Tengku Zul: Komunis Tidak Mati dan Tidak Mungkin Terima Pancasila
Kamis, 01 Oktober 2020 - 09:37 WIB
loading...
A
A
A
Tengku Zulkarnain mengatkan PKI pimpinan Muso juga telah menikam bangsa ini dengan memproklamirkan Republik Rusia Raya pada 1948 atau tiga tahun setelah Indonesia Merdeka. "Kemudian dibasmi habis, mati tuh orang-orangnya. Ada sebagian melarikan diri ke luar negeri ke Sovyet atau kemana, tetapi matikah di logo komunis itu? Tidk mati ideologi itu. Hidup saja, terus hidup di bawah-bawah, " tuturnya.
Tiga tahun baru Indonesia merdeka, lanjut dia, baru mau menghadapi agresi militer Belanda, Muso memproklamasikan Republik Rusia Raya, menikam kita dari belakang. Kemudian dibasmi habis, mati tuh orang-orangnya. Ada sebagian melarikan diri ke luar negeri ke Sovyet atau kemana, tetapi matikah di logo komunis itu? Tidk mati ideologi itu. Hidup saja, terus hidup di bawah-bawah," tuturnya.
Pada tahun 1952, tutur dia, datang anak-anak muda komunis, yakni DN Aidit, Nyoto dan lainnya datang bertemu Bung Karno di Pegangsaan Timur 56. "Nah kemudian malam itu diterima DN Aidit dan kawan-kawan ngobrol. Setelah ngobrol, ngobrol, ngobrol, Bung Karno berubah. Kenapa? karena memang dasar pemikiran Bung Karno itu, komponen bangsa itu harus nasional, relijius dan yang ketiga adalah komunis," tuturnya.
Akhirnya apa yang terjadi, kata dia, komunis ini diterima lagi oleh Bung Karno setelah memberontak tahun 1948. Lalu pada pemilu 1955, PKI baru yang afiliasinya sudah ke China dan menjadi pemenang ke-4.
"Kemudian Bung Karno memasukan mereka ke dalam kabinet. Ini pengkhianat (PKI-red) bangsa tahun 1948 ini dimasukan Bung Karno sebagai menteri, menyebabkan Mohammad Hatta menarik diri dari jabatan Wakil Presiden. Hatta tidak mau kerja sama dengan komunis. Lebih memilih menjadi seorang dosen di UGM. Jadilah Presiden Bung Karno, Presiden seorang diri tanpa wakil," tuturnya.
Tiga tahun baru Indonesia merdeka, lanjut dia, baru mau menghadapi agresi militer Belanda, Muso memproklamasikan Republik Rusia Raya, menikam kita dari belakang. Kemudian dibasmi habis, mati tuh orang-orangnya. Ada sebagian melarikan diri ke luar negeri ke Sovyet atau kemana, tetapi matikah di logo komunis itu? Tidk mati ideologi itu. Hidup saja, terus hidup di bawah-bawah," tuturnya.
Pada tahun 1952, tutur dia, datang anak-anak muda komunis, yakni DN Aidit, Nyoto dan lainnya datang bertemu Bung Karno di Pegangsaan Timur 56. "Nah kemudian malam itu diterima DN Aidit dan kawan-kawan ngobrol. Setelah ngobrol, ngobrol, ngobrol, Bung Karno berubah. Kenapa? karena memang dasar pemikiran Bung Karno itu, komponen bangsa itu harus nasional, relijius dan yang ketiga adalah komunis," tuturnya.
Akhirnya apa yang terjadi, kata dia, komunis ini diterima lagi oleh Bung Karno setelah memberontak tahun 1948. Lalu pada pemilu 1955, PKI baru yang afiliasinya sudah ke China dan menjadi pemenang ke-4.
"Kemudian Bung Karno memasukan mereka ke dalam kabinet. Ini pengkhianat (PKI-red) bangsa tahun 1948 ini dimasukan Bung Karno sebagai menteri, menyebabkan Mohammad Hatta menarik diri dari jabatan Wakil Presiden. Hatta tidak mau kerja sama dengan komunis. Lebih memilih menjadi seorang dosen di UGM. Jadilah Presiden Bung Karno, Presiden seorang diri tanpa wakil," tuturnya.
(dam)
Lihat Juga :