Seskab Teddy soal Prabowo Sering ke Luar Negeri: Dunia Sedang Krisis, Pemimpin Harus Bangun Hubungan
Senin, 01 Juni 2026 - 23:06 WIB
loading...
A
A
A
Dino turut mencontohkan, Presiden Meksiko Claudia Sheinbaum sudah 17 kali menghubungi Presiden AS Donald Trump tanpa melakukan pertemuan bilateral. "Dan dalam kunjungan suatu kunjungan kerja ke Spanyol, Presiden Sheinbaum bahkan terbang naik pesawat komersil kelas ekonomi untuk memberikan tauladan kepada rakyatnya bahwa penghematan yang diserukannya pada seluruh pemerintahannya juga berlaku bagi Presiden di tingkat tertinggi," ujar dia.
Untuk menghemat biaya dan waktu, Dino menyarankan agar Presiden Prabowo dapat memanfaatkan kunjungan ke suatu forum internasional untuk bertemu kepala negara yang turut hadir. Dino turut menyinggung saat kehadiran Prabowo di Sidang PBB di New York tahun lalu. Katanya, Presiden Finlandia Alexander Stubb meminta waktu bertemu Presiden Prabowo. Namun, pertemuan tersebut tak terjadi.
https://www.instagram.com/reels/DZDA2lnPMmq/
Kemudian, dalam KTT Asean di Cebu, Filipina beberapa waktu lalu, Dino menerangkan ada permintaan seorang kepala pemerintah negara ASEAN untuk mengadakan pertemuan bilateral dengan Presiden Prabowo. Namun, pertemuan itu tak terjadi.
"Kami menyarankan Istana menerapkan formula 1+8, yaitu dalam menghadiri forum internasional misalnya ke Davos, PBB di New York, atau ASEAN atau G20 dan sebagainya, sembari menyampaikan pidato, Presiden juga bisa menerima atau bertemu paling tidak dengan 8 kepala negara lain yang juga hadir."
Ketiga, Dino berharap kunjungan internasional Prabowo dapat dilakukan secara profesional dan direncanakan dengan baik. "Kami mengamati ada sejumlah kunjungan yang dilakukan secara spontan tanpa perencanaan dan tujuan yang jelas. Rencana kunjungan internasional Presiden secara garis besar perlu dipetakan setahun sebelumnya."
Dia mengatakan, Seskab Teddy Indra Wijaya atau Menlu Sugiono perlu mengumumkan rencana kunjungan presiden ke suatu negara satu bulan sebelumnya atau minimal seminggu sebelumnya. "Kunjungan Presiden ke Pakistan dan Rusia sewaktu bencana banjir Sumatera misalnya, dilakukan tanpa ada informssi apapun kepada publik sebelum berangkat. Perlu pula diterapkan asas akuntabilitas dan transparansi karena cukup sering publik tidak tahu presiden ada di mana di luar negeri."
Keempat, ia juga menyarankan agar satu tahun ke depan, Presiden Prabowo lebih banyak menerima tamu negara di Indonesia ketimbang melakukan perjalanan ke luar negeri. "Inilah yang dilakukan Presiden Tiongkok Xi Jinping yang jauh lebih banyak menerima tamu negara di Beijing ketimbang bepergian ke luar negeri."
Saran terakhir, ia berharap agar ke depan sebagian besar misi diplomatik yang bersifat taktis dapat dijalankan Menlu Sugiono. Sebab, hal itu bisa mengurangi biaya perjalanan.
"Ini juga akan menghemat biaya, karena biaya perjalanan Menlu mungkin hanya didampingi oleh 3 orang staf, akan jauh lebih hemat dari biaya perjalanan presiden dan hasilnya dari segi substansi juga kurang lebih akan sama," pungkasnya.
Untuk menghemat biaya dan waktu, Dino menyarankan agar Presiden Prabowo dapat memanfaatkan kunjungan ke suatu forum internasional untuk bertemu kepala negara yang turut hadir. Dino turut menyinggung saat kehadiran Prabowo di Sidang PBB di New York tahun lalu. Katanya, Presiden Finlandia Alexander Stubb meminta waktu bertemu Presiden Prabowo. Namun, pertemuan tersebut tak terjadi.
https://www.instagram.com/reels/DZDA2lnPMmq/
Kemudian, dalam KTT Asean di Cebu, Filipina beberapa waktu lalu, Dino menerangkan ada permintaan seorang kepala pemerintah negara ASEAN untuk mengadakan pertemuan bilateral dengan Presiden Prabowo. Namun, pertemuan itu tak terjadi.
"Kami menyarankan Istana menerapkan formula 1+8, yaitu dalam menghadiri forum internasional misalnya ke Davos, PBB di New York, atau ASEAN atau G20 dan sebagainya, sembari menyampaikan pidato, Presiden juga bisa menerima atau bertemu paling tidak dengan 8 kepala negara lain yang juga hadir."
Ketiga, Dino berharap kunjungan internasional Prabowo dapat dilakukan secara profesional dan direncanakan dengan baik. "Kami mengamati ada sejumlah kunjungan yang dilakukan secara spontan tanpa perencanaan dan tujuan yang jelas. Rencana kunjungan internasional Presiden secara garis besar perlu dipetakan setahun sebelumnya."
Dia mengatakan, Seskab Teddy Indra Wijaya atau Menlu Sugiono perlu mengumumkan rencana kunjungan presiden ke suatu negara satu bulan sebelumnya atau minimal seminggu sebelumnya. "Kunjungan Presiden ke Pakistan dan Rusia sewaktu bencana banjir Sumatera misalnya, dilakukan tanpa ada informssi apapun kepada publik sebelum berangkat. Perlu pula diterapkan asas akuntabilitas dan transparansi karena cukup sering publik tidak tahu presiden ada di mana di luar negeri."
Keempat, ia juga menyarankan agar satu tahun ke depan, Presiden Prabowo lebih banyak menerima tamu negara di Indonesia ketimbang melakukan perjalanan ke luar negeri. "Inilah yang dilakukan Presiden Tiongkok Xi Jinping yang jauh lebih banyak menerima tamu negara di Beijing ketimbang bepergian ke luar negeri."
Saran terakhir, ia berharap agar ke depan sebagian besar misi diplomatik yang bersifat taktis dapat dijalankan Menlu Sugiono. Sebab, hal itu bisa mengurangi biaya perjalanan.
"Ini juga akan menghemat biaya, karena biaya perjalanan Menlu mungkin hanya didampingi oleh 3 orang staf, akan jauh lebih hemat dari biaya perjalanan presiden dan hasilnya dari segi substansi juga kurang lebih akan sama," pungkasnya.
(zik)
Lihat Juga :