Menristek Ungkap 61 Inovasi Dikembangkan untuk Tangani Corona
Selasa, 20 Oktober 2020 - 17:32 WIB
loading...
A
A
A
Produk lainnya yang sudah diproduksi yaitu PCR test kit yang digunakan untuk pengujian sampel swab dengan mesin PCR. Produksinya saat ini sudah mencapai satu juta unit per bulan. "Diperkirakan akan meningkat menuju 2 juta per bulan. Kami sudah kerja sama dengan PT Bio Farma," terang dia.
Kemudian, terkait pengembangan akurasi tes cepat atau deteksi Covid-19, saat ini sedang dilakukan uji validasi tahap II terhadap GeNose yang merupakan alat skrining buatan Universitas Gadjah Mada (UGM). Inovasi tersebut disinyalir bisa mendeteksi virus SARS Cov-2 dengan dari hembusan nafas.
"Ini inovasi yang luar biasa karena bisa mendeteksi virus Covid-19 secara akurat. Di dalam uji validasi tahap pertama, akurasinya mencapai 97 persen dibandingkan PCR yang merupakan gold standard. Tes ini juga relatif murah, harganya Rp40 juta per alat tetapi bisa digunakan sampai 100 ribu pengujian," ujarnya.
Pengujian menggunakan GeNose dinilai lebih baik dan tidak invasif. Jauh berbeda ketimbang rapid test yang membutuhkan sampel darah dan swab test yang menggunakan carian air liur. Di sisi lain, sistem kerja mesin GeNose juga memanfaatkan teknologi artificial intelligence (AI) sehingga mesinnya semakin banyak bisa menguji sampel dengan tingkat akurasi yang tinggi.
Selain itu, Bambang mengatakan pemerintah juga akan mengembangkan rapid test berbasis antigen atau rapid swab test. Saat ini menggunakan teknologi RT Lamp yang dikembangkan oleh LIPI.
"Kita berupaya menjelang akhir tahun, baik GeNose maupun RT Lamp ini sudah bisa diproduksi dan dipakai secara luas. Ini juga akan membantu mengurangi beban biaya, terutama untuk PCR test dan punya tingkat akurasi yang cukup tinggi dan juga tidak memerlukan laboratorium BSL-2 seperti halnya pengujian PCR. Namun tentunya untuk testing tetap dibutuhkan PCR test sebagai gold standard," imbuhnya.
Kemudian, terkait pengembangan akurasi tes cepat atau deteksi Covid-19, saat ini sedang dilakukan uji validasi tahap II terhadap GeNose yang merupakan alat skrining buatan Universitas Gadjah Mada (UGM). Inovasi tersebut disinyalir bisa mendeteksi virus SARS Cov-2 dengan dari hembusan nafas.
"Ini inovasi yang luar biasa karena bisa mendeteksi virus Covid-19 secara akurat. Di dalam uji validasi tahap pertama, akurasinya mencapai 97 persen dibandingkan PCR yang merupakan gold standard. Tes ini juga relatif murah, harganya Rp40 juta per alat tetapi bisa digunakan sampai 100 ribu pengujian," ujarnya.
Pengujian menggunakan GeNose dinilai lebih baik dan tidak invasif. Jauh berbeda ketimbang rapid test yang membutuhkan sampel darah dan swab test yang menggunakan carian air liur. Di sisi lain, sistem kerja mesin GeNose juga memanfaatkan teknologi artificial intelligence (AI) sehingga mesinnya semakin banyak bisa menguji sampel dengan tingkat akurasi yang tinggi.
Selain itu, Bambang mengatakan pemerintah juga akan mengembangkan rapid test berbasis antigen atau rapid swab test. Saat ini menggunakan teknologi RT Lamp yang dikembangkan oleh LIPI.
"Kita berupaya menjelang akhir tahun, baik GeNose maupun RT Lamp ini sudah bisa diproduksi dan dipakai secara luas. Ini juga akan membantu mengurangi beban biaya, terutama untuk PCR test dan punya tingkat akurasi yang cukup tinggi dan juga tidak memerlukan laboratorium BSL-2 seperti halnya pengujian PCR. Namun tentunya untuk testing tetap dibutuhkan PCR test sebagai gold standard," imbuhnya.
Lihat Juga :