Denny JA Nilai Prabowo Sedang Bangun Fondasi Indonesia Baru
Jum'at, 22 Mei 2026 - 13:03 WIB
loading...
A
A
A
Meski demikian, Denny JA mengingatkan keberhasilan model tersebut tidak hanya ditentukan oleh negara yang kuat, tetapi juga birokrasi yang meritokratis, profesional, disiplin, dan berorientasi hasil.
Karena itu, kebijakan ekspor satu pintu melalui BUMN hanya akan berhasil jika dijalankan secara transparan, berbasis teknologi digital, didukung sistem pemantauan real-time, audit independen internasional, serta seleksi direksi yang profesional. “Jika tidak, kebocoran lama hanya pindah rumah: dari swasta gelap ke birokrasi gelap,” katanya.
Dalam esainya, Denny JA juga mengingatkan risiko besar jika nasionalisme ekonomi dijalankan tanpa tata kelola yang sehat. Ia mencontohkan Venezuela dan Nigeria sebagai negara kaya sumber daya alam yang gagal memanfaatkan kekayaannya akibat lemahnya institusi dan tingginya korupsi.
“Pelajaran dunia sangat jelas: negara kuat tanpa integritas bisa berubah menjadi predator. Tetapi negara kuat dengan kompetensi bisa menjadi pembangun peradaban,” ujarnya.
Denny JA menegaskan pidato Prabowo hanya akan dikenang jika benar-benar diwujudkan dalam disiplin tata kelola, bukan sekadar retorika politik. “Indonesia memang kaya. Tetapi kekayaan tanpa institusi hanya menjadi cerita sedih. Nasionalisme tanpa kompetensi menjadi slogan. Negara kuat tanpa akuntabilitas menjadi bahaya,” ucapnya.
Namun, jika negara mampu menutup kebocoran ekonomi, memimpin industrialisasi, menjaga pasar tetap hidup, serta memastikan kekayaan alam kembali kepada rakyat, Denny JA meyakini Indonesia dapat memasuki babak baru sejarahnya. “Jika berhasil, Prabowo meletakkan fondasi Indonesia baru. Ia akan dikenang sebagai Bapak Kemandirian Bangsa,” katanya.
Karena itu, kebijakan ekspor satu pintu melalui BUMN hanya akan berhasil jika dijalankan secara transparan, berbasis teknologi digital, didukung sistem pemantauan real-time, audit independen internasional, serta seleksi direksi yang profesional. “Jika tidak, kebocoran lama hanya pindah rumah: dari swasta gelap ke birokrasi gelap,” katanya.
Dalam esainya, Denny JA juga mengingatkan risiko besar jika nasionalisme ekonomi dijalankan tanpa tata kelola yang sehat. Ia mencontohkan Venezuela dan Nigeria sebagai negara kaya sumber daya alam yang gagal memanfaatkan kekayaannya akibat lemahnya institusi dan tingginya korupsi.
“Pelajaran dunia sangat jelas: negara kuat tanpa integritas bisa berubah menjadi predator. Tetapi negara kuat dengan kompetensi bisa menjadi pembangun peradaban,” ujarnya.
Denny JA menegaskan pidato Prabowo hanya akan dikenang jika benar-benar diwujudkan dalam disiplin tata kelola, bukan sekadar retorika politik. “Indonesia memang kaya. Tetapi kekayaan tanpa institusi hanya menjadi cerita sedih. Nasionalisme tanpa kompetensi menjadi slogan. Negara kuat tanpa akuntabilitas menjadi bahaya,” ucapnya.
Namun, jika negara mampu menutup kebocoran ekonomi, memimpin industrialisasi, menjaga pasar tetap hidup, serta memastikan kekayaan alam kembali kepada rakyat, Denny JA meyakini Indonesia dapat memasuki babak baru sejarahnya. “Jika berhasil, Prabowo meletakkan fondasi Indonesia baru. Ia akan dikenang sebagai Bapak Kemandirian Bangsa,” katanya.
(cip)
Lihat Juga :