Sudirman Said Ungkap Tiga Faktor yang Mengancam Keamanan Energi
Kamis, 30 April 2026 - 21:40 WIB
loading...
A
A
A
Data Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan, total impor migas Indonesia pada 2025 mencapai 55,33 juta ton; nilainya adalah USD32,77 miliar atau sekitar USD89,8 juta per hari. Pada harga brent yang kini berkisar USD96-111 per barel, angka harian tersebut telah melampaui ambang USD100 juta. Pasar langsung meresponsnya.
Baca juga: Peringati Sumpah Pemuda, Sudirman Said Ajak Generasi Muda Kembalikan Kepemimpinan Moral
Pada 29 April 2026, rupiah merosot ke rekor terendah sepanjang masa, yakni Rp17.326 per USD1, tertekan harga brent yang bertahan di kisaran USD111 dolar per barel selama delapan hari berturut-turut. Kombinasi antara mahalnya minyak dunia dan melemahnya rupiah menciptakan tekanan ganda bagi struktur biaya energi dalam negeri.
Namun, apakah itu merupakan ancaman terbesar bagi keamanan energi (energy security) Indonesia? “Bukan. Ancaman terbesar datangnya justru dari dalam negeri, mencakup tiga aspek fundamental,” ungkap Sudirman.
Apakah tiga aspek fundamental itu? "Pertama adalah kesukaan pada short-termism atau pola pikir jangka pendek. Kedua, dominannya politik dan kebijakan populis. Ketiga, maraknya konflik-kepentingan antara pengambil kebijakan dan pelaku usaha yang celakanya makin terang-terangan tanpa malu,” papar Sudirman.
Kombinasi dari ketiga biang kerok masalah itu, imbuh Sudirman, berujung pada satu konsekuensi, yakni kegagalan sistemik dalam mengelola urusan-urusan strategis berdimensi jangka panjang.
Baca juga: Peringati Sumpah Pemuda, Sudirman Said Ajak Generasi Muda Kembalikan Kepemimpinan Moral
Pada 29 April 2026, rupiah merosot ke rekor terendah sepanjang masa, yakni Rp17.326 per USD1, tertekan harga brent yang bertahan di kisaran USD111 dolar per barel selama delapan hari berturut-turut. Kombinasi antara mahalnya minyak dunia dan melemahnya rupiah menciptakan tekanan ganda bagi struktur biaya energi dalam negeri.
Namun, apakah itu merupakan ancaman terbesar bagi keamanan energi (energy security) Indonesia? “Bukan. Ancaman terbesar datangnya justru dari dalam negeri, mencakup tiga aspek fundamental,” ungkap Sudirman.
Apakah tiga aspek fundamental itu? "Pertama adalah kesukaan pada short-termism atau pola pikir jangka pendek. Kedua, dominannya politik dan kebijakan populis. Ketiga, maraknya konflik-kepentingan antara pengambil kebijakan dan pelaku usaha yang celakanya makin terang-terangan tanpa malu,” papar Sudirman.
Kombinasi dari ketiga biang kerok masalah itu, imbuh Sudirman, berujung pada satu konsekuensi, yakni kegagalan sistemik dalam mengelola urusan-urusan strategis berdimensi jangka panjang.
Lihat Juga :