Kuliah Umum di IPDN, Menko AHY Ajak Praja Taklukkan Tantangan Geografis Indonesia
Sabtu, 20 Juni 2026 - 10:39 WIB
loading...
Menko Bidang Infrastruktur dan Pembangunan Kewilayahan Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) mengajak Praja IPDN untuk menaklukkan tantangan geografis. Foto/istimewa.
A
A
A
JATINANGOR - Menteri Koordinator Bidang Infrastruktur dan Pembangunan Kewilayahan Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) berpandangan bahwa menjadi negara kepulauan terbesar di dunia merupakan anugerah sekaligus tantangan bagi Indonesia. Dengan lebih dari 17 ribu pulau yang membentang dari Sabang hingga Merauke, pembangunan yang merata bukanlah pekerjaan yang sederhana.
Biaya logistik yang tinggi, jarak antardaerah yang berjauhan, hingga keterbatasan konektivitas masih menjadi tantangan nyata yang dihadapi Indonesia hingga hari ini. Namun demikian, AHY menegaskan, kondisi geografis tidak boleh dijadikan alasan untuk tertinggal.
Dalam Studium Generale di Institut Pemerintahan Dalam Negeri (IPDN) Jatinangor, AHY mengajak para Praja melihat bagaimana bangsa-bangsa lain mampu mengubah keterbatasan geografis menjadi kekuatan pembangunan. Salah satu contohnya adalah Jepang.
Baca juga: Dies Natalis ke-70, IPDN Perkuat Visi Jadi Kampus Kedinasan Bertaraf Dunia
“Jika geografi semata menentukan nasib sebuah bangsa, Jepang tidak akan pernah tumbuh menjadi salah satu kekuatan ekonomi dunia. Sebagai negara kepulauan yang memiliki keterbatasan sumber daya alam dan menghadapi berbagai risiko bencana, Jepang justru mampu membangun daya saing, produktivitas, dan kesejahteraan masyarakatnya secara konsisten,” ujarnya, Sabtu (20/6/2026).
Karena itu, kata AHY, Indonesia tidak boleh menjadikan geografi sebagai alasan untuk menyerah. AHY menjelaskan Indonesia memiliki karakteristik yang berbeda dibandingkan dengan negara-negara kontinental seperti Amerika Serikat, Rusia, maupun China. “Geografi adalah tantangan yang harus ditaklukkan, bukan takdir yang harus diterima,” ujarnya.
Dua pertiga wilayah Indonesia merupakan lautan. Distribusi barang dan mobilitas manusia tidak dapat hanya mengandalkan jalur darat, tetapi membutuhkan kombinasi transportasi laut, udara, jalan raya, hingga perkeretaapian yang saling terhubung. Kondisi tersebut membuat biaya logistik Indonesia relatif lebih tinggi dibandingkan banyak negara lain dan berpengaruh langsung terhadap harga barang serta pemerataan pembangunan.
Lihat video: Bantu Aceh Tamiang, 1.138 Praja IPDN Diterjunkan Pulihkan Wilayah Pasca-Bencana
Karena itu, menurut AHY, pembangunan nasional harus berorientasi pada konektivitas yang mampu menghubungkan seluruh wilayah Indonesia secara lebih efektif. “Pembangunan Indonesia tidak bisa Jawa-sentris. Pembangunan harus dirasakan secara merata, dari Aceh sampai Papua, dari Sabang sampai Merauke,” paparnya.
AHY menegaskan pembangunan infrastruktur pada akhirnya bukan sekadar membangun jalan, pelabuhan, bandara, bendungan, atau jaringan transportasi lainnya. Lebih dari itu, pembangunan infrastruktur adalah upaya memperpendek jarak ekonomi, membuka akses terhadap pelayanan publik, serta menghadirkan kesempatan yang lebih setara bagi seluruh masyarakat Indonesia.
Seorang petani di Papua, nelayan di Maluku, pelaku UMKM di Nusa Tenggara, maupun masyarakat di Pulau Jawa harus memiliki kesempatan yang sama untuk mengakses pendidikan, layanan kesehatan, pasar, dan peluang ekonomi. “Pembangunan yang baik adalah pembangunan yang mampu menghadirkan kesempatan yang setara bagi seluruh rakyat Indonesia.”
AHY juga mengingatkan Indonesia memiliki modal yang sangat besar untuk menjadi negara maju. Posisi geografis yang strategis di kawasan Indo-Pasifik, kekayaan sumber daya alam yang melimpah, bonus demografi, serta stabilitas nasional merupakan kekuatan yang tidak dimiliki banyak negara secara bersamaan. Karena itu, menurutnya, tantangan Indonesia bukan terletak pada kurangnya potensi.
Tantangan sesungguhnya adalah memastikan seluruh potensi tersebut dapat diubah menjadi kesejahteraan yang dirasakan secara merata oleh masyarakat. “Bangsa besar bukan bangsa yang bebas dari tantangan. Bangsa besar adalah bangsa yang mampu mengatasi tantangannya,” tegasnya
Menutup kuliah umumnya, AHY mengingatkan para Praja bahwa mereka akan menjadi bagian dari generasi yang bertanggung jawab mewujudkan pemerataan pembangunan Indonesia.
“Kalian akan berada di garis depan pemerintahan Indonesia. Di tangan kalian, pembangunan tidak hanya direncanakan, tetapi diwujudkan,” ucapnya.
Biaya logistik yang tinggi, jarak antardaerah yang berjauhan, hingga keterbatasan konektivitas masih menjadi tantangan nyata yang dihadapi Indonesia hingga hari ini. Namun demikian, AHY menegaskan, kondisi geografis tidak boleh dijadikan alasan untuk tertinggal.
Dalam Studium Generale di Institut Pemerintahan Dalam Negeri (IPDN) Jatinangor, AHY mengajak para Praja melihat bagaimana bangsa-bangsa lain mampu mengubah keterbatasan geografis menjadi kekuatan pembangunan. Salah satu contohnya adalah Jepang.
Baca juga: Dies Natalis ke-70, IPDN Perkuat Visi Jadi Kampus Kedinasan Bertaraf Dunia
“Jika geografi semata menentukan nasib sebuah bangsa, Jepang tidak akan pernah tumbuh menjadi salah satu kekuatan ekonomi dunia. Sebagai negara kepulauan yang memiliki keterbatasan sumber daya alam dan menghadapi berbagai risiko bencana, Jepang justru mampu membangun daya saing, produktivitas, dan kesejahteraan masyarakatnya secara konsisten,” ujarnya, Sabtu (20/6/2026).
Karena itu, kata AHY, Indonesia tidak boleh menjadikan geografi sebagai alasan untuk menyerah. AHY menjelaskan Indonesia memiliki karakteristik yang berbeda dibandingkan dengan negara-negara kontinental seperti Amerika Serikat, Rusia, maupun China. “Geografi adalah tantangan yang harus ditaklukkan, bukan takdir yang harus diterima,” ujarnya.
Dua pertiga wilayah Indonesia merupakan lautan. Distribusi barang dan mobilitas manusia tidak dapat hanya mengandalkan jalur darat, tetapi membutuhkan kombinasi transportasi laut, udara, jalan raya, hingga perkeretaapian yang saling terhubung. Kondisi tersebut membuat biaya logistik Indonesia relatif lebih tinggi dibandingkan banyak negara lain dan berpengaruh langsung terhadap harga barang serta pemerataan pembangunan.
Lihat video: Bantu Aceh Tamiang, 1.138 Praja IPDN Diterjunkan Pulihkan Wilayah Pasca-Bencana
Karena itu, menurut AHY, pembangunan nasional harus berorientasi pada konektivitas yang mampu menghubungkan seluruh wilayah Indonesia secara lebih efektif. “Pembangunan Indonesia tidak bisa Jawa-sentris. Pembangunan harus dirasakan secara merata, dari Aceh sampai Papua, dari Sabang sampai Merauke,” paparnya.
AHY menegaskan pembangunan infrastruktur pada akhirnya bukan sekadar membangun jalan, pelabuhan, bandara, bendungan, atau jaringan transportasi lainnya. Lebih dari itu, pembangunan infrastruktur adalah upaya memperpendek jarak ekonomi, membuka akses terhadap pelayanan publik, serta menghadirkan kesempatan yang lebih setara bagi seluruh masyarakat Indonesia.
Seorang petani di Papua, nelayan di Maluku, pelaku UMKM di Nusa Tenggara, maupun masyarakat di Pulau Jawa harus memiliki kesempatan yang sama untuk mengakses pendidikan, layanan kesehatan, pasar, dan peluang ekonomi. “Pembangunan yang baik adalah pembangunan yang mampu menghadirkan kesempatan yang setara bagi seluruh rakyat Indonesia.”
AHY juga mengingatkan Indonesia memiliki modal yang sangat besar untuk menjadi negara maju. Posisi geografis yang strategis di kawasan Indo-Pasifik, kekayaan sumber daya alam yang melimpah, bonus demografi, serta stabilitas nasional merupakan kekuatan yang tidak dimiliki banyak negara secara bersamaan. Karena itu, menurutnya, tantangan Indonesia bukan terletak pada kurangnya potensi.
Tantangan sesungguhnya adalah memastikan seluruh potensi tersebut dapat diubah menjadi kesejahteraan yang dirasakan secara merata oleh masyarakat. “Bangsa besar bukan bangsa yang bebas dari tantangan. Bangsa besar adalah bangsa yang mampu mengatasi tantangannya,” tegasnya
Menutup kuliah umumnya, AHY mengingatkan para Praja bahwa mereka akan menjadi bagian dari generasi yang bertanggung jawab mewujudkan pemerataan pembangunan Indonesia.
“Kalian akan berada di garis depan pemerintahan Indonesia. Di tangan kalian, pembangunan tidak hanya direncanakan, tetapi diwujudkan,” ucapnya.
(cip)
Lihat Juga :