Mengapa Orang Baik Memilih Diam?

Minggu, 12 Juli 2026 - 12:22 WIB
loading...
A A A
Mereka takut kehilangan jabatan, relasi, reputasi, atau rasa aman. Keheningan pun menyebar dari satu orang ke orang lain hingga akhirnya tampak seolah-olah tidak ada yang keberatan terhadap keadaan tersebut.

Dari sudut pandang neurosains, keputusan untuk diam bukan semata-mata persoalan moral. Otak sedang melakukan kalkulasi yang sangat cepat mengenai kemungkinan ancaman.

Sistem deteksi bahaya yang berkembang selama jutaan tahun evolusi bekerja jauh lebih cepat daripada proses berpikir rasional. Ancaman sosial diperlakukan hampir sama seriusnya dengan ancaman fisik.

Bagi otak, dikucilkan dari kelompok pada masa evolusi dapat berarti berkurangnya peluang untuk bertahan hidup. Jejak biologis itulah yang masih memengaruhi manusia modern.

Yang menarik, mekanisme yang sama juga menjelaskan mengapa kritik jauh lebih membekas dibandingkan pujian. Hampir setiap orang pernah mengalaminya.

Seseorang dapat menerima seratus pujian atas pekerjaannya, tetapi hanya membutuhkan satu kritik tajam untuk membuatnya sulit tidur semalaman. Mengapa demikian?

Jawabannya kembali terletak pada cara kerja otak. Secara evolusioner, informasi negatif memiliki nilai bertahan hidup yang jauh lebih tinggi daripada informasi positif. Nenek moyang manusia yang gagal memperhatikan ancaman kemungkinan besar tidak bertahan hidup.

Sebaliknya, mereka yang sangat peka terhadap bahaya memiliki peluang lebih besar untuk mewariskan gennya. Akibatnya, otak modern masih membawa warisan biologis tersebut.

Ia secara otomatis memberikan perhatian yang jauh lebih besar kepada informasi negatif daripada informasi positif. Dalam ilmu psikologi, kecenderungan ini dikenal sebagai negativity bias.

Otak memperlakukan kritik sebagai sinyal ancaman terhadap harga diri, kedudukan sosial, atau penerimaan kelompok. Karena dianggap penting untuk kelangsungan hidup sosial, kritik memperoleh prioritas pemrosesan yang lebih tinggi.

Aktivitas emosi meningkat, perhatian menjadi lebih fokus, dan memori bekerja lebih kuat untuk menyimpan pengalaman tersebut. Bayangkan seorang dosen selesai memberikan kuliah dan menerima lima puluh komentar positif dari mahasiswa.

Namun, ada satu komentar yang mengatakan bahwa penjelasannya membosankan. Sangat mungkin komentar tunggal itulah yang terus terngiang hingga malam hari.

Bukan karena lima puluh pujian tidak berarti, tetapi karena otak secara otomatis menganggap kritik sebagai sinyal ancaman yang harus dianalisis lebih dalam. Hal yang sama terjadi di media sosial.

Seratus apresiasi dapat dengan mudah tenggelam oleh satu komentar yang menghina. Kritik mengaktifkan perhatian, emosi, dan memori secara lebih kuat dibandingkan pujian.

Akibatnya, manusia sering kali merasa dunia jauh lebih buruk daripada kenyataannya karena otaknya memang dirancang untuk lebih mudah mengingat ancaman daripada kenyamanan. Sebaliknya, pujian sering kali dianggap sebagai kondisi normal yang tidak memerlukan respons bertahan hidup.

Pujian memang menyenangkan dan dapat meningkatkan motivasi melalui sistem penghargaan otak, tetapi efeknya sering kali lebih singkat. Kritik, terutama yang disampaikan secara keras atau mempermalukan seseorang di depan umum, dapat bertahan dalam ingatan selama bertahun-tahun.

Banyak orang dewasa masih mampu mengingat kalimat menyakitkan yang diucapkan guru, orang tua, atau teman puluhan tahun yang lalu, sementara mereka sulit mengingat pujian yang diterima pada periode yang sama.
Psikologi sosial juga menunjukkan bahwa manusia sangat bergantung pada penerimaan kelompok.
Halaman :
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Berita Terkait
Polisi Dalami Temuan...
Polisi Dalami Temuan Emas Batangan hingga Uang saat Geledah Rumah di Sentul
Polri Belum Tetapkan...
Polri Belum Tetapkan Tersangka Kasus Dugaan Korupsi Batu Bara-Asabri
Prabowo: Banyak yang...
Prabowo: Banyak yang Nyusup ke MBG untuk Jadi Maling
Prabowo Minta Aparat...
Prabowo Minta Aparat Introspeksi Diri: Rakyat Tak Ingin Korupsi Dibiarkan!
Prabowo Kembali Ingatkan...
Prabowo Kembali Ingatkan untuk Hentikan Korupsi, Penyelundupan, Narkoba, hingga Judi
Sahroni Dukung Polri...
Sahroni Dukung Polri Tuntaskan Dugaan Korupsi Pasokan Batu Bara Penyebab Blackout
Febrie Adriansyah Jadi...
Febrie Adriansyah Jadi Tersangka, Nikita Mirzani Minta Jaksa yang Tangani Kasusnya Diusut
12 Pegawai Pajak Bantu...
12 Pegawai Pajak Bantu Pengusaha Korupsi Uang Negara Senilai Rp110 Triliun, Dijuluki 'Perampokan Abad Ini'
Lagi, Wakil Menteri...
Lagi, Wakil Menteri Sembunyikan Uang Korupsi Rp193 Miliar di Dalam Drainase Air Hujan
Rekomendasi
Tak Oper ke Haaland...
Tak Oper ke Haaland yang Berdiri Bebas, Sorloth Dituding Jadi Penyebab Norwegia Kalah
Komedian Temon Meninggal...
Komedian Temon Meninggal Dunia, Aldi Taher: Saya Bersaksi Abang Orang Baik
Desak Made dan Veddriq...
Desak Made dan Veddriq Leonardo Kawinkan Emas Indonesia di World Climbing Chamonix 2026
Berita Terkini
Kortas Tipidkor Sebut...
Kortas Tipidkor Sebut Bukti Kasus Dugaan Korupsi Eks Jampidsus Segera Dilimpahkan ke Kejagung
DPR Minta Komjak Proaktif...
DPR Minta Komjak Proaktif Awasi Penanganan Perkara Febrie Adriansyah
Mengapa Orang Baik Memilih...
Mengapa Orang Baik Memilih Diam?
Langkah Menhut Dinilai...
Langkah Menhut Dinilai Berhasil Pulihkan Kepercayaan Investor Perdagangan Karbon
Kejagung Pelajari Alat...
Kejagung Pelajari Alat Bukti Kasus Febrie Adriansyah dari Polri
MAKI Sebut Pelimpahan...
MAKI Sebut Pelimpahan Penanganan Perkara Febrie Ardiansyah Tabrak KUHAP Baru
Infografis
5 Negara Asia Diam-diam...
5 Negara Asia Diam-diam Dukung Israel, Salah Satunya Mayoritas Muslim
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved