Mengelola Sawit untuk Indonesia yang Kuat

Sabtu, 23 Mei 2026 - 20:41 WIB
loading...
Mengelola Sawit untuk...
Buku berjudul 45 Tahun GAPKI untuk Negeri: Berkontribusi Mewujudkan Indonesia Emas 2045. Foto: SindoNews
A A A
JAKARTA - Sejarah selalu memberi jejak. Lebih dari sekadar kenangan, mereka yang optimistis akan menempatkan ukiran kisah masa lalu laksana cermin untuk menatap dan menata rute panjang di depan yang tak kalah menantang. Demikianlah para penulis yang meluncurkan buku bertepatan hari jadi Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (GAPKI) bermaksud.

Hasrat itu mereka sampaikan dengan sangat lugas, penuh data dan fakta serta analisis sembari memberi sentuhan emosional. Buku yang diberi judul “45 Tahun GAPKI untuk Negeri: Berkontribusi Mewujudkan Indonesia Emas 2045” ini ingin kembali meremajakan ingatan yang sesungguhnya sangat sentimental bagi Presiden Prabowo Subianto.

Betapa tidak, gagasan awal dan ide kelahiran asosiasi dengan semangat nasionalisme dan tekad turut memajukan Indonesia ini justru bermula dari buah pikiran ayah kandung presiden kita bersama: Prof. Soemitro Djojohadikoesoemo!

Tidak hanya menyarankan para usahawan sawit untuk mengorganisasi diri agar industri ini dapat berkontribusi bagi kemajuan republik, perumus kebijakan ekonomi Indonesia sejak awal kemerdekaan, Menteri Keuangan (1951-1952), Menteri Perindustrian (1973-1978) dan Menteri Riset dan Teknologi (1978-1983) tersebut bahkan memfasilitasi pertemuan dengan para pejabat masa itu yang tidak mudah terjadi tanpa bantuannya.

Februari 1981, GAPKI, asosiasi itu akhirnya terbentuk. Sesuai pemikiran sang begawan ekonomi, untuk menghadapi permasalahan industri sawit yang semakin kompleks, potensi komoditas strategis Indonesia ini perlu didorong dengan wadah komunikasi yang efektif untuk berdialog dengan pemerintah, petani sawit, masyarakat maupun pemain global.

Begitulah kiprah GAPKI sejak lahir hingga sekarang yang dapat dibagi dalam tiga fase. Mulai dari tahap membangun perkebunan sawit nasional (1981-1999), menakhodai industri sawit menghadapi tekanan global (2000-2015) hingga tahap konsolidasi menuju tata kelola berkelanjutan (2016-2025), GAPKI mencoba memainkan peran yang konstruktif sambil terus memperkuat internal organisasi.

Tak sekadar memberi gambaran tentang proses yang panjang serta dinamika sikap dan dukungan pemerintah terhadap industri sawit, dalam setiap langkah juga tersirat keberanian GAPKI berargumentasi dan mengambil risiko, plus kecermatan membaca hakikat interaksi global yang mau tak mau harus dimaknai sebagai trade war dalam industri minyak nabati.

Ke dalam negeri, pendekatannya pun non-konfrontatif, karena ini semua bukan pertarungan zero-sum game. Positioning paling tepat dan menjadi pilihan –sebagaimana dirumuskan para pendiri-- GAPKI bertindak sebagai mitra strategis pemerintah.

Public Sphere


Dalam konteks kebijakan publik dan demokrasi, banyak kemiripan antara terminologi “mitra strategis” dan gambaran Jürgen Habermas mengenai public sphere: medium yang memungkinkan opini-opini masyarakat masuk dan mewarnai keputusan politik.

Filsuf Jerman dari Frankfurt School itu memastikan bahwa kehidupan bernegara yang sehat dan deliberatif sangat mensyaratkan adanya ruang tempat terjadinya mediasi beragam kepentingan. Peningkatan literasi kelas menengah di Eropa abad ke-18 memungkinkan gagasan dan sikap pemerintah menjadi diskursus publik.

Pada kasus GAPKI, pengetahuan para pelaku industri sawit sangat berperan dalam membuat perjalanan industri sawit lebih baik dari pada komoditas lain. Banyak produk agribisnis Indonesia yang sempat berjaya dengan keunggulan komparatif namun terjerembab karena keliru menyikapi regulasi, lemah dalam membersamai pemerintah dan lengah memahami peta maupun diplomasi perdagangan dunia.

Tak mengherankan bila semua kebijakan terkait sawit, semisal domestic market obligation, pungutan ekspor, biofuel, hingga Renewable Energy Directive (RED), European Union Deforestation Regulation (EUDR), maupun UK Due Diligence Law serta global policy lainnya tak pernah luput dari perhatian GAPKI. Komunikasi memainkan peran penting.

Konsep public sphere kemudian dikembangkan Habermas hingga pemikir aliran kritis ini memperkenalkan teori communicative action. Sebuah kesepakatan yang rasional, menurutnya, tidak dicapai karena keistimewaan yang dimiliki partisipan tertentu.

Posisi politis pejabat negara, pengusaha, petani sawit, masyarakat konsumen terkait crude palm oil tentu tidak setara. Kesepakatan yang demokratis terbentuk semata-mata karena semua partisipan terikat dengan bukti dan kekuatan yang terkandung dalam argumen-argumen yang diajukan.

Di titik ini, riset-riset menjadi pekerjaan yang semakin penting bagi GAPKI. Tidak hanya untuk membekali tiap dialog di dalam negeri maupun tingkat internasional agar dialektikanya bergerak makin positif, penelitian dan pencarian kembali menjadi sesuatu yang wajib dilakukan sebagaimana dituangkan pada poin kelima catatan penutup bila ingin sawit Indonesia tetap menguasai dunia.

“Riset dan pengembangan menjadi fondasi penting untuk menjaga produktivitas, meningkatkan nilai tambah serta menjawab tantangan keberlanjutan.”

Referensi bagi petani sawit dan korporasi


Buku setebal 286 halaman ini begitu gamblang memaparkan apa yang sejatinya penting dilakukan para pelaku di industri sawit, terutama langkah-langkah yang sejalan dengan visi Asta Cita.

Selain meningkatkan produktivitas dan konsisten membersamai petani sawit, pekerjaan rumah yang masih tertunda adalah menjaga soliditas di antara sesama pelaku industri ini.

Mendekati usia golden age, upaya memajukan Indonesia melalui komoditas sawit tentu akan lebih berenergi ketika petani rakyat terus mengorganisasi diri dan ribuan korporasi sawit swasta maupun negara merapatkan barisan, bergandengan tangan dalam rumah bersama: GAPKI.

Peresensi: Wuri Ayu Dwi Hartanti, Mahasiswa Program Doktor UNPAD yang tengah meneliti EUDR

Judul : 45 Tahun GAPKI untuk Negeri: Berkontribusi Mewujudkan Indonesia Emas 2045
Penerbit: Kepustakaan Populer Gramedia
Penulis: Joko Supriyono, Satrija Budi Wibawa, Mukti Sardjono, Lalang Buana
Halaman: xxv + 286 hlm.
(rca)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Berita Terkait
B50: Strategi Diplomasi...
B50: Strategi Diplomasi Sawit Berkelanjutan
Implementasi B50 Perkuat...
Implementasi B50 Perkuat Ketahanan Energi dan Tingkatkan Nilai Tambah Sawit
Buku Laku Spiritual...
Buku Laku Spiritual Pak Harto, Indonesia, dan Kejawen Diluncurkan, Kupas Cara Soeharto Tunjuk Pembantunya
BPDP Buka Pendaftaran...
BPDP Buka Pendaftaran Beasiswa SDM Sawit 2026
Mengenal System Shift,...
Mengenal System Shift, Kerangka Baru Membaca Perubahan Dunia
Mudiruna, Kisah Ulama...
Mudiruna, Kisah Ulama Cahaya dari Rumah Sederhana
TAP Untuk Negeri Perkuat...
TAP Untuk Negeri Perkuat Produktivitas Petani Sawit Dukung Program B50
Pekebun Sawit di Bengkulu...
Pekebun Sawit di Bengkulu Selatan Dilatih Budidaya dan Pemetaan Modern
B50 Dimulai 1 Juli,...
B50 Dimulai 1 Juli, Mampukah Jadi Solusi Ketahanan Energi Tanpa Mengorbankan Petani Sawit?
Rekomendasi
IAEA Yakin Persediaan...
IAEA Yakin Persediaan Uranium yang Diperkaya Masih Tersimpan di Fasilitas Nuklir Iran
Penampakan Lamborghini...
Penampakan Lamborghini hingga Aset Mewah Tersangka Aseng yang Disita Kejagung
Gen Z Berekspresi, 510...
Gen Z Berekspresi, 510 STUDIOS Bawa Tren Self-Photo ke Lampung Selatan
Berita Terkini
PDIP: Tingginya Biaya...
PDIP: Tingginya Biaya Politik Tuntas dengan Perbaikan Regulasi, Bukan Pilkada Tak Langsung
Diperiksa Kemendagri...
Diperiksa Kemendagri 8 Jam soal Konten Lagunya, Bupati Purwakarta Minta Maaf dan Akui Salah
KPK Tetapkan Bupati...
KPK Tetapkan Bupati Langkat Tersangka Kasus Dugaan Suap
Tingginya Kasus Kanker...
Tingginya Kasus Kanker Paru: Tantangan Skrining, Diagnosis, hingga Akses Terapi
Andi Azwan: Sikap Roy...
Andi Azwan: Sikap Roy Suryo Tempuh Praperadilan Tindakan Pengecut
Tegaskan MBG Lanjut...
Tegaskan MBG Lanjut Terus, Hashim: Tak Berhenti sampai Berhasil
Infografis
Sensus Ekonomi 2026:...
Sensus Ekonomi 2026: Data untuk Memperkuat UMKM dan Meningkatkan Kesejahteraan Masyarakat
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved