Kapolri Temui Jaksa Agung dan Panglima TNI, Boni Hargens Apresiasi
Selasa, 14 Juli 2026 - 20:26 WIB
loading...
Kapolri Jenderal Polisi Listyo Sigit Prabowo saat bersilaturahmi dengan Jaksa Agung ST Burhanuddin di Kejaksaan Agung, pada Jakarta, Senin (13/7/2026). Foto/Achmad Al Fiqri
A
A
A
JAKARTA - Analis Politik Senior Boni Hargens merespons langkah Kapolri Jenderal Polisi Listyo Sigit Prabowo bersilaturahmi dengan Jaksa Agung ST Burhanuddin dan Panglima TNI Jenderal Agus Subiyanto. Boni mengapresiasi pernyataan Kapolri bahwa kekompakan antara TNI dan Polri bukan hanya urusan internal institusional, melainkan fondasi yang menentukan apakah berbagai kebijakan dan program pemerintah dapat diimplementasikan secara efektif di lapangan.
“Dalam kondisi ketika relasi antarlembaga sedang mendapat sorotan publik, pernyataan Kapolri memiliki bobot politis yang signifikan sekaligus menjadi upaya penyeimbangan narasi di ruang publik,”ujar Boni dalam keterangannya, Selasa (14/7/2026).
Baca juga: Anggap Kapolri Sahabat, Jaksa Agung: Jangan Berpikir Kami Ini Rival
Direktur Lembaga Pemilih Indonesia (LPI) itu menilai kunjungan Kapolri tersebut tidak semata-mata bersifat seremonial, melainkan sarat kalkulasi strategis untuk meredam isu friksi institusional yang dapat berdampak luas pada stabilitas nasional. Boni juga menilai kunjungan Kapolri bukan sekadar kegiatan silaturahmi biasa, melainkan manuver strategis yang dilakukan dengan penuh kesadaran situasional.
Dia secara khusus mengapresiasi niat baik dan terobosan yang dilakukan Kapolri dan menyebutnya sebagai langkah seorang negarawan sejati yang mengutamakan stabilitas nasional di atas ego sektoral. Boni menilai langkah Kapolri sebagai strategi efektif untuk meredam spekulasi publik soal adanya benturan antarinstitusi yang muncul di tengah pengusutan perkara korupsi yang melibatkan mantan petinggi Kejaksaan Agung.
Terlepas dari instruksi langsung Presiden Prabowo Subianto untuk membangun sinergi lintas institusi, inisiatif Kapolri dinilai melampaui sekadar kepatuhan prosedural. Ini merupakan ekspresi kepemimpinan yang proaktif dan visioner. “Mengutamakan stabilitas nasional di atas kepentingan sektoral menjadi inti dari gestur politik Kapolri yang oleh karenanya publik patut memberikan apresiasi yang luar biasa”, kata Boni.
Baca juga: Momen Salam Komando Jaksa Agung dan Kapolri
Ia melihat Kapolri dan seluruh jajaran Bhayangkara berkomitmen untuk menjaga keutuhan ekosistem hukum dan keamanan nasional secara menyeluruh. Secara lebih luas, Boni menilai peristiwa ini merefleksikan kompleksitas tata kelola antarlembaga di Indonesia, di mana batas-batas kewenangan sering kali menjadi titik rawan gesekan, terutama dalam penanganan perkara korupsi berskala besar.
Penetapan tersangka terhadap mantan petinggi Kejaksaan Agung oleh Kortas Tipikor Polri dinilai sebagai ujian nyata bagi profesionalisme dan independensi kedua lembaga tersebut. “Di satu sisi, penegakan hukum harus berjalan tanpa pandang bulu. Di sisi lain, koordinasi dan komunikasi antarlembaga tetap menjadi kebutuhan yang tidak dapat diabaikan demi menjaga kohesi sistem pemerintahan secara keseluruhan,” tegas Boni.
Boni mengatakan, kunjungan Kapolri tersebut menjadi bukti bahwa kepemimpinan yang matang mampu menjembatani kedua tuntutan tersebut secara bersamaan.
“Dalam kondisi ketika relasi antarlembaga sedang mendapat sorotan publik, pernyataan Kapolri memiliki bobot politis yang signifikan sekaligus menjadi upaya penyeimbangan narasi di ruang publik,”ujar Boni dalam keterangannya, Selasa (14/7/2026).
Baca juga: Anggap Kapolri Sahabat, Jaksa Agung: Jangan Berpikir Kami Ini Rival
Direktur Lembaga Pemilih Indonesia (LPI) itu menilai kunjungan Kapolri tersebut tidak semata-mata bersifat seremonial, melainkan sarat kalkulasi strategis untuk meredam isu friksi institusional yang dapat berdampak luas pada stabilitas nasional. Boni juga menilai kunjungan Kapolri bukan sekadar kegiatan silaturahmi biasa, melainkan manuver strategis yang dilakukan dengan penuh kesadaran situasional.
Dia secara khusus mengapresiasi niat baik dan terobosan yang dilakukan Kapolri dan menyebutnya sebagai langkah seorang negarawan sejati yang mengutamakan stabilitas nasional di atas ego sektoral. Boni menilai langkah Kapolri sebagai strategi efektif untuk meredam spekulasi publik soal adanya benturan antarinstitusi yang muncul di tengah pengusutan perkara korupsi yang melibatkan mantan petinggi Kejaksaan Agung.
Terlepas dari instruksi langsung Presiden Prabowo Subianto untuk membangun sinergi lintas institusi, inisiatif Kapolri dinilai melampaui sekadar kepatuhan prosedural. Ini merupakan ekspresi kepemimpinan yang proaktif dan visioner. “Mengutamakan stabilitas nasional di atas kepentingan sektoral menjadi inti dari gestur politik Kapolri yang oleh karenanya publik patut memberikan apresiasi yang luar biasa”, kata Boni.
Baca juga: Momen Salam Komando Jaksa Agung dan Kapolri
Ia melihat Kapolri dan seluruh jajaran Bhayangkara berkomitmen untuk menjaga keutuhan ekosistem hukum dan keamanan nasional secara menyeluruh. Secara lebih luas, Boni menilai peristiwa ini merefleksikan kompleksitas tata kelola antarlembaga di Indonesia, di mana batas-batas kewenangan sering kali menjadi titik rawan gesekan, terutama dalam penanganan perkara korupsi berskala besar.
Penetapan tersangka terhadap mantan petinggi Kejaksaan Agung oleh Kortas Tipikor Polri dinilai sebagai ujian nyata bagi profesionalisme dan independensi kedua lembaga tersebut. “Di satu sisi, penegakan hukum harus berjalan tanpa pandang bulu. Di sisi lain, koordinasi dan komunikasi antarlembaga tetap menjadi kebutuhan yang tidak dapat diabaikan demi menjaga kohesi sistem pemerintahan secara keseluruhan,” tegas Boni.
Boni mengatakan, kunjungan Kapolri tersebut menjadi bukti bahwa kepemimpinan yang matang mampu menjembatani kedua tuntutan tersebut secara bersamaan.
(shf)
Lihat Juga :