World Giving Report 2026: Donasi Global Turun, Indonesia Bertahan di Atas Rata-rata Dunia
Jum'at, 12 Juni 2026 - 09:43 WIB
loading...
A
A
A
"Temuan ini sangat relevan bagi Indonesia karena memperlihatkan bahwa modal sosial yang besar hanya akan menghasilkan dampak berkelanjutan bila ditopang oleh tata kelola yang kuat, transparansi yang nyata, dan lembaga filantropi yang dipercaya publik," jelasnya, dikutip Jumat (12/6/2026)).
Laporan ini juga memperlihatkan preferensi yang sangat jelas pada tujuan dan saluran pemberian. Secara global, tujuan keagamaan (religious causes) menjadi pilihan paling populer dan didukung oleh 31 persen responden, sementara dukungan untuk anak-anak dan kaum muda serta pengentasan kemiskinan masing-masing mencapai 29 persen. Dalam hal jenis organisasi, publik jauh lebih mungkin mendukung lembaga yang bekerja secara lokal (56 persen), atau nasional (55 persen), dibanding organisasi yang bekerja lintas wilayah atau di banyak negara (22 persen).
"Bagi PFI, data ini menegaskan bahwa relevansi lokal, kedekatan sosial, dan kejelasan manfaat adalah fondasi utama penghimpunan dukungan publik bagi organisasi filantropi di Indonesia,” kata Rizal.
Prof Amelia Fauzia, Ketua Dewan Pakar PFI, mencermati dominannya derma keagamaan pada laporan WGR 2026. Secara global, 23 persen orang memberi kepada organisasi keagamaan atau karena alasan agama, sementara 21 persen total nilai sumbangan global disalurkan melalui jalur keagamaan. Secara geografis, sumbangan keagamaan sangat menonjol di Afrika. Negara Kongo, misalnya, mengalokasikan porsi terbesar donasinya melalui jalur religius, yaitu 46 persen dari nilai donasinya.
Sementara di Indonesia , kanal keagamaan berfungsi sebagai pintu masuk kepercayaan donatur, sehingga kualitas tata kelola lembaga berbasis agama dan transparansi penggunaan dana menjadi faktor yang sangat menentukan keberlanjutan donasi.
"Temuan ini menunjukkan bahwa agama bukan sekadar ruang spiritual, tetapi juga kanal sosial yang sangat kuat dalam membentuk perilaku berbagi dan memperluas solidaritas publik. Kepercayaan berbasis agama punya daya mobilisasi yang besar, namun harus diimbangi tata kelola yang kuat agar tidak kehilangan legitimasi," jelasnya.
Temuan lain yang sangat penting, menurut Amelia, adalah pengaruh kepercayaan dan rasa memiliki komunitas pada lembaga terhadap besaran sumbangan yang diberikan. WGR 2026 mencatat bahwa negara-negara di mana lebih dari 80 persen penduduknya memiliki ikatan kuat dengan komunitas lokal cenderung memberi hampir 3 (tiga) kali lebih banyak dibanding negara-negara dengan tingkat keterikatan komunitas yang rendah. Rata‑rata donasi mereka mencapai 1,7% dari pendapatan, dibandingkan hanya 0,6% di negara dengan ikatan komunitas rendah. Laporan ini juga menunjukkan bahwa orang yang melihat dampak positif Lembaga amal di wilayah lokal, peluang berdonasinya jauh lebih besar dan memberi dalam proporsi yang lebih besar dari pendapatan mereka.
"Bagi Indonesia, temuan ini menegaskan pentingnya pendekatan community-led philanthropy yang menempatkan komunitas bukan sekadar penerima manfaat, melainkan pusat legitimasi, partisipasi, dan keberlanjutan filantropi," tuturnya.
Amelia juga menyoroti temuan WGR 2026 dari sisi demografi yang mencatat bahwa kelompok usia 25 sampai 44 tahun merupakan kelompok paling dermawan secara proporsi pendapatan. Kelompok ini ratarata menyumbangkan 1,2 persen dari pendapatan mereka, atau dua kali lebih besar dibanding kelompok usia di atas 55 tahun yang rata-ratanya 0,6 persen.
Laporan ini juga memperlihatkan preferensi yang sangat jelas pada tujuan dan saluran pemberian. Secara global, tujuan keagamaan (religious causes) menjadi pilihan paling populer dan didukung oleh 31 persen responden, sementara dukungan untuk anak-anak dan kaum muda serta pengentasan kemiskinan masing-masing mencapai 29 persen. Dalam hal jenis organisasi, publik jauh lebih mungkin mendukung lembaga yang bekerja secara lokal (56 persen), atau nasional (55 persen), dibanding organisasi yang bekerja lintas wilayah atau di banyak negara (22 persen).
"Bagi PFI, data ini menegaskan bahwa relevansi lokal, kedekatan sosial, dan kejelasan manfaat adalah fondasi utama penghimpunan dukungan publik bagi organisasi filantropi di Indonesia,” kata Rizal.
Prof Amelia Fauzia, Ketua Dewan Pakar PFI, mencermati dominannya derma keagamaan pada laporan WGR 2026. Secara global, 23 persen orang memberi kepada organisasi keagamaan atau karena alasan agama, sementara 21 persen total nilai sumbangan global disalurkan melalui jalur keagamaan. Secara geografis, sumbangan keagamaan sangat menonjol di Afrika. Negara Kongo, misalnya, mengalokasikan porsi terbesar donasinya melalui jalur religius, yaitu 46 persen dari nilai donasinya.
Sementara di Indonesia , kanal keagamaan berfungsi sebagai pintu masuk kepercayaan donatur, sehingga kualitas tata kelola lembaga berbasis agama dan transparansi penggunaan dana menjadi faktor yang sangat menentukan keberlanjutan donasi.
"Temuan ini menunjukkan bahwa agama bukan sekadar ruang spiritual, tetapi juga kanal sosial yang sangat kuat dalam membentuk perilaku berbagi dan memperluas solidaritas publik. Kepercayaan berbasis agama punya daya mobilisasi yang besar, namun harus diimbangi tata kelola yang kuat agar tidak kehilangan legitimasi," jelasnya.
Temuan lain yang sangat penting, menurut Amelia, adalah pengaruh kepercayaan dan rasa memiliki komunitas pada lembaga terhadap besaran sumbangan yang diberikan. WGR 2026 mencatat bahwa negara-negara di mana lebih dari 80 persen penduduknya memiliki ikatan kuat dengan komunitas lokal cenderung memberi hampir 3 (tiga) kali lebih banyak dibanding negara-negara dengan tingkat keterikatan komunitas yang rendah. Rata‑rata donasi mereka mencapai 1,7% dari pendapatan, dibandingkan hanya 0,6% di negara dengan ikatan komunitas rendah. Laporan ini juga menunjukkan bahwa orang yang melihat dampak positif Lembaga amal di wilayah lokal, peluang berdonasinya jauh lebih besar dan memberi dalam proporsi yang lebih besar dari pendapatan mereka.
"Bagi Indonesia, temuan ini menegaskan pentingnya pendekatan community-led philanthropy yang menempatkan komunitas bukan sekadar penerima manfaat, melainkan pusat legitimasi, partisipasi, dan keberlanjutan filantropi," tuturnya.
Amelia juga menyoroti temuan WGR 2026 dari sisi demografi yang mencatat bahwa kelompok usia 25 sampai 44 tahun merupakan kelompok paling dermawan secara proporsi pendapatan. Kelompok ini ratarata menyumbangkan 1,2 persen dari pendapatan mereka, atau dua kali lebih besar dibanding kelompok usia di atas 55 tahun yang rata-ratanya 0,6 persen.
Lihat Juga :