Retorika Visual Diplomasi Prabowo dan Lukashenko
Sabtu, 04 Juli 2026 - 07:38 WIB
loading...
A
A
A
Sebaliknya, bagi Belarus, panggung depan di Jakarta adalah instrumen krusial untuk mendobrak isolasi diplomatik. Melalui publikasi media, Lukashenko memanfaatkan komunikasi simbolik ini untuk menunjukkan kepada audiens domestik dan sekutu regionalnya bahwa Minsk tetap memiliki mitra strategis yang dihormati di Asia Tenggara, sebuah kawasan dengan pertumbuhan ekonomi paling dinamis di dunia.
Pembingkaian Media dan Pertarungan Narasi Global
Pertemuan ini tidak luput dari mekanisme Teori Pengaturan Agenda (Agenda-Setting Theory) dan Teori Pembingkaian (Framing Theory) dari Robert Entman. Bagaimana media massa mengomunikasikan kunjungan ini menentukan bagaimana publik global memaknainya. Kita dapat melihat adanya dikotomi pembingkaian yang kontras.
Di mana media nasional di Indonesia dan kantor berita resmi Belarus (BelTA) membingkai pertemuan ini melalui aspek fungsional-strategis. Fokus narasi diletakkan pada ketahanan pangan, mekanisasi pertanian, dan kerja sama teknologi. Ini adalah gain-framed communication yang menekankan keuntungan bersama dan pragmatisme politik.
Di sisi lain, kantor berita Barat cenderung membingkai kunjungan ini dalam narasi "pergeseran poros" atau "aliansi pragmatis dengan sekutu Rusia". Pembingkaian ini menggunakan pendekatan berbasis nilai (value-laden framing), yang mencoba mengaitkan reputasi politik Lukashenko di Eropa dengan posisi diplomatik Indonesia.
Melalui komunikasi internasional, Indonesia secara aktif melakukan penolakan (counter-framing). Jakarta menggunakan strategi komunikasi yang netral dan berbasis hasil nyata (result-oriented communication) untuk menetralisir potensi sentimen negatif dari mitra dagang Barat.
Komunikasi Visual dan Semiotika Kekuasaan
Diplomasi modern adalah diplomasi visual. Setiap detail dalam penyambutan 2 Juli 2026 kemarin memiliki fungsi semiotik yang kaya. Mengacu pada Teori Semiotika Roland Barthes, jabat tangan, tata letak bendera, hingga gestur tubuh kedua pemimpin bertindak sebagai tanda (sign) yang memiliki makna denotatif dan konotatif.
Secara denotatif, protokol Istana menampilkan penyambutan resmi kenegaraan. Namun, secara konotatif, tingkat kehangatan gestur (seperti durasi kontak mata dan tepukan bahu) mengomunikasikan tingkat kepercayaan (trust) antar-aktor.
Pembingkaian Media dan Pertarungan Narasi Global
Pertemuan ini tidak luput dari mekanisme Teori Pengaturan Agenda (Agenda-Setting Theory) dan Teori Pembingkaian (Framing Theory) dari Robert Entman. Bagaimana media massa mengomunikasikan kunjungan ini menentukan bagaimana publik global memaknainya. Kita dapat melihat adanya dikotomi pembingkaian yang kontras.
Di mana media nasional di Indonesia dan kantor berita resmi Belarus (BelTA) membingkai pertemuan ini melalui aspek fungsional-strategis. Fokus narasi diletakkan pada ketahanan pangan, mekanisasi pertanian, dan kerja sama teknologi. Ini adalah gain-framed communication yang menekankan keuntungan bersama dan pragmatisme politik.
Di sisi lain, kantor berita Barat cenderung membingkai kunjungan ini dalam narasi "pergeseran poros" atau "aliansi pragmatis dengan sekutu Rusia". Pembingkaian ini menggunakan pendekatan berbasis nilai (value-laden framing), yang mencoba mengaitkan reputasi politik Lukashenko di Eropa dengan posisi diplomatik Indonesia.
Melalui komunikasi internasional, Indonesia secara aktif melakukan penolakan (counter-framing). Jakarta menggunakan strategi komunikasi yang netral dan berbasis hasil nyata (result-oriented communication) untuk menetralisir potensi sentimen negatif dari mitra dagang Barat.
Komunikasi Visual dan Semiotika Kekuasaan
Diplomasi modern adalah diplomasi visual. Setiap detail dalam penyambutan 2 Juli 2026 kemarin memiliki fungsi semiotik yang kaya. Mengacu pada Teori Semiotika Roland Barthes, jabat tangan, tata letak bendera, hingga gestur tubuh kedua pemimpin bertindak sebagai tanda (sign) yang memiliki makna denotatif dan konotatif.
Secara denotatif, protokol Istana menampilkan penyambutan resmi kenegaraan. Namun, secara konotatif, tingkat kehangatan gestur (seperti durasi kontak mata dan tepukan bahu) mengomunikasikan tingkat kepercayaan (trust) antar-aktor.
Lihat Juga :