Pandemi Covid-19, DPR Minta Pemerintah Berikan Pendampingan Psikologis Masyarakat
Senin, 11 Mei 2020 - 04:09 WIB
loading...
A
A
A
Menurutnya, meskipun hal itu merupakan kebijakan makro, namun ketidakpastian informasi yang disajikan itu dapat memberikan dampak negatif bagi masyarakat. "Karena masyarakat butuh kepastian, keyakinan, oh negaraku, pemerintahku sedang men-take over masalah ini, sedang memperhatikan, mengupayakan untuk masyarakat," tuturnya.
Selain itu, menurutnya selama ini edukasi yang diberikan pemerintah terkait pandemi ini kebanyakan hanya persoalan kesehatan, bagaimana tidak tertular penyakit dengan anjuran protokol kesehatan seperti menjaga kebersihan, memakai masker, dan menjaga jarak. namun, menurutnya belum banyak edukasi tentang psikologis.
"Beberapa waktu lalu, Fatayat bikin diskusi kajian vitual tentang dampak psikologis terkait kasus kekerasan di dalam rumah tangga akibat pandemi dimana semua harus berada di rumah, dan ternyata banyak kasus kekerasan akibat itu," tutur Ketua PP Fatayat NU ini.
Anggia mencontohkan bagaimana seorang ibu, misalnya, harus mengerjakan pekerjaan hariannya dan anaknya yang selama ini dipercayakan di sekolah untuk pendidikannya, kini menjadi tanggungan orangtua sepernuhnya, terutama ibu.
"Dia harus membersihkan rumah, memasak, HP cuma punya satu biasanya untuk hubungi anak dan suami yang kerja kalau dalam kondisi normal, sekrang semua ada di rumah, anaknya harus sekolah menggunakan HP tersebut dengan bimbingan ibunya. Apalagi jika bapaknya termasuk yang terdampak dirumahkan atau di-PHK, dan itu jumlahnya banyak, jutaan, yang tercatat hampir 2 juta," urainya.
Selain itu, menurutnya selama ini edukasi yang diberikan pemerintah terkait pandemi ini kebanyakan hanya persoalan kesehatan, bagaimana tidak tertular penyakit dengan anjuran protokol kesehatan seperti menjaga kebersihan, memakai masker, dan menjaga jarak. namun, menurutnya belum banyak edukasi tentang psikologis.
"Beberapa waktu lalu, Fatayat bikin diskusi kajian vitual tentang dampak psikologis terkait kasus kekerasan di dalam rumah tangga akibat pandemi dimana semua harus berada di rumah, dan ternyata banyak kasus kekerasan akibat itu," tutur Ketua PP Fatayat NU ini.
Anggia mencontohkan bagaimana seorang ibu, misalnya, harus mengerjakan pekerjaan hariannya dan anaknya yang selama ini dipercayakan di sekolah untuk pendidikannya, kini menjadi tanggungan orangtua sepernuhnya, terutama ibu.
"Dia harus membersihkan rumah, memasak, HP cuma punya satu biasanya untuk hubungi anak dan suami yang kerja kalau dalam kondisi normal, sekrang semua ada di rumah, anaknya harus sekolah menggunakan HP tersebut dengan bimbingan ibunya. Apalagi jika bapaknya termasuk yang terdampak dirumahkan atau di-PHK, dan itu jumlahnya banyak, jutaan, yang tercatat hampir 2 juta," urainya.
Lihat Juga :