Sekjen Pemuda Pancasila: Reshuffle Kabinet Jangan Didasari Politik Balas Budi

Kamis, 03 Desember 2020 - 14:41 WIB
loading...
Sekjen Pemuda Pancasila:...
Sekjen MPN Pemuda Pancasila (PP) Arif Rahman meminta agar reshuffle kabinet tidak didasarkan atas politik balas budi. Foto/Ist
A A A
JAKARTA - Wacana reshuffle kabinet Jokowi-KH Ma’ruf Amin semakin menguat pascatertangkapnya Menteri Kelautan dan Perikanan Edhy Prabowo oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) beberapa waktu lalu.

Sekjen MPN Pemuda Pancasila (PP) Arif Rahman meminta agar reshuffle kabinet tidak didasarkan atas politik balas budi. “Sikap ormas Pemuda Pancasila (PP) terhadap pemerintah jelas, kita mendukung pemerintah yang sah. Tapi kita juga akan tetap melakukan kritikan terhadap pemerintah, itu tanda bahwa kita cinta terhadap pemerintah, terhadap bangsa dan negara ini,” ujarnya, Kamis (3/12/2020). (Baca juga: Edhy Prabowo Ditangkap KPK, Istana Beri Sinyal Reshuffle Kabinet)

Arif menilai, Presiden Joko Widodo (Jokowi) harus segera mereview dan merevisi kabinetnya. Kabinet Indonesia Maju (KIM) dibentuk dengan asumsi normal dan parameter yang sama dengan Kabinet Indonesia Bersatu. Sehingga komposisi kabinet terkesan kompromistis dan tidak serius. Publik awam pun bisa menilai, kalau KIM isinya merupakan cerminan balas budi Jokowi kepada relawan dan partai pendukung. Serta sedikit muka untuk rival saat capres. (Klik ini untuk ikuti survei SINDOnews tentang Calon Presiden 2024)

Formasi kabinet seperti ini tentunya hanya bisa bekerja dalam situasi normal dengan asumsi APBN yang terukur. Ternyata, di 2020 ini Indonesia menghadapi wabah pandemi Covid19, yang bukan Cuma menghantam negara ini. Namun juga, hampir seluruh belahan bumi ini negara-negara lumpuh. (Baca juga: Jangan Hanya Kesal Pak Jokowi, PAN: Reshuffle Kabinet Jika Perlu)

Perekonomian dunia melandai bahkan menukik tajam. Sejumlah kerja sama ekonomi batal. Di dalam negeri pun kondisi sempat chaos, terutama karena tidak ada anggota kabinet yang siap dengan hantaman badai Covid-19. Tim Ekonomi yang menurut proyeksi hanya tinggal melanjutkan program-program Kabinet Indonesia Bersatu, kini nyaris lumpuh. Bahkan ada menteri yang jadi bulan-bulanan relawan karena perbedaan cara pandang menghadapi krisis.

Sementara sektor politik dan keamanan menjadi semakin terpuruk karena situasi new normal. Aksi penolakan terhadap UU Omnibus Law Cipta Lapangan Kerja seolah tidak terantisipasi. Masih ditambah lagi sejumlah kasus korupsi yang melibatkan ring-1 kekuasaan. Hingga yang terakhir penangkapan terhadap Menteri Edhy Prabowo dalam kasus dugaan suap benur lobster.
Halaman :
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Rekomendasi
Prediksi Ngeri Goldman...
Prediksi Ngeri Goldman Sachs: Harga Minyak Brent Bakal Meroket ke USD120 per Barel
9 Kementerian dan Lembaga...
9 Kementerian dan Lembaga yang Buka Pendaftaran Sekolah Kedinasan 2026, Lulus Jadi CPNS
Asal Usul Nama Surat...
Asal Usul Nama Surat Al-Baqarah: Kisah Sapi Betina yang Mengungkap Misteri Pembunuhan
Berita Terkini
Roy Suryo: Rismon Tak...
Roy Suryo: Rismon Tak Layak Jadi Saksi di Kasus Ijazah Jokowi
Menteri Dody Ungkap...
Menteri Dody Ungkap Masalah Internal Kementerian PU Sangat Serius, Bongkar Berbagai Kasus termasuk Korupsi
OTT di Lombok Barat,...
OTT di Lombok Barat, KPK Sita Barang Bukti Rp9,06 Miliar
Kemendagri Kawal Penanganan...
Kemendagri Kawal Penanganan Tuberkulosis dalam RPJMD, RKPD, hingga APBD
Sangkal Isu Reshuffle,...
Sangkal Isu Reshuffle, Mensesneg: Evaluasi Tak Selalu Berujung Pergantian Menteri
Dukungan Publik Jadi...
Dukungan Publik Jadi Kunci Kejagung Tuntaskan Kasus Febrie Adriansyah
Infografis
Politikus Muslim Mulai...
Politikus Muslim Mulai Kuasai Politik AS, Sinyal Kebangkitan Islam di Paman Sam?
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved