Fadli Zon Koleksi Kamera 'Tertinggi' di Dunia, Begini Sejarahnya
Rabu, 23 September 2020 - 21:51 WIB
loading...
A
A
A
Orang Indonesia pertama yang mencapai puncak Gunung Akonkagua di Argentina ini menjelaskan, kamera yang dikatakanya sebagai "tertinggi" di dunia itu. Kamera tersebut awalnya digunakan pelatih pendaki saat itu, Baskiro untuk mengabadikan momen-momen di sekitar puncak gunung.
"Kamera diserahkan Baskiro ke penanggung jawab logistik namanya almarhum Pak Rajak, kemudian Pak Rajak meminta saya untuk disimpan sampai sekarang. Kata-katamuya, 'sudah kamu pegang saja, " kata Ripto menirukan ucapan Rajak saat itu.
(Baca juga: Doni Monardo: Covid-19 Ibarat Malaikat Pencabut Nyawa bagi Kelompok Rentan )
Fadli Zon mengungkapkan, dari kamera ini lahir foto-foto monumental pendakian tiga orang pendaki Indonesia, yakni Pratu Asmujiono, Sersan Misirin, dan Lettu Iwan di gunung yang berada di perbatasan Nepal dan Tibet itu.
Fadli menambahkan, kamera tersebut saksi hidup misi terbesar dalam sejarah pendakian orang Indonesia di Gunung Everest pada 1997. Lalu dia mengatakan kamera tersebut akan disimpannya di perpustakaan miliknya sebagai bagian dari koleksi. "Sehingga kamera ini bisa bercerita, saya sudah menulis menulis salah satu buku tentang Mas Asmujiono, saling melengkapi, (sebagai-red) dokumenter," katanya.
"Kamera diserahkan Baskiro ke penanggung jawab logistik namanya almarhum Pak Rajak, kemudian Pak Rajak meminta saya untuk disimpan sampai sekarang. Kata-katamuya, 'sudah kamu pegang saja, " kata Ripto menirukan ucapan Rajak saat itu.
(Baca juga: Doni Monardo: Covid-19 Ibarat Malaikat Pencabut Nyawa bagi Kelompok Rentan )
Fadli Zon mengungkapkan, dari kamera ini lahir foto-foto monumental pendakian tiga orang pendaki Indonesia, yakni Pratu Asmujiono, Sersan Misirin, dan Lettu Iwan di gunung yang berada di perbatasan Nepal dan Tibet itu.
Fadli menambahkan, kamera tersebut saksi hidup misi terbesar dalam sejarah pendakian orang Indonesia di Gunung Everest pada 1997. Lalu dia mengatakan kamera tersebut akan disimpannya di perpustakaan miliknya sebagai bagian dari koleksi. "Sehingga kamera ini bisa bercerita, saya sudah menulis menulis salah satu buku tentang Mas Asmujiono, saling melengkapi, (sebagai-red) dokumenter," katanya.
(dam)
Lihat Juga :