Layanan TBC Tak Boleh Dihentikan, Tetap Agresif Meski di Masa Pandemi
Kamis, 03 Desember 2020 - 14:43 WIB
loading...
A
A
A
Direktorat Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Menular Langsung (P2PML) Kementerian Kesehatan RI telah mengeluarkan protokol yang mengatur layanan Tuberkulosis selama fase pandemi Covid-19. Protokol Kesehatan tersebut telah didiseminasikan secara nasional, yaitu layanan TBC tidak boleh dihentikan karena jika putus berobat akan menjadi Resistan Obat dan akan menularkan kepada yang kontak, Penunjukan fasyankes rujukan sementara dan terpisah dengan fasyankes Covid-19, Penunjukkan faskes lain untuk layanan laboratorium untuk diagnosis TBC dan dilakukan penyesuaian dengan penanganan COVID-19, menggunakan teknologi digital untuk memantau pengawasan minum obat pasien TBC, mengajak dan melibatkan komunitas setempat untuk pendampingan pasien. Kemenkes menghimbau agar pengobatan TBC tetap berjalan tanpa pasien harus terlalu sering mengunjungi fasyankes.
Presiden Jokowi memberikan arahan “Pelacakan secara agresif untuk menemukan penderita TBC sehingga dapat menumpang proses pencarian untuk COVID-19, dengan melakukan contact tracing, yakni dengan Investigasi kontak dan melacak kontak erat dan dilakukan skrining gejala.”
Jokowi menambahkan layanan diagnostik maupun pengobatan TBC di saat pandemi harus tetap berlangsung dan obati sampai sembuh, stock obat-obatanpun harustetap tersedia.
Arahan lainnya dari Jokowi adalah upaya pencegahan, preventif, dan promotif untuk mengatasi TBC ini betul-betul harus lintas sektor, termasuk dari sisi infrastruktur yang harus memadai.
Sementara itu, Direktorat Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Menular Langsung (P2PML) Kementerian Kesehatan RI menjelaskan bahwa TBC bisa menyerang siapa saja, tak mengenal status sosial dan usia, dan dapat menyebar dengan sangat mudah melalui droplet. Namun TBC bisa disembuhkan, asal dengan pengobatan yang tuntas.
"TBC pun dapat di cegah dengan menerapkan Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) dengan selalu mengkonsumsi makanan bergizi seimbang, memperhatikan sirkulasi udara di rumah, olah raga teratur, pemberian vaksin BCG bagi anak dibawah 5 tahun, tidak merokok, menerapkan etika batuk-bersin yang tepat, dan mencuci tangan pakai sabun pada air yang mengalir serta memakai masker jika memang sedang batuk atau flu,” jelasnya.
Presiden Jokowi memberikan arahan “Pelacakan secara agresif untuk menemukan penderita TBC sehingga dapat menumpang proses pencarian untuk COVID-19, dengan melakukan contact tracing, yakni dengan Investigasi kontak dan melacak kontak erat dan dilakukan skrining gejala.”
Jokowi menambahkan layanan diagnostik maupun pengobatan TBC di saat pandemi harus tetap berlangsung dan obati sampai sembuh, stock obat-obatanpun harustetap tersedia.
Arahan lainnya dari Jokowi adalah upaya pencegahan, preventif, dan promotif untuk mengatasi TBC ini betul-betul harus lintas sektor, termasuk dari sisi infrastruktur yang harus memadai.
Sementara itu, Direktorat Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Menular Langsung (P2PML) Kementerian Kesehatan RI menjelaskan bahwa TBC bisa menyerang siapa saja, tak mengenal status sosial dan usia, dan dapat menyebar dengan sangat mudah melalui droplet. Namun TBC bisa disembuhkan, asal dengan pengobatan yang tuntas.
"TBC pun dapat di cegah dengan menerapkan Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) dengan selalu mengkonsumsi makanan bergizi seimbang, memperhatikan sirkulasi udara di rumah, olah raga teratur, pemberian vaksin BCG bagi anak dibawah 5 tahun, tidak merokok, menerapkan etika batuk-bersin yang tepat, dan mencuci tangan pakai sabun pada air yang mengalir serta memakai masker jika memang sedang batuk atau flu,” jelasnya.
Lihat Juga :