Jeanne Francoise, Pembawa Konsep Defense Heritage
Sabtu, 26 September 2020 - 21:00 WIB
loading...
A
A
A
“Setiap provinisi beda-beda perlakuannya terhadap cagar budaya. Jangankan defense heritage secara khusus, untuk urusan cagar budaya secara umum saja belum maksimal. Banyak benteng bersejarah tidak dirawat dan museum-museum terkesan angker. Cultural heritage belum menjadi main focus of political will pemerintah pusat,” terangnya.
Melihat antusiasime teman-teman dekatnya terhadap ide Defense Heritage, Jeanne kemudian membentuk Defense Heritage Intellectual Community (DHIC) dengan Instagram @defenseheritage pada 17 Agustus 2020. Kehadiran DHIC sudah direkognisi oleh USI UNESCO Chair, iWareBatik, dan PPIDK Amerika Eropa, serta organisasi komunitas lainnya. (Baca juga: Peneliti Temukan Bug di Firefox, Bisa Bajak Browser Lewat WiFi)
Ke depan, Jeanne berharap Disertasinya tidak hanya berhenti menjadi Disertasi saja, tetapi dapat ditindaklanjuti oleh pemerintah pusat dan pemerintah provinisi. “Idealnya Defense Heritage bisa menjadi doktrin pertahanan, sehingga program bela negara kita berfokus kepada rasa cinta tanah air dan salah satu wujudnya adalah kita bangga akan sejarah bangsa,” tutupnya.
Melihat antusiasime teman-teman dekatnya terhadap ide Defense Heritage, Jeanne kemudian membentuk Defense Heritage Intellectual Community (DHIC) dengan Instagram @defenseheritage pada 17 Agustus 2020. Kehadiran DHIC sudah direkognisi oleh USI UNESCO Chair, iWareBatik, dan PPIDK Amerika Eropa, serta organisasi komunitas lainnya. (Baca juga: Peneliti Temukan Bug di Firefox, Bisa Bajak Browser Lewat WiFi)
Ke depan, Jeanne berharap Disertasinya tidak hanya berhenti menjadi Disertasi saja, tetapi dapat ditindaklanjuti oleh pemerintah pusat dan pemerintah provinisi. “Idealnya Defense Heritage bisa menjadi doktrin pertahanan, sehingga program bela negara kita berfokus kepada rasa cinta tanah air dan salah satu wujudnya adalah kita bangga akan sejarah bangsa,” tutupnya.
(kri)
Lihat Juga :