‘Perang Tiga Poros’ di Muktamar NU 2026, dari Istana hingga Pesantren
Senin, 27 April 2026 - 06:56 WIB
loading...
A
A
A
“Poros ini kuat di jalur komunikasi dengan kekuasaan. Mereka menawarkan stabilitas dan sinergi,” ujar lanjut alumnus magister ilmu politik FISIP UNAIR ini.
Sementara itu, poros ketiga adalah poros kultural dan grass root alias akar rumput, yang diisi oleh tokoh seperti mantan Ketua PWNU Jatim KH Marzuqi Mustamar dan figur muda asal Jombang KH Abdussalam Shobih atau yang akrab disapa Gus Salam. Kelompok ini mengusung narasi 'kembali ke pesantren' dan penguatan otonomi cabang.
“Mereka bermain di wilayah emosional dan ideologis. Basis kelompok ini kuat di akar rumput karena pendekatannya lebih langsung,” tegas pria asal Madura ini.
Isu Tambang Jadi Pemicu (H2)
Di balik pertarungan tiga poros tersebut, isu pengelolaan konsesi tambang oleh PBNU menjadi salah satu faktor pemicu utama. Menurut Bustomi, wilayah-wilayah dengan kekayaan sumber daya alam seperti Kalimantan dan Sumatera kini jauh lebih kritis dalam menentukan pilihan.
Mereka menuntut keseimbangan antara kemandirian ekonomi organisasi dan komitmen terhadap nilai-nilai keumatan.
“Isu tambang ini membelah. Ada yang melihatnya sebagai peluang kemandirian, tapi ada juga yang khawatir soal dampak sosial dan lingkungan,” ujarnya.
Bustomi menegaskan bahwa suara di tingkat PWNU dan PCNU akan sangat ditentukan oleh tiga isu mulai dari isu finansial, netralitas politik menuju Pilpres 2029, serta isu kesejahteraan.
Menurutnya, isu kesejahteraan misalnya akan menjadi faktor paling konkret yang dirasakan langsung oleh pengurus di daerah, meski sering luput dari perhatian elit di pusat.
Sementara itu, poros ketiga adalah poros kultural dan grass root alias akar rumput, yang diisi oleh tokoh seperti mantan Ketua PWNU Jatim KH Marzuqi Mustamar dan figur muda asal Jombang KH Abdussalam Shobih atau yang akrab disapa Gus Salam. Kelompok ini mengusung narasi 'kembali ke pesantren' dan penguatan otonomi cabang.
“Mereka bermain di wilayah emosional dan ideologis. Basis kelompok ini kuat di akar rumput karena pendekatannya lebih langsung,” tegas pria asal Madura ini.
Isu Tambang Jadi Pemicu (H2)
Di balik pertarungan tiga poros tersebut, isu pengelolaan konsesi tambang oleh PBNU menjadi salah satu faktor pemicu utama. Menurut Bustomi, wilayah-wilayah dengan kekayaan sumber daya alam seperti Kalimantan dan Sumatera kini jauh lebih kritis dalam menentukan pilihan.
Mereka menuntut keseimbangan antara kemandirian ekonomi organisasi dan komitmen terhadap nilai-nilai keumatan.
“Isu tambang ini membelah. Ada yang melihatnya sebagai peluang kemandirian, tapi ada juga yang khawatir soal dampak sosial dan lingkungan,” ujarnya.
Bustomi menegaskan bahwa suara di tingkat PWNU dan PCNU akan sangat ditentukan oleh tiga isu mulai dari isu finansial, netralitas politik menuju Pilpres 2029, serta isu kesejahteraan.
Menurutnya, isu kesejahteraan misalnya akan menjadi faktor paling konkret yang dirasakan langsung oleh pengurus di daerah, meski sering luput dari perhatian elit di pusat.
Lihat Juga :