Tokoh Publik Harus Beri Contoh, Hindari Aksi Provokasi
Sabtu, 10 Oktober 2020 - 00:30 WIB
loading...
A
A
A
”Biasanya masyarakat diajak untuk melakukan pembangkangan sosial, pembangkangan terhadap negara, tidak percaya, tidak patuh. Dalam konteks radikal itu termasuk tidak percaya kepada pemerintah, pemerintah ini disebut thogut dan segala macam,” ungkap Hamdi.(Baca juga: 3 Hari Demo Anarkistis Tolak UU Cipta Kerja di Bandung, Polisi Amankan 429 Orang )
Dia mengungkapkan, dahulu yang paling sering digaungkan untuk provokasi adalah banjirnya tenaga kerja asing (TKA) Cina di Indonesia, seperti tuduhan yang pernah terjadi terhadap upaya menggali terowongan gelap di dekat Halim, yang mana sebetulya itu adalah pekerja konstruksi kereta cepat.
”Tapi hal ini kemudian dipelintir yang ujung-ujungnya mengajak masyarakat tidak mempercayai pemerintah. Atau nanti bisa juga bilang ’ini yang bikin kita sengsara, kelakuan orang-orang kafir, orang-orang cina, kristen, yahudi’ ujung-ujungnya nanti bisa mengarah ke persekui,” tutur Hamdi.
Oleh karena itu, kata dia, masyarakat harus disadarkan, diajak untuk berpikir cerdas agar tidak cepat percaya hoaks. Tidak cepat percaya teori-teori konspirasi.(Baca juga: Sri Mulyani Bongkar Ambisi Besar Dibalik Pengesahan UU Cipta Kerja )
Dia mengingatkan pentingnya mengecek dulu kebenaran berita-berita yang ada. Dengan teknologi sekarang, hal tersebut bisa dilakukan dengan mudah. ”Bisa saja itu diedit sedikit-sedikit kemudian dimasukkan ke grup WA, ke sosmed,” kata Guru Besar Fakultas Psikologi Universitas Indonesia itu.
Dia mengungkapkan, dahulu yang paling sering digaungkan untuk provokasi adalah banjirnya tenaga kerja asing (TKA) Cina di Indonesia, seperti tuduhan yang pernah terjadi terhadap upaya menggali terowongan gelap di dekat Halim, yang mana sebetulya itu adalah pekerja konstruksi kereta cepat.
”Tapi hal ini kemudian dipelintir yang ujung-ujungnya mengajak masyarakat tidak mempercayai pemerintah. Atau nanti bisa juga bilang ’ini yang bikin kita sengsara, kelakuan orang-orang kafir, orang-orang cina, kristen, yahudi’ ujung-ujungnya nanti bisa mengarah ke persekui,” tutur Hamdi.
Oleh karena itu, kata dia, masyarakat harus disadarkan, diajak untuk berpikir cerdas agar tidak cepat percaya hoaks. Tidak cepat percaya teori-teori konspirasi.(Baca juga: Sri Mulyani Bongkar Ambisi Besar Dibalik Pengesahan UU Cipta Kerja )
Dia mengingatkan pentingnya mengecek dulu kebenaran berita-berita yang ada. Dengan teknologi sekarang, hal tersebut bisa dilakukan dengan mudah. ”Bisa saja itu diedit sedikit-sedikit kemudian dimasukkan ke grup WA, ke sosmed,” kata Guru Besar Fakultas Psikologi Universitas Indonesia itu.
Lihat Juga :