Puasa di Roma, Panasnya Pol, Jalanan Sampai Berasap
Senin, 11 Mei 2020 - 15:49 WIB
loading...
A
A
A
Tentu saja masjid itu juga menjadi tempat berkumpul bagi warga negara dan diaspora Indonesia di Italia yang beragama Islam. Terutama saat ibadah salat Jumat. Biasanya yang menjadi imam salat, seorang warga Maroko. “Sepengetahuan saya belum pernah ada orang Indonesia mengimami salat di masjid itu,” tutur Rusli Rudiana, staf KBRI Roma kepada SINDOnews.
Selain Masjid Agung, di sebelah selatan Roma juga terdapat sebuah masjid kecil. Sebelum wabah Covid 19 menyerang, setiap Jumat maupun waktu berbuka puasa di depan masjid selalu ramai oleh pedagang makanan. “Pada umumnya mereka berasal dari Afrika Utara. Mereka berkumpul, ngobrol-ngobrol sambal makan,” katanya. WNI di Italia terbagi dalam naungan dua perwakilan. Di KBRI Roma ada sekitar 3.000 orang, dan di Vatikan kurang lebih 1.600 orang. “Yang di Vatikan mayoritas biarawan dan biarawati,” ujar Rusli. “Selain bersekolah, mereka bekerja sosial di SD, SMP, SMA milik ordo Katolik dan rumah jompo.”
Warga Indonesia di lingkungan KBRI Roma terdiri dari beragam profesi. Ada pekerja pabrik, karyawan toko, ibu rumah tangga, hingga pelaut. Sedangkan yang di bawah KBRI Vatikan hampir semuanya bersekolah S2 dan S3 di universitas milik kepausan. Dalam kondisi normal, saat Ramadan tiba warga Indonesia berkumpul di KBRI Roma untuk melakukan iftar dan salat tarawih seminggu sekali. Hidangan disediakan oleh KBRI. Menunya tentu saja masakan khas Indonesia. “Justru menu asli Indonesia yang ditunggu dan dicari oleh mereka,“ katanya.
Waktu puasa di Eropa Selatan terbilang panjang. Azan subuh pukul 04.30 dan waktu salat magrib baru jatuh pada pukul 20.20. “Lapar sih enggak, cuma hausnya itu terasa banget,” sahutnya seraya menceritakan bulan Ramadan beberapa tahun lalu, suhu bisa mencapai 39 derajat Celcius. “Bayangkan saja, jalanan sampai berasap.” Warga Italia sendiri pada umumnya mengetahui dan terbiasa dengan kehadiran bulan Ramadan. Mereka sering berinteraksi dengan kaum pendatang dari negara-negara Afrika Utara yang mayoritas muslim
Selain Masjid Agung, di sebelah selatan Roma juga terdapat sebuah masjid kecil. Sebelum wabah Covid 19 menyerang, setiap Jumat maupun waktu berbuka puasa di depan masjid selalu ramai oleh pedagang makanan. “Pada umumnya mereka berasal dari Afrika Utara. Mereka berkumpul, ngobrol-ngobrol sambal makan,” katanya. WNI di Italia terbagi dalam naungan dua perwakilan. Di KBRI Roma ada sekitar 3.000 orang, dan di Vatikan kurang lebih 1.600 orang. “Yang di Vatikan mayoritas biarawan dan biarawati,” ujar Rusli. “Selain bersekolah, mereka bekerja sosial di SD, SMP, SMA milik ordo Katolik dan rumah jompo.”
Warga Indonesia di lingkungan KBRI Roma terdiri dari beragam profesi. Ada pekerja pabrik, karyawan toko, ibu rumah tangga, hingga pelaut. Sedangkan yang di bawah KBRI Vatikan hampir semuanya bersekolah S2 dan S3 di universitas milik kepausan. Dalam kondisi normal, saat Ramadan tiba warga Indonesia berkumpul di KBRI Roma untuk melakukan iftar dan salat tarawih seminggu sekali. Hidangan disediakan oleh KBRI. Menunya tentu saja masakan khas Indonesia. “Justru menu asli Indonesia yang ditunggu dan dicari oleh mereka,“ katanya.
Waktu puasa di Eropa Selatan terbilang panjang. Azan subuh pukul 04.30 dan waktu salat magrib baru jatuh pada pukul 20.20. “Lapar sih enggak, cuma hausnya itu terasa banget,” sahutnya seraya menceritakan bulan Ramadan beberapa tahun lalu, suhu bisa mencapai 39 derajat Celcius. “Bayangkan saja, jalanan sampai berasap.” Warga Italia sendiri pada umumnya mengetahui dan terbiasa dengan kehadiran bulan Ramadan. Mereka sering berinteraksi dengan kaum pendatang dari negara-negara Afrika Utara yang mayoritas muslim
(rza)
Lihat Juga :