Tak Efektif, GP Ansor Desak Vendor Pelatihan Kartu Prakerja Dihapus
Rabu, 15 April 2020 - 16:38 WIB
loading...
Ketua Umum Pimpinan Gerakan Pemuda Ansor Yaqut Cholil Qoumas menilai stimulus yang diberikan melalui Kartu Prakerja dalam bentuk pelatihan online tidak tepat. Foto/SINDOnews
A
A
A
JAKARTA - Gerakan Pemuda (GP) Ansor mengapresiasi langkah pemerintah memberikan stimulus bagi masyarakat akibat pandemi Corona, salah satunya melalui Kartu Prakerja yang menyedot anggaran mencapai Rp20 triliun.
Namun begitu, Ketua Umum Pimpinan Gerakan Pemuda Ansor Yaqut Cholil Qoumas menilai stimulus yang diberikan melalui Kartu Prakerja dalam bentuk pelatihan online tidak tepat.
Pasalnya, yang dibutuhkan rakyat, termasuk yang kehilangan pekerjaan, adalah bantuan yang dapat membuat mereka bertahan hidup akibat pandemi Corona yang belum ketahuan kapan berakhirnya. “Kita juga tahu, selama ini pelatihan-pelatihan semacam itu tidak efektif dan malah terkesan buang-buang anggaran saja. Rakyat dan karyawawan yang kehilangan pekerjaan saat ini butuh bantuan untuk hidup, bahan makanan, bukan pelatihan online,” ujar Gus Yaqut, sapaan akrabnya.
Gus Yaqut membayangkan, jika jumlah peserta 5,6 juta orang dan membutuhkan biaya pelatihan Rp 1 juta, maka anggaran yang diperlukan mencapai Rp5,6 triliun. “Ini malah anggarannya mencapai Rp20 triliun. Itu anggaran besar sekali. Uang itu akan bermanfaat kalau seandainya diberikan untuk membantu rakyat bertahan hidup selama masa pandemi seperti bantuan sembako atau uang tunai. Ini malah diberikan kepada lembaga training online. Yang menikmati siapa kalau begitu, rakyat atau perusahaan aplikasi training online?” tanyanya.
Gus Yaqut mengatakan, penerima pelatihan online itu rata-rata orang yang telah memiliki skill. “Setelah pelatihan apa lantas mereka dapat kerja, sedangkan kesulitan hidup itu nyata akan mereka hadapi. Rakyat justru butuh bantuan untuk bertahan hidup. Jadi, yang mendesak dibutuhkan bukan pelatihan atau pembinaan, tapi bantuan yang langsung dirasakan rakyat,” ucapnya.
Namun begitu, Ketua Umum Pimpinan Gerakan Pemuda Ansor Yaqut Cholil Qoumas menilai stimulus yang diberikan melalui Kartu Prakerja dalam bentuk pelatihan online tidak tepat.
Pasalnya, yang dibutuhkan rakyat, termasuk yang kehilangan pekerjaan, adalah bantuan yang dapat membuat mereka bertahan hidup akibat pandemi Corona yang belum ketahuan kapan berakhirnya. “Kita juga tahu, selama ini pelatihan-pelatihan semacam itu tidak efektif dan malah terkesan buang-buang anggaran saja. Rakyat dan karyawawan yang kehilangan pekerjaan saat ini butuh bantuan untuk hidup, bahan makanan, bukan pelatihan online,” ujar Gus Yaqut, sapaan akrabnya.
Gus Yaqut membayangkan, jika jumlah peserta 5,6 juta orang dan membutuhkan biaya pelatihan Rp 1 juta, maka anggaran yang diperlukan mencapai Rp5,6 triliun. “Ini malah anggarannya mencapai Rp20 triliun. Itu anggaran besar sekali. Uang itu akan bermanfaat kalau seandainya diberikan untuk membantu rakyat bertahan hidup selama masa pandemi seperti bantuan sembako atau uang tunai. Ini malah diberikan kepada lembaga training online. Yang menikmati siapa kalau begitu, rakyat atau perusahaan aplikasi training online?” tanyanya.
Gus Yaqut mengatakan, penerima pelatihan online itu rata-rata orang yang telah memiliki skill. “Setelah pelatihan apa lantas mereka dapat kerja, sedangkan kesulitan hidup itu nyata akan mereka hadapi. Rakyat justru butuh bantuan untuk bertahan hidup. Jadi, yang mendesak dibutuhkan bukan pelatihan atau pembinaan, tapi bantuan yang langsung dirasakan rakyat,” ucapnya.
Lihat Juga :