Denny JA Nilai Prabowo Sedang Bangun Fondasi Indonesia Baru
Jum'at, 22 Mei 2026 - 13:03 WIB
loading...
A
A
A
Dalam pidatonya, Prabowo menyebut Indonesia mencatat surplus perdagangan sekitar USD436 miliar selama 22 tahun terakhir. Namun, sekitar USD343 miliar disebut kembali mengalir ke luar negeri. Jika dirata-ratakan, angka kebocoran itu mencapai sekitar USD15,6 miliar atau sekitar Rp265 triliun per tahun.
Lihat video: TEGAS! Presiden Prabowo Yakin Ekonomi RI Melesat, Tekan Ekspor Wajib Satu Pintu
Selain itu, Prabowo juga menyinggung estimasi kerugian akibat praktik under-invoicing selama 34 tahun yang disebut mencapai USD908 miliar atau sekitar Rp15.400 triliun.
Menurut Denny JA, data tersebut merujuk pada pidato resmi Presiden Prabowo yang mengolah catatan Badan Pusat Statistik (BPS), Bank Indonesia, dan Kementerian Keuangan selama dua dekade terakhir. “Ini bukan sekadar kebocoran kecil. Ini lubang besar dalam struktur ekonomi nasional,” katanya.
Denny JA menilai arah kebijakan ekonomi Prabowo memiliki kemiripan dengan konsep developmental state yang pernah diterapkan negara-negara Asia Timur seperti Jepang, Korea Selatan, dan Taiwan.
Negara-negara tersebut, katanya, berhasil menjadi kekuatan industri dunia bukan semata karena pasar bebas, melainkan karena negara hadir aktif dalam menentukan sektor strategis, membangun industri nasional, mengarahkan investasi, melindungi industri muda, serta mendorong transfer teknologi.
“Jepang, Korea Selatan, dan Taiwan tidak naik kelas hanya dengan menjual bahan mentah. Mereka maju karena negara memimpin industrialisasi dengan disiplin dan visi jangka panjang,” ujarnya.
Lihat video: TEGAS! Presiden Prabowo Yakin Ekonomi RI Melesat, Tekan Ekspor Wajib Satu Pintu
Selain itu, Prabowo juga menyinggung estimasi kerugian akibat praktik under-invoicing selama 34 tahun yang disebut mencapai USD908 miliar atau sekitar Rp15.400 triliun.
Menurut Denny JA, data tersebut merujuk pada pidato resmi Presiden Prabowo yang mengolah catatan Badan Pusat Statistik (BPS), Bank Indonesia, dan Kementerian Keuangan selama dua dekade terakhir. “Ini bukan sekadar kebocoran kecil. Ini lubang besar dalam struktur ekonomi nasional,” katanya.
Denny JA menilai arah kebijakan ekonomi Prabowo memiliki kemiripan dengan konsep developmental state yang pernah diterapkan negara-negara Asia Timur seperti Jepang, Korea Selatan, dan Taiwan.
Negara-negara tersebut, katanya, berhasil menjadi kekuatan industri dunia bukan semata karena pasar bebas, melainkan karena negara hadir aktif dalam menentukan sektor strategis, membangun industri nasional, mengarahkan investasi, melindungi industri muda, serta mendorong transfer teknologi.
“Jepang, Korea Selatan, dan Taiwan tidak naik kelas hanya dengan menjual bahan mentah. Mereka maju karena negara memimpin industrialisasi dengan disiplin dan visi jangka panjang,” ujarnya.
Lihat Juga :