Program MBG Perkuat Keadilan Sosial Melalui Pemenuhan Gizi
Rabu, 08 Juli 2026 - 13:04 WIB
loading...
A
A
A
Menurut Hafid, tanpa intervensi negara melalui program gizi sekolah, ketimpangan kualitas pendidikan dan kondisi ekonomi keluarga akan terus memperlebar kesenjangan antargenerasi.
Baca juga: Iran Serang 85 Situs Militer AS di Bahrain dan Kuwait, Situasi Memanas Seiring Pemakaman Khamenei
"Negara harus hadir untuk memberi hari depan yang cerah bagi masa depan bangsa ini. Dengan itu, MBG hadir sebagai instrumen penyelamat masa depan generasi bangsa ini," katanya.
Pandangan serupa disampaikan Ketua Umum Persatuan Ahli Gizi Indonesia (Persagi), Dr Doddy Izwardy, yang menilai MBG memiliki manfaat jauh lebih luas dibanding sekadar memenuhi kebutuhan pangan harian anak sekolah.
"Intervensi anak sekolah diposisikan sebagai agenda gizi dan pencegahan penyakit tidak menular. Ini yang menjadi penekanan yang kami sampaikan," ujar Doddy.
Ia menjelaskan bahwa anak usia sekolah masih berada pada fase pertumbuhan fisik dan perkembangan otak yang sangat pesat sehingga membutuhkan asupan gizi yang memadai. Berdasarkan data Survei Kesehatan Indonesia dan Riskesdas, prevalensi stunting pada kelompok usia 5–12 tahun masih mencapai 23,6 persen, sementara kelebihan berat badan dan obesitas sekitar 20 persen.
Baca juga: Iran Serang 85 Situs Militer AS di Bahrain dan Kuwait, Situasi Memanas Seiring Pemakaman Khamenei
"Negara harus hadir untuk memberi hari depan yang cerah bagi masa depan bangsa ini. Dengan itu, MBG hadir sebagai instrumen penyelamat masa depan generasi bangsa ini," katanya.
Pandangan serupa disampaikan Ketua Umum Persatuan Ahli Gizi Indonesia (Persagi), Dr Doddy Izwardy, yang menilai MBG memiliki manfaat jauh lebih luas dibanding sekadar memenuhi kebutuhan pangan harian anak sekolah.
"Intervensi anak sekolah diposisikan sebagai agenda gizi dan pencegahan penyakit tidak menular. Ini yang menjadi penekanan yang kami sampaikan," ujar Doddy.
Ia menjelaskan bahwa anak usia sekolah masih berada pada fase pertumbuhan fisik dan perkembangan otak yang sangat pesat sehingga membutuhkan asupan gizi yang memadai. Berdasarkan data Survei Kesehatan Indonesia dan Riskesdas, prevalensi stunting pada kelompok usia 5–12 tahun masih mencapai 23,6 persen, sementara kelebihan berat badan dan obesitas sekitar 20 persen.
Lihat Juga :