Denny JA Soroti Kerusuhan Agustus 2025 dalam Perspektif Kelas Rentan Digital
Selasa, 16 Juni 2026 - 16:04 WIB
loading...
A
A
A
Sementara itu, Networked Protest Theory yang banyak dikembangkan Manuel Castells dan Zeynep Tufekci menjelaskan bagaimana teknologi digital dan media sosial memungkinkan mobilisasi massa berlangsung lebih cepat melalui jaringan komunikasi yang bersifat horizontal.
"Ketiga teori tersebut memberikan kontribusi penting dalam memahami berbagai bentuk gerakan sosial. Namun, menurut saya, perkembangan teknologi digital dan perubahan struktur ekonomi telah melahirkan kondisi baru yang belum sepenuhnya terakomodasi oleh teori-teori tersebut," jelasnya.
Lihat video: Polri Ungkap Pemberi Dana untuk Kerusuhan Agustus: Siapa Mereka?
Berdasarkan pengamatan tersebut, Denny mengajukan sebuah kerangka yang saya sebut sebagai Teori Kerusuhan Era Digital. Teori ini dibangun atas lima variabel utama.
Pertama, Economic Grievance atau keresahan ekonomi. Faktor ini mencakup meningkatnya tekanan ekonomi, terbatasnya peluang kerja, penurunan daya beli, dan ketidakpastian masa depan yang dirasakan sebagian masyarakat.
Kedua, Digitally Vulnerable Class (DVC) atau kelas rentan digital. Kelompok ini mencakup pekerja platform digital, pengemudi transportasi daring, kurir, pekerja lepas, kreator konten skala kecil, dan berbagai pekerja yang kehidupannya sangat dipengaruhi oleh sistem digital dan algoritma.
Ketiga, Social Media Amplification. Media sosial berfungsi sebagai pengganda emosi kolektif yang mampu mempercepat penyebaran informasi, solidaritas, maupun kemarahan dalam skala luas.
"Ketiga teori tersebut memberikan kontribusi penting dalam memahami berbagai bentuk gerakan sosial. Namun, menurut saya, perkembangan teknologi digital dan perubahan struktur ekonomi telah melahirkan kondisi baru yang belum sepenuhnya terakomodasi oleh teori-teori tersebut," jelasnya.
Lihat video: Polri Ungkap Pemberi Dana untuk Kerusuhan Agustus: Siapa Mereka?
Berdasarkan pengamatan tersebut, Denny mengajukan sebuah kerangka yang saya sebut sebagai Teori Kerusuhan Era Digital. Teori ini dibangun atas lima variabel utama.
Pertama, Economic Grievance atau keresahan ekonomi. Faktor ini mencakup meningkatnya tekanan ekonomi, terbatasnya peluang kerja, penurunan daya beli, dan ketidakpastian masa depan yang dirasakan sebagian masyarakat.
Kedua, Digitally Vulnerable Class (DVC) atau kelas rentan digital. Kelompok ini mencakup pekerja platform digital, pengemudi transportasi daring, kurir, pekerja lepas, kreator konten skala kecil, dan berbagai pekerja yang kehidupannya sangat dipengaruhi oleh sistem digital dan algoritma.
Ketiga, Social Media Amplification. Media sosial berfungsi sebagai pengganda emosi kolektif yang mampu mempercepat penyebaran informasi, solidaritas, maupun kemarahan dalam skala luas.
Lihat Juga :