Kritik dalam Film Pesta Babi Jadi Bahan Evaluasi Pembangunan di Papua
Selasa, 19 Mei 2026 - 21:41 WIB
loading...
A
A
A
"Film ini cuma menggambarkan semacam gunung es dari fakta. Ada tiga hal, fakta peminggiran masyarakat adat, pengerusakan alam, dan orientasi pembangunan yang semakin tidak manusia," ujarnya.
Menurut Musdah, dia tidak ingin menyalahkan siapa-siapa, tapi dari dekade ke dekade berikutnya perbaikan untuk Papua itu belum signifikan. Dia melihat dari perspektif perempuan dan anak., karena itulah kelompok paling terdampak dari kegiatan pembangunan seperti diungkapkan dalam film.
"Jadi, film itu sebenarnya hanya mengungkap satu titik di antara mungkin ratusan titik di Indonesia. Di Jawa misalnya bagaimana masyarakat Kendeng, masyarakat Samin mengalami proses-proses perusakan alam, di Jambi, di Sumatera Utara yang kemarin banjir, Aceh, coba perhatikan seperti apa kondisi perusakan alam di sana," tuturnya.
Dia menerangkan, persoalan di Papua itu sangat menarik lantaran merupakan sebuah wilayah yang secara geopolitik itu sangat seksi. Dan, itu problemnya. Maka itu, dirinya mendorong pemerintah supaya mengubah paradigma pembangunan.
"Karena semua kerusakan-kerusakan alam yang terjadi atas dasar pembangunan, kadang saya bertanya pembangunan itu untuk siapa. Karena kalau saya lihat Freeport saja yang sudah puluhan tahun di sana itu tidak mengubah apa-apa terhadap orang Papua asli," katanya.
Menurut Musdah, dia tidak ingin menyalahkan siapa-siapa, tapi dari dekade ke dekade berikutnya perbaikan untuk Papua itu belum signifikan. Dia melihat dari perspektif perempuan dan anak., karena itulah kelompok paling terdampak dari kegiatan pembangunan seperti diungkapkan dalam film.
"Jadi, film itu sebenarnya hanya mengungkap satu titik di antara mungkin ratusan titik di Indonesia. Di Jawa misalnya bagaimana masyarakat Kendeng, masyarakat Samin mengalami proses-proses perusakan alam, di Jambi, di Sumatera Utara yang kemarin banjir, Aceh, coba perhatikan seperti apa kondisi perusakan alam di sana," tuturnya.
Dia menerangkan, persoalan di Papua itu sangat menarik lantaran merupakan sebuah wilayah yang secara geopolitik itu sangat seksi. Dan, itu problemnya. Maka itu, dirinya mendorong pemerintah supaya mengubah paradigma pembangunan.
"Karena semua kerusakan-kerusakan alam yang terjadi atas dasar pembangunan, kadang saya bertanya pembangunan itu untuk siapa. Karena kalau saya lihat Freeport saja yang sudah puluhan tahun di sana itu tidak mengubah apa-apa terhadap orang Papua asli," katanya.
(zik)
Lihat Juga :