Pakar Epidemiologi Tak Yakin Protokol Kesehatan Dipatuhi di Pilkada

Kamis, 01 Oktober 2020 - 08:47 WIB
loading...
Pakar Epidemiologi Tak...
Pakar Epidemiologi UI Pandu Riono mengkritik sejumlah langkah pemerintah dalam menangani pandemi Covid-19. Foto/SINDOnews/Kiswondari
A A A
JAKARTA - Pakar Epidemiologi Universitas Indonesia (UI) Pandu Riono mengkritik sejumlah langkah pemerintah dalam menangani pandemi Covid-19 . Pemerintah kerap berganti-ganti strategi dan tim yang menangani, mulai dari Satgas Percepatan Penanganan Covid-19, Komite Pemulihan Ekonomi Nasional, hingga dipegang menteri yang bukan bidangnya.

(Baca juga: 715 Paslon Cakada Ditetapkan KPU Bertarung di Pilkada 2020)

Langkah pemerintah saat ini paling dikritik adalah tetap melanjutkan pemilihan kepala daerah (pilkada) serentak di 270 daerah. Padahal, sejumlah tokoh nasional, ahli kesehatan, dan ormas, seperti Muhammadiyah dan Nahdlatul Ulama (NU) sudah meminta agar pilkada ini ditunda.

(Baca juga: Mendagri Ingatkan Paslon dan Timses Tak Lakukan Kampanye Hitam di Pilkada)

Mereka semua khawatir pilkada menjadi klaster baru penyebaran virus Sars Cov-II. Alasannya, jumlah orang terpapar kian hari kian banyak. Pandu menerangkan pilihan narasi dari pemerintah yang menyatakan pilkada tetap dilanjutkan karena pandemi Covid-19 tidak diketahui kapan berakhirnya itu sulit untuk dibantah.

Menurutnya, beda jika narasinya menyatakan pilkada kemungkinan ditunda karena pandemi Covid-19 belum berhasil dikendalikan. Dia menegaskan ada perbedaan antara terkendali dan berakhir.

"Kalau berakhir itu lama, bisa lima tahun. Kalau terkendali kasusnya menurun. Upaya pencegahan yang kita lakukan berhasil walaupun orang harus pakai masker, mencuci tangan, dan menjaga jarak," ujarnya dalam diskusi daring “Pilkada Berkualitas Dengan Protokol Kesehatan: Utopia atau Realita?”, Rabu (30/9/2020).

Pandu menjelaskan jika 85 persen masyarakat Indonesia patuh menjalankan protokol kesehatan, pandemi ini akan terkendali. Semua orang bisa beraktivitas tanpa khawatir tertular virus Sars Cov-II.

"Kita bisa melaksanakan pilkada dengan tenang dan berkualitas. Bukan arak-arakan. Kemudian partisipasi tinggi. Bagaimana bisa mengharapkan partisipasi masyarakat kalau khawatir keluar rumah," tuturnya.

Dia memaparkan salah satu cara yang efektif menekan penyebaran virus Sars Cov-II adalah pembatasan sosial berskala besar (PSBB) secara nasional. Pandemi ini tidak mengenal batas administrasi antardaerah dan kepulauan. Virus akan mengikuti gerak penduduk.

"Mobilitas penduduk tidak dibatasi, yang terjadi di semua wilayah terjadi peningkatan. Ketika ada dua liburan panjang masyarakat bergerak wisata. Di Bali itu selesai liburan setelah dibuka untuk domestik itu meningkat terus," terangnya.

Hal seperti dikhawatirkan terjadi dalam pilkada karena pergerakan dan kerumunan orang sering terjadi. Penyelenggara pilkada dibantu aparat keamanan memang sudah menyatakan akan menindak tegas jika ada pelanggaran protokol kesehatan.

Pandu tidak yakin peserta pilkada akan mematuhi secara maksimal protokol kesehatan. "Yang objektif bukan mencari kesehatan. Yang objektif itu mencari kemenangan. Untuk kemenangan itu semua cara. Itulah situasi politik Indonesia," pungkasnya.
(maf)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Rekomendasi
Baskara Putra Raih Penghargaan...
Baskara Putra Raih Penghargaan Musik Bergengsi di Jepang Lewat Lagu 'everything u are'
Ratusan Kepsek di Sulsel...
Ratusan Kepsek di Sulsel Mundur Buntut Temuan BPK Terkait Dana BOS, DPR Dorong Evaluasi
Sambut Libur Sekolah,...
Sambut Libur Sekolah, ASDP Perkuat Layanan dan Keselamatan Penyeberangan
Berita Terkini
PKB Jabar Fest, Gus...
PKB Jabar Fest, Gus Muhaimin: Kita Tak Butuh Pemimpin Pencitraan
Denny JA Sebut Algoritma...
Denny JA Sebut Algoritma Lahirkan Kelas Baru Pekerja Digital yang Rentan
Sikapi Gejolak Ekonomi,...
Sikapi Gejolak Ekonomi, Partai Perindo Sodorkan Risalah Kebijakan untuk BI dan Pemerintah
Noel Divonis 4,5 Tahun...
Noel Divonis 4,5 Tahun Penjara, KPK Tidak Ajukan Banding
5 Peristiwa Politik...
5 Peristiwa Politik Pekan Ini: Said Iqbal Jadi Penasihat Presiden, Prabowo Terima JK, hingga Mahasiswa Turun ke Jalan
Kompolnas Diperkuat...
Kompolnas Diperkuat dalam UU Polri Baru, Boni Hargens Yakin Gagasan Restorasi Kapolri Bakal Terwujud
Infografis
7 Negara dengan Produksi...
7 Negara dengan Produksi Tank Tempur Terbanyak di Dunia
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved