkan bahwa kerugian akibat bencana yang terjadi pada lima tahun terakhir begitu besar baik jiwa, materi, maupun infrastruktur (lihat grafis). “Indonesia berada pada peringkat pertama korban jiwa terbanyak di dunia. Lebih dari 6.000 warga meninggal karena bencana yang terjadi di beberapa daerah NTB, Sulteng, Selat Sunda, yaitu Banten dan Lampung. Dan pada akhir tahun itu terjadi juga tanah longsor di wilayah Sukabumi yang merenggut satu desa sebanyak 10 orang lebih tertimbun oleh longsoran,” ungkap Doni.

Doni menambahkan, apa yang disampaikan Presiden Jokowi bahwa Salus populi suprema lex, bahwa keselamatan rakyat adalah hukum yang tertinggi. “Nah di sinilah, kita tidak cukup hanya berpikir pada konstruksi. Namun, harus mengetahui bagaimana cara melakukan pencegahan dan mitigasinya. Kenali ancamannya, siapkan strateginya, ketahui masalahnya, carikan solusinya,” ungkap Doni. (Baca juga: 2 Olahraga Mudah untuk Turunkan Berat Badan dengan Cepat)

Pada 11 Desember 2020, Doni mengunjungi daerah yang terdampak banjir di Kecamatan Lhoksukon, Kabupaten Aceh Utara. Peninjauan ini untuk mengetahui kondisi terkini, memetakan permasalahan, dan menentukan langkah-langkah penanganan.

Banjir sudah berlangsung selama lima hari. Doni mengatakan, langkah pertama yang diambil adalah memberikan perlindungan kepada para pengungsi. “Memisahkan antara kelompok rentan dengan masyarakat yang secara fisik sehat,” ujarnya. Hal itu dilakukan untuk menghindari penularan virus Sars Cov-II alias Covid-19. Kelompok rentan, antara lain, lansia, mereka yang memiliki penyakit penyerta, ibu hamil dan menyusui, serta balita.

BNPB pun berkoordinasi dengan Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) untuk mempercepat proses pengerukan sumbatan dan sedimentasi di bagian hilir aliran sungai. Tujuannya, agar banjir segera surut.

Doni sempat meninjau kondisi aliran sungai dari udara. “Saya melihat adanya pendangkalan muara sungai dan penyempitan. Kami akan segera menyiapkan beko dan kendaraan amfibi,” tuturnya. (Baca juga: Masker Wajah Mirip Power Ranger Cegah Infeksi Covid-19)

Dalam kunjungan itu, BNPB memberikan bantuan seperti logistik, 1 unit tenda, 5.000 paket swab antigen, 100.000 masker kain, 10.000 masker KF 94, 100 lembar matras, dan 100 lembar selimut. Daerah yang mendapatkan bantuan, seperti Kota Lhokseumawe, Kabupaten Aceh Tenggara, Aceh Timur, dan Bener Meriah.

Bencana Hidrometeorologi

Terpisah, Deputi Bidang Klimatologi Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Herizal mengimbau masyarakat untuk lebih waspada dan siap siaga terhadap potensi bencana hidrometeorologi, khususnya jelang puncak musim hujan pada Januari hingga Februari 2021. Sejak dini, persiapkan diri dan anggota keluarga dengan mulai mengenali risiko di sekitar.

Berdasarkan informasi BMKG menyebutkan, anomali iklim La Nina terpantau masih berlangsung di Samudra Pasifik dengan intensitas level 'moderat'. "Suhu muka laut Samudra Pasifik bagian tengah daerah Nino 3.4 menunjukkan anomali sebesar -1.4°C sehingga perkembangan saat ini menunjukkan intensitas La Nina moderat yang diprediksi akan mencapai puncaknya pada periode Januari–Maret 2021, dan kemudian akan melemah pada Mei 2021," ujar Herizal. (Lihat videonya: Tips Aman Berwisata ke Pantai Saat Pandemi)

Menurut dia, musim hujan di sebagian besar wilayah di Indonesia diprediksi berlangsung hingga April 2021. Peningkatan kewaspadaan diperlukan di daerah-daerah yang diprediksi mendapatkan akumulasi curah hujan dengan kriteria tinggi hingga sangat tinggi atau lebih besar 300 mm per bulan pada Desember 2020–Januari 2021.

Daerah-daerah yang dimaksud antara lain berpeluang terjadi di pesisir barat Sumatera, sebagian besar Pulau Jawa, Bali, sebagian Nusa Tenggara Barat, sebagian Nusa Tenggara Timur, Kalimantan bagian barat dan tengah, Sulawesi, sebagian Maluku, sebagian Papua Barat dan Papua. (Binti Mufarida)
(ysw)
Baca Berita Terkait Lainnya
Copyright © 2024 SINDOnews.com
All Rights Reserved
read/ rendering in 0.2064 seconds (0.1#10.140)