Kontroversi Puan Maharani

Senin, 21 September 2020 - 06:53 WIB
loading...
A A A
Nurcholish Madjid dalam Indonesia Kita (2004) mengingatkan bahwa Indonesia masih terus dalam proses penjadian diri (nation in making) yang membutuhkan pengembangan pemikiran mendasar tentang kebangsaan dan kenegaraan. Kemerdekaan yang didapat bukan sesuatu yang datang (given) dari langit. Tapi melalui proses sejarah yang panjang dan berliku. Tak mudah bangsa ini bersatu. Rekatan batin persatuan dianyam melalui proses yang rumit.

Karenanya, jangan lagi ada klaim paling benar. Merasa paling Pancasilais sambil menuding pihak lain tak Pancasilais. Indonesia mesti dirawat dengan narasi menyejukkan. Bukan menebar kebencian. Elit negara seperti pimpinan DPR mesti bicara tentang pentingnya bergandengan tangan di tengah Pandemi. Jangan sibuk berjibaku bicara politik elektoral. Korona mestinya menjadi momentum menyatukan sesama anak bangsa.

Kita harus selalu ingat proyek keindonesiaan belum selesai. Butuh asupan gizi politik kebangsaan yang merekatkan. Pesta kemerdekaan yang baru dirayakan mesti dikonsolidir demi memperkuat persaudaraan di tengah badai krisis kesehatan dan ekonomi.

Kunci merawat Indonesia itu cukup sederhana. Buang jauh ke tong sampah perasaan superior. Baik superior secara kekusaan politik, ekonomi, hukum, dan SARA. Di berbagai belahan negara, perasaan superior dan inferior menjadi sumber kekacaun. Bahkan menjadi biang keladi kehancuran kehidupan bernegara.

Oleh karena itu, pernyataan Puan Maharani soal Sumatera Barat mesti disikapi dewasa. Harus diletakkan dalam konteks sebagai pelajaran penting bahwa urusan politik hanyalah soal kalah menang. Bukan soal Pancasilais dan tidak. Politik elektoral sebatas kompetisi merebut jabatan politik. Bukan urusan siapa yang paling Indonesia dan bukan Indonesia.

Pada titik inilah basis kognitif kita harus selesai. Jangan pernah menjadikan ideologi negara maupun sentimen agama sebagai instrumen yang diseret jauh dalam pusaran politik. Sekali lagi, politik itu soal berebut kue kuasaan. Bukan mencari siapa yang paling berjasa di negara ini.
(ras)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Rekomendasi
Gempa Magnitudo 5,8...
Gempa Magnitudo 5,8 Guncang Ternate Maluku Utara Pagi Ini
Pembangunan Jalan Tol...
Pembangunan Jalan Tol Akses Pelabuhan Patimban Capai 68%
Ada Perusahaan Menolak...
Ada Perusahaan Menolak Didata Sensus Ekonomi 2026, Siap-siap! Dibina Kemenperin
Berita Terkini
Sebut 108 UU Perlu Diubah,...
Sebut 108 UU Perlu Diubah, Cak Imin: Omnibus Law Ciptaker hingga Agraria
KPK: Sebelum Serahkan...
KPK: Sebelum Serahkan Amplop ke Menhut, Bupati Kuansing Kumpulkan SGD 46.500
PPATK Ungkap Perputaran...
PPATK Ungkap Perputaran Dana Judi Online Turun hingga Rp286,84 Triliun di Era Prabowo
Yane Bima Arya Harap...
Yane Bima Arya Harap Setiap Anak Peroleh Kasih Sayang dan Rasa Aman
90 AKBP Dapat Promosi...
90 AKBP Dapat Promosi Jabatan Jadi Kombes Pol pada Mutasi Juni 2026, Ini Namanya
Samin Tan Cs Segera...
Samin Tan Cs Segera Disidang Kasus Korupsi Tambang
Infografis
Sejarah, Puan Maharani...
Sejarah, Puan Maharani Menjadi Ketua DPR 2 Periode
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved