Menag: Agama Sering Dipakai untuk Ciptakan Intoleransi dan Tindakan Ekstrem

loading...
Menag: Agama Sering Dipakai untuk Ciptakan Intoleransi dan Tindakan Ekstrem
Menteri Agama (Menag) Fachrul Razi menegaskan, negara-negara di seluruh dunia harus menjadikan agama sebagai landasan toleransi, perdamaian, dan kemanusiaan. Foto/SINDOnews
JAKARTA - Menteri Agama ( Menag ) Fachrul Razi menegaskan, negara-negara di seluruh dunia harus menjadikan agama sebagai landasan toleransi, perdamaian, dan kemanusiaan. Sehingga tidak ada lagi kesenjangan antar agama.

(Klik ini untuk ikuti survei SINDOnews tentang Calon Presiden 2024)

Pasalnya, kata Fachrul, agama kini sering dipakai untuk menciptakan intoleransi dan memicu ekstremisme. (Baca juga: Menag Minta Akademisi dan Kampus Jadi Garda Terdepan Dukung Wakaf Nasional)

"Seperti jamak kita ketahui, bahwa agama sering dipakai untuk menciptakan intoleransi dan memicu intoleransi dan tindakan ekstremisme lainnya," kata Menag dalam sambutannya dalam diskusi secara virtual dalam agenda Sebuah Narasi Baru Toleransi Keluarga Abrahamik dari Uni Emirat Arab, Selasa (24/11/2020).



"Bahkan kelompok-kelompok di dunia banyak yang menggunakan agama untuk menyebarkan intoleransi, kebencian dan permusuhan. Mereka bahkan mampu kerja sama antar lintas batas negara," tambah Fachrul.

(Baca juga: Terbukti, Imunisasi Berhasil Cegah Penyakit Menular)

Fachrul pun menegaskan sudah saatnya negara-negara di dunia harus melihat toleransi dan perdamaian yang lebih besar. "Sudah saatnya kita melihat toleransi dan perdamaian lebih besar dari kita sendiri, lebih besar daripada negara masing-masing," ujarnya.



"Sudah saatnya negara dan bangsa-bangsa yang menghormati agama sebagai landasan toleransi, perdamaian dan kemanusiaan. Bekerjasama, agar agama pada hakikatnya yang sejati dan terhormat. Kita tidak boleh kalah terhadap kelompok-kelompok yang justru melecehkan nilai luhur agama," tegas Fachrul.

Selain itu dalam semangat hari toleransi Internasional, Fachrul mengajak semua masyarakat untuk melihat dan belajar toleransi dari Uni Emirat Arab.

"Hari ini kita akan melihat Uni Emirat Arab, negara sahabat Indonesia dan sahabat kita semua yang walaupun kita terpisah jarak yang jauh, namun dalam komitmen toleransi beragama ternyata kita memiliki banyak kedekatan dan kesamaan," ungkapnya.

"Saatnya kita keluar dari kungkungan stereotip negatif yang ditanamkan kelompok-kelompok anti toleransi, anti perdamaian, agar kita dapat saling belajar dan bekerja sama lintas bangsa, lintas negara untuk toleransi dan perdamaian bagi dunia. Dengan demikian, agama memberikan kepada hakikatnya yang mulia, agama sebagai rahmatan lil alamin, rahmat bagi seluruh alam semesta," tegas Fachrul.
(maf)
preload video
TULIS KOMENTAR ANDA!
Top