Mardani: Tunda atau Presiden Jokowi Orkestrasi Langsung Pilkada 2020

Senin, 21 September 2020 - 13:54 WIB
loading...
Mardani: Tunda atau...
Anggota Komisi II DPR RI, Mardani Ali Sera mendesak Pilkada 2020 ditunda atau Presiden Jokowi memimpin langsung orkestrasi pelaksanaan Pilkada. FOTO/DOK.SINDOnews
A A A
JAKARTA - Pelaksanaan Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) serentak 2020 diusulkan ditunda. Hal tersebut melihat banyak calon kepala daerah, penyelenggara, dan pengawas pilkada yang positif COVID-19 .

"Kita sebelumnya terlalu over confident bisa menjalankan Pilkada 2020 di masa pandemi. Perlu evaluasi. Oleh karena itu saya mendesak pemerintah untuk segera mengorkestasi pelaksanaan pilkada serentak 2020 dengan disiplin protokol kesehatan COVID-19 atau tunda saja tahun depan," kata Anggota Komisi II DPR RI, Mardani Ali Sera, Senin (21/9/2020).

Politikus Partai Keadilan Sejahtera (PKS) itu melihat ada potensi ledakan klaster pilkada. Alasannya, pilkada di 270 daerah ini diikuti oleh 1.468 calon dari total 734 pasangan calon (paslon). Pilkada ini diprediksi akan melibatkan 100 juta penduduk. (Baca juga: Paksakan Pilkada saat Pandemi COVID-19, Ganjar: Sangat Berbahaya! )

Sederet nama penyelenggara yang dinyatakan positif COVID-19 adalah Ketua Komisi Pemilihan Umum (KPU) Arief Budiman dan komisioner KPU Pramono Ubaid. Nama calon kepala daerah yang positif, antara lain, Lisa Andriani (Binjai), Suyatno (Rokan Hilir), dan Antoni Imam (Lampung Selatan).

"Setelah beberapa tahapan berjalan, saya merasa kita belum siap. Semakin tingginya positive rate COVID-19 di Indonesia dan pelajaran dari pendaftaran peserta pada 4-6 September yang amburadul, sudah selayaknya ada alternatif kebijakan yang lebih baik untuk keselamatan masyarakat," kata Mardani.

Lulusan Universitas Indonesia (UI) itu menilai pemerintah dan penyelenggara pemilu tidak bisa tegas dan lugas membuat aturan sesuai protokol COVID-19. Orkestrasi yang dimaksud Mardani adalah adanya ketegasan dalam panduan atau peraturan kepada peserta untuk tidak mengumpulkan orang-orang dalam jumlah banyak. (Baca juga: Istana Tegaskan Pilkada 2020 Dilaksanakan Sesuai Jadwal )

Dia mengatakan seharusnya ada hukuman bagi pelanggar dan tidak memperbolehkan konser musik dalam kampanye. Mardani mendesak Presiden Joko Widodo (Jokowi) langsung yang melakukan orkestrasi secara jelas dan tegas itu.

Hal itu untuk mengantisipasi bencana kematian masyarakat yang lebih banyak. Pilihan kebijakan politik yang berisiko dalam situasi ekstrim seperti ini, menurutnya, membutuhkan kepemimpinan yang tegas dan payung hukum yang tidak abu-abu.

"Jangan sampai mengorbankan ribuan nyawa rakyat bahkan jutaan untuk kepentingan elitis semata. Tunda Pilkada 2020 atau Pak Jokowi mengorkestasi lebih baik lagi penyelenggara pemilu (KPU, Bawaslu), Kemendagri, pemerintah daerah, dan semua unsur yang terlibat, seperti Satpol PP dan organisasi masyarakat lainnya," katanya.
(abd)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Berita Terkait
MK Diminta Larang Keluarga...
MK Diminta Larang Keluarga Presiden dan Wapres Ikut Pilpres, PKS: Bagus juga untuk Pilkada
Wacana Pilkada lewat...
Wacana Pilkada lewat DPRD, Pengamat: Akibat Biaya Politik Tinggi
Tahapan Pemilu 2029...
Tahapan Pemilu 2029 Dimulai Tahun Depan, DPR Targetkan RUU Pilkada Rampung 2026
Bertemu Prabowo, Cak...
Bertemu Prabowo, Cak Imin: PKB dari Dulu Inginkan Pilkada melalui DPRD
Bertemu Prabowo, Siti...
Bertemu Prabowo, Siti Zuhro Beri Masukan tentang Sistem Pilkada
Pilkada Langsung Masih...
Pilkada Langsung Masih Diwarnai Praktik Curang, Pelonggaran Syarat Pencalonan Dinilai Perlu
Demo Rusuh Guncang Georgia,...
Demo Rusuh Guncang Georgia, Massa Serbu Istana Presiden
Partai Perindo Papua...
Partai Perindo Papua Selatan Apresiasi MK Tolak Gugatan Hasil PSU Pilkada, Hendrikus Mahuze: Mari Bersama Bangun Boven Digoel!
Ketua KPU Banten Sebut...
Ketua KPU Banten Sebut Penerapan Open Government Data Dukung Pemilu Berkualitas
Rekomendasi
Potongan Aplikasi Gojek...
Potongan Aplikasi Gojek Turun Jadi 8% Mulai 1 Juli 2026, Manajemen GOTO Angkat Suara
Pertama Kali, Dokter...
Pertama Kali, Dokter Belanda Suntik Mati Seorang Anak di Bawah Usia 12 Tahun
IHSG Pagi Ini Dibuka...
IHSG Pagi Ini Dibuka Menguat 0,44 Persen ke Level 6.128
Berita Terkini
Jaksa Agung Singgung...
Jaksa Agung Singgung Wacana Peleburan Pidum-Pidsus demi Penanganan Perkara Lebih Efisien
Evaluasi 6 Bulan KUHP-KUHAP...
Evaluasi 6 Bulan KUHP-KUHAP Baru, Jaksa Agung Sebut Masih Ada Ketidakseragaman di Lapangan
Presiden Prabowo: Hanya...
Presiden Prabowo: Hanya di Indonesia Polisi Ngurus Pertanian, Tentaranya Sering Ada di Sawah
Polemik Ijazah Jokowi,...
Polemik Ijazah Jokowi, Bonatua Silalahi Gugat KPU, Bawaslu, hingga Rektor UGM
Pengacara Sony Sonjaya...
Pengacara Sony Sonjaya Sayangkan Permohonan JC Ditolak Kejagung
Presiden Prabowo: Saya...
Presiden Prabowo: Saya Tahu Siapa yang Bayar Demo
Infografis
Kisah Jenderal Hoegeng...
Kisah Jenderal Hoegeng Menyamar Jadi Hippies, Turun Langsung Bongkar Narkoba
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved