Ini Kriteria Kapolri Ideal, Jokowi Diingatkan Jangan Salah Pilih
Kamis, 12 November 2020 - 15:34 WIB
loading...
A
A
A
"Kalau dibilang tidak ada kepentingan pribadi enggak ada, kan enggak mungkin. Mudah-mudahan orang yang sudah hampir selesai dengan dirinya. Tidak ada beban anak, keluarga dari pihak dia, keluarga dari isterinya," tuturnya.
(Baca juga : Lebih Sering Gunakan Masker, Risiko Terinfeksi Covid-19 Berkurang )
Politikus berlatar belakang pengacara ini mengatakan, Kapolri ke depan harus sosok eksekutor dan memperhatikan angkatan. Sebab, menurut Trimedya, untuk membenahi institusi Polri, salah satu hal yang harus diperhatikan adalah bagaimana regenerasi terjadi.
"Bagaimana mulai rekrutmen, promosi, mutasi itu terjadi. Jangan sampai seperti keluhan Pak Idham kemarin, menumpuk di kolonel, jenderalnya juga defisit. Kapolri harus orang yang mau telaten membenahi dari mulai rekrutmen itu. Semua itu kan sangat tergantung dari mulai rekrutmen. Kalau rekrutmennya baik pasti hasilnya baik," tuturnya. (Baca juga: Gatot Nurmantyo Tak Datang ke Istana: Jaga Jarak atau Cari Simpati Publik? )
Kriteria berikutnya, menurut Trimedya, yaitu bagaimana Polri ke depan bisa lebih mengedepankan fungsi pengayoman masyarakat, bukan fungsi penegakan hukum.
"Polisi ini sekarang kan heavy-nya penegakan hukum. Seharusnya yang lebih dikedepankan adalah memelihara ketertiban umum, memberikan rasa aman kepada masyarakat, baru penegakan hukum," katanya.
Karena itu, kata Trimedya, Kapolri yang akan datang harus bisa membenahi Bhabinkamtibmas sehingga bisa melakukan deteksi dini, termasuk mendeteksi potensi teroris, kenakalan remaja, penyalahgunaan narkoba, penyimpangan-penyimpangan dalam berbagai proyek pembangunan, dan lainnya.
"Sekarang ini Bhabinkamtibmas menurut saya agak lemah karena tidak banyak perhatian. Misalnya yang harus diperhatikan Bhabinkamtibmas itu adalah alat komunikasi, kendaraan, honor, dan lainnya. Kalau itu diperhatikan berkolaborasi dengan Babinsa maka kuat deteksi dininya dan ada rasa aman. Nah ke sana harus punya pikiran," urainya.
(Baca juga : Lebih Sering Gunakan Masker, Risiko Terinfeksi Covid-19 Berkurang )
Politikus berlatar belakang pengacara ini mengatakan, Kapolri ke depan harus sosok eksekutor dan memperhatikan angkatan. Sebab, menurut Trimedya, untuk membenahi institusi Polri, salah satu hal yang harus diperhatikan adalah bagaimana regenerasi terjadi.
"Bagaimana mulai rekrutmen, promosi, mutasi itu terjadi. Jangan sampai seperti keluhan Pak Idham kemarin, menumpuk di kolonel, jenderalnya juga defisit. Kapolri harus orang yang mau telaten membenahi dari mulai rekrutmen itu. Semua itu kan sangat tergantung dari mulai rekrutmen. Kalau rekrutmennya baik pasti hasilnya baik," tuturnya. (Baca juga: Gatot Nurmantyo Tak Datang ke Istana: Jaga Jarak atau Cari Simpati Publik? )
Kriteria berikutnya, menurut Trimedya, yaitu bagaimana Polri ke depan bisa lebih mengedepankan fungsi pengayoman masyarakat, bukan fungsi penegakan hukum.
"Polisi ini sekarang kan heavy-nya penegakan hukum. Seharusnya yang lebih dikedepankan adalah memelihara ketertiban umum, memberikan rasa aman kepada masyarakat, baru penegakan hukum," katanya.
Karena itu, kata Trimedya, Kapolri yang akan datang harus bisa membenahi Bhabinkamtibmas sehingga bisa melakukan deteksi dini, termasuk mendeteksi potensi teroris, kenakalan remaja, penyalahgunaan narkoba, penyimpangan-penyimpangan dalam berbagai proyek pembangunan, dan lainnya.
"Sekarang ini Bhabinkamtibmas menurut saya agak lemah karena tidak banyak perhatian. Misalnya yang harus diperhatikan Bhabinkamtibmas itu adalah alat komunikasi, kendaraan, honor, dan lainnya. Kalau itu diperhatikan berkolaborasi dengan Babinsa maka kuat deteksi dininya dan ada rasa aman. Nah ke sana harus punya pikiran," urainya.
Lihat Juga :