Ray Rangkuti: Komunikasi Kabinet Jokowi Periode II Memang Buruk
Jum'at, 23 Oktober 2020 - 13:16 WIB
loading...
Direktur Eksekutif LIMA Ray Rangkuti mengakui komunikasi kabinet Jokowi di periode kedua secara umum memang buruk. Foto/dok.SINDOnews
A
A
A
JAKARTA - Presiden Jokowi menyebut komunikasi publik bawahannya buruk. Ini bisa dilihat dari simpang siurnya informasi soal kebijakan pemerintah yang diterima masyarakat. Direktur Eksekutif Lingkar Madani untuk Indonesia (LIMA) Ray Rangkuti mengakui secara umum komunikasi kabinet pemerintahan Jokowi di periode kedua ini memang buruk. Selain tidak jelas siapa yang menangani apa, kabinet Jokowi tidak memiliki strategi komunikasi, dan target yang dituju, dan cara yang dipakai.
Ray melihat buruknya komunikasi kabinet Jokowi ini sudah tampak pada fase awal pandemi Covid-19. Bahkan sampai kini komunikasi soal pandemi belum sepenuhnya berlangsung baik. Sekalipun begitu, dalam berbagai survei, tingkat kepuasan masyarakat terhadap pemerintahan Jokowi dalam hal penanganan Covid-19 tetap tinggi.
(Baca juga : Tertarik Beasiswa Pendidikan Kursus Bahasa Turki, Segera Daftar di Sini )
Artinya masalahnya bukan semata-mata komunikasi tetapi apa yang sebenarnya yang dirasakan masyarakat di dalam kenyataan. Inilah yang paling menentukan. ”Bisa saja komunikasinya buruk, tapi penanganannya baik tetap akan menimbulkan tingkat kepuasan yang tinggi,” ujarnya saat dihubungi SINDOnews, Jumat (23/10/2020).
(Baca: KSP Diminta Bangun Komunikasi Publik yang Dialogis)
Sebaliknya, lanjut Ray, penanganannya buruk tapi komunikasinya baik yang dirasa publik tetap saja sesuatu yang buruk. "Saya kira situasi inilah yang sebetulnya tengah dihadapi anggota kabinet Pak Jokowi," ujar Ray.
Ray menilai pada tingkat tertentu usaha komunikasi pemerintah mungkin sudah cukup baik. Sayangnya, kebijakan pemerintah secara umum berlangsung tidak baik sehingga hasilnya negatif. Sebut saja omnibus lawa UU Cipta Kerja.
Ray melihat buruknya komunikasi kabinet Jokowi ini sudah tampak pada fase awal pandemi Covid-19. Bahkan sampai kini komunikasi soal pandemi belum sepenuhnya berlangsung baik. Sekalipun begitu, dalam berbagai survei, tingkat kepuasan masyarakat terhadap pemerintahan Jokowi dalam hal penanganan Covid-19 tetap tinggi.
(Baca juga : Tertarik Beasiswa Pendidikan Kursus Bahasa Turki, Segera Daftar di Sini )
Artinya masalahnya bukan semata-mata komunikasi tetapi apa yang sebenarnya yang dirasakan masyarakat di dalam kenyataan. Inilah yang paling menentukan. ”Bisa saja komunikasinya buruk, tapi penanganannya baik tetap akan menimbulkan tingkat kepuasan yang tinggi,” ujarnya saat dihubungi SINDOnews, Jumat (23/10/2020).
(Baca: KSP Diminta Bangun Komunikasi Publik yang Dialogis)
Sebaliknya, lanjut Ray, penanganannya buruk tapi komunikasinya baik yang dirasa publik tetap saja sesuatu yang buruk. "Saya kira situasi inilah yang sebetulnya tengah dihadapi anggota kabinet Pak Jokowi," ujar Ray.
Ray menilai pada tingkat tertentu usaha komunikasi pemerintah mungkin sudah cukup baik. Sayangnya, kebijakan pemerintah secara umum berlangsung tidak baik sehingga hasilnya negatif. Sebut saja omnibus lawa UU Cipta Kerja.
Lihat Juga :