IPW: KAMI Sudah Diincar, Bukan Mustahil Berikutnya Gatot Nurmantyo

Kamis, 15 Oktober 2020 - 07:59 WIB
loading...
IPW: KAMI Sudah Diincar,...
Ketua Presidium IPW Neta S Pane mengatakan sangat mungkin Gatot Nurmantyo juga bakal ditangkap seperti aktivis KAMI lain. Foto/dok.SINDOnews
A A A
JAKARTA - Ketua Presidium Indonesia Police Watch (IPW) Neta S Pane menyatakan, penangkapan petinggi Koalisi Aksi Menyelamatkan Indonesia (KAMI) adalah penangkapan aktivis kritis kelima kalinya selama pemerintahan Jokowi. Hal itu dikatakan Neta menanggapi penangkapan terhadap Syahganda Nainggolan dkk.

Neta menuturkan, empat penangkapan terhadap para aktivis dengan tuduhan makar sebelumnya kasusnya tidak dilanjutkan ke pengadilan. "Padahal tuduhannya sangat serius, yakni makar. Tapi kok tidak lanjut ke pengadilan?" kata Neta saat dihubungi SINDOnews, Kamis (15/10/2020).

(Baca juga : Gatot Nurmantyo Kembali Tegaskan 100 Persen KAMI Tidak Akan Menjadi Parpol )

Neta menduga kasus tersebut tak dilanjutkan karena rezim saat ini tidak yakin dengan tuduhan makar tersebut. Karena itu, setelah ditahan beberapa minggu, para aktivis kritis tersebut dibebaskan semuanya.

"Jadi tiga penangkapan terdahulu yang dilakukan rezim Jokowi hanyalah sekadar terapi kejut buat para aktivis kritis dan proses demokrasi. Bagaimana dengan penangkapan Syahganda dkk atau para petinggi KAMI? Semua itu tak lain juga sekadar terapi kejut untuk para pengikut KAMI," tutur dia.

(Baca: Petinggi KAMI Ditangkap, Kemunculan Gatot Penting untuk Dukungan Moral)

Neta menilai, sejak semula rezim Jokowi sudah mengincar pergerakan KAMI, yang dianggap cenderung menjengkelkan. Berbagai aksi penolakan di berbagai daerah sudah dilakukan tapi aktivis KAMI tetap saja "bandel" bermanuver. Untuk menangkap mereka, polisi tidak ada alasan kuat.

"”Tiba-tiba melakukan penangkapan pasti akan ramai-ramai dikecam publik. Sehingga pas ada momentum aksi demo menolak UU Cipta Kerja, penangkapan pun dilakukan," ujar dia.

(Baca juga : Loyo Banget! Kredit Bank Tahun Ini Hanya Sanggup Tumbuh 2,5% )

Penangkapan Syahganda Nainggolan dkk dilakukan ketika aksi demonstrasi menolak UU Cipta Kerja marak di berbagai daerah. Menurut Neta, penangkapan para aktivis sebelumnya dilakukan pada momentumyang sama. ”Penangkapan ini sama seperti dilakukan terhadap Hatta Taliwang dkk maupun Eggi Sudjana saat akan terjadinya aksi demonstrasi besar di periode pertama pemerintahan Jokowi,” ujar dia.

Neta mengatakan setidaknya ada tiga tujuan penangkapan Syahganda dkk. Pertama, untuk mengalihkan konsentrasi buruh dalam melakukan aksi demo dan menolak UU Ciptaker. Kedua, memberi terapi kejut bagi KAMI dan jaringannya agar tidak melakukan aksi-aksi yang "menjengkelkan" rejim Jokowi. Ketiga, menguji nyali Gatot Nurmantyo sebagai tokoh KAMI apakah dia akan berjuang keras membebaskan Syahganda dkk atau tidak.

"Jika terus bermanuver bukan mustahil Gatot akan diciduk rejim, sama seperti rezim menciduk sejumlah purnawirawan di awal Jokowi berkuasa di periode kedua kekuasaannya sebagai presiden," ucapnya.

(Baca: Belum Muncul Pasca Penangkapan Aktivis KAMI, Gatot Siapkan Strategi?)

Lebih lanjut Neta mengatakan, jika melihat tuduhan yang dikenakan kepada Syahganda dkk, tuduhan itu adalah tuduhan ecek-ecek dan sangat lemah serta sangat sulit dibuktikan. Sehingga IPW melihat kasus Syahganda Cs ini lebih kental nuansa politisnya. Sasarannya bukan untuk mencegah aksi penolakan terhadap UU Cipta Kerja tetapi manuver untuk menguji nyali Gatot Nurmantyo.

"Sehingga pada ujungnya nanti Syahganda Cs diperkirakan akan dibebaskan dan kasusnya tidak sampai ke pengadilan seperti empat kasus makar terdahulu, terutama kasus Hatta Taliwang cs," pungkas dia.

(muh)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Berita Terkait
Ryamizard Ryacudu di...
Ryamizard Ryacudu di Mata Gatot Nurmantyo dan Hadi Tjahjanto
IPW Sebut Masyarakat...
IPW Sebut Masyarakat Ingin Kompolnas Independen, Sama Seperti Komnas HAM
Sugeng Teguh Santoso...
Sugeng Teguh Santoso Kena Ulti Refly Harun: Anda Ngomong Seolah Police Watch ternyata PSI
Lebih Bahaya dari Korupsi,...
Lebih Bahaya dari Korupsi, IPW Ajak Masyarakat Bantu Polri Berantas Narkoba
Singgung Maju Mundur...
Singgung Maju Mundur Komite Reformasi Polri, Gatot Nurmantyo Bicara Mafia
Soal Bursa Calon Kapolri,...
Soal Bursa Calon Kapolri, IPW: Itu Hak Prerogatif Presiden, Polri Harus Solid
Pelajar Dianiaya hingga...
Pelajar Dianiaya hingga Tewas, IPW: Brimob Tidak Cocok Dihadapkan dengan Warga Sipil
Adu Pendidikan Gatot...
Adu Pendidikan Gatot Nurmantyo vs Mahfud MD, 2 Nama Kuat Calon Menko Polkam
Adu Pendidikan Gatot...
Adu Pendidikan Gatot Nurmantyo vs Mahfud MD, Calon Menko Polkam
Rekomendasi
1.022 Bayi Termasuk...
1.022 Bayi Termasuk dari 21.500 Anak yang Tewas Selama Genosida 1.000 Hari di Gaza
Inggris vs Meksiko Terancam...
Inggris vs Meksiko Terancam Ditunda akibat Badai Petir
Gen Z Berekspresi, 510...
Gen Z Berekspresi, 510 STUDIOS Bawa Tren Self-Photo ke Lampung Selatan
Berita Terkini
PDIP: Tingginya Biaya...
PDIP: Tingginya Biaya Politik Tuntas dengan Perbaikan Regulasi, Bukan Pilkada Tak Langsung
Diperiksa Kemendagri...
Diperiksa Kemendagri 8 Jam soal Konten Lagunya, Bupati Purwakarta Minta Maaf dan Akui Salah
KPK Tetapkan Bupati...
KPK Tetapkan Bupati Langkat Tersangka Kasus Dugaan Suap
Tingginya Kasus Kanker...
Tingginya Kasus Kanker Paru: Tantangan Skrining, Diagnosis, hingga Akses Terapi
Andi Azwan: Sikap Roy...
Andi Azwan: Sikap Roy Suryo Tempuh Praperadilan Tindakan Pengecut
Tegaskan MBG Lanjut...
Tegaskan MBG Lanjut Terus, Hashim: Tak Berhenti sampai Berhasil
Infografis
10 Radar Militer Terbaik...
10 Radar Militer Terbaik di Dunia, Sudah Teruji di Medan Perang
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved