Perang Berkepanjangan AS Vs Iran, Indonesia Wajib Perkuat Ketahanan Nasional dan Diplomasi Strategis
Senin, 20 Juli 2026 - 18:44 WIB
loading...
A
A
A
Jika sebelumnya kawasan tersebut didominasi rivalitas ideologi dan sektarian, kini persaingan lebih banyak berfokus pada penguasaan energi, jalur perdagangan internasional, teknologi, dan kepentingan geoekonomi.
“Pergeseran tersebut sekaligus memperlihatkan munculnya negara-negara middle power yang mulai memainkan peran lebih independen dalam menentukan arah politik kawasan tanpa bergantung sepenuhnya pada Amerika Serikat maupun kekuatan besar lainnya,” ungkapnya.
Senior Fellows GIF Chandra Purnama menuturkan konflik AS-Iran tidak dapat dipahami hanya melalui pendekatan politik praktis, melainkan harus dianalisis menggunakan perspektif hubungan internasional yang memperhatikan dimensi kekuatan, keamanan, ekonomi, dan distribusi pengaruh global.
“Ketidakmampuan berbagai organisasi internasional dalam mengendalikan eskalasi konflik menunjukkan semakin dominannya kepentingan negara-negara besar dalam menentukan arah kebijakan internasional,” ucapnya.
Kondisi tersebut menjadi indikasi bahwa dunia sedang bergerak menuju tatanan multipolar dengan konfigurasi kekuatan yang lebih kompleks.
Senada dengan itu, Senior Fellows GIF lainnya Faisal Nurdin Idris menilai strategi masing-masing aktor dalam konflik lebih banyak didasarkan pada kalkulasi rasional untuk mempertahankan kepentingan nasional dibandingkan pertimbangan moral maupun ideologis.
“Pergeseran tersebut sekaligus memperlihatkan munculnya negara-negara middle power yang mulai memainkan peran lebih independen dalam menentukan arah politik kawasan tanpa bergantung sepenuhnya pada Amerika Serikat maupun kekuatan besar lainnya,” ungkapnya.
Senior Fellows GIF Chandra Purnama menuturkan konflik AS-Iran tidak dapat dipahami hanya melalui pendekatan politik praktis, melainkan harus dianalisis menggunakan perspektif hubungan internasional yang memperhatikan dimensi kekuatan, keamanan, ekonomi, dan distribusi pengaruh global.
“Ketidakmampuan berbagai organisasi internasional dalam mengendalikan eskalasi konflik menunjukkan semakin dominannya kepentingan negara-negara besar dalam menentukan arah kebijakan internasional,” ucapnya.
Kondisi tersebut menjadi indikasi bahwa dunia sedang bergerak menuju tatanan multipolar dengan konfigurasi kekuatan yang lebih kompleks.
Senada dengan itu, Senior Fellows GIF lainnya Faisal Nurdin Idris menilai strategi masing-masing aktor dalam konflik lebih banyak didasarkan pada kalkulasi rasional untuk mempertahankan kepentingan nasional dibandingkan pertimbangan moral maupun ideologis.
Lihat Juga :