‘Perang Tiga Poros’ di Muktamar NU 2026, dari Istana hingga Pesantren
Senin, 27 April 2026 - 06:56 WIB
loading...
A
A
A
“Yang menentukan nanti bukan hanya narasi besar, tapi siapa yang bisa menjawab kebutuhan riil di bawah. Ini juga penting diperhatikan oleh poros-poros tersebut,” katanya.
Selain pertarungan di level struktural, Bustomi juga menyoroti potensi 'perang data' di media sosial yang akan mewarnai Muktamar. Infografis, survei, hingga video pendek diprediksi menjadi alat utama dalam membentuk opini.
“Ruang digital akan jadi arena baru. Persepsi bisa dibentuk lewat data, tapi juga bisa dimanipulasi dan itu telah, sedang dan akan terus berlangsung” ujarnya.
Ia juga mengingatkan potensi praktik politik uang yang kerap muncul dalam momentum Muktamar. Menurutnya, transparansi publik perlu diperkuat untuk menjaga integritas forum tertinggi organisasi tersebut.
“Harus ada keberanian untuk menolak dan mengungkap praktik money politics. Kalau perlu, viralkan agar ada efek jera,” tegasnya.
Muktamar ke-35 NU, lanjut dia, akan menjadi penentu arah besar organisasi apakah tetap bergerak dengan pola komando dan hierarkis atau kembali menguatkan basis kultural dari bawah.
“Ini bukan sekadar kontestasi elite. Ini soal masa depan NU,” tandas Bustomi.
Selain pertarungan di level struktural, Bustomi juga menyoroti potensi 'perang data' di media sosial yang akan mewarnai Muktamar. Infografis, survei, hingga video pendek diprediksi menjadi alat utama dalam membentuk opini.
“Ruang digital akan jadi arena baru. Persepsi bisa dibentuk lewat data, tapi juga bisa dimanipulasi dan itu telah, sedang dan akan terus berlangsung” ujarnya.
Ia juga mengingatkan potensi praktik politik uang yang kerap muncul dalam momentum Muktamar. Menurutnya, transparansi publik perlu diperkuat untuk menjaga integritas forum tertinggi organisasi tersebut.
“Harus ada keberanian untuk menolak dan mengungkap praktik money politics. Kalau perlu, viralkan agar ada efek jera,” tegasnya.
Muktamar ke-35 NU, lanjut dia, akan menjadi penentu arah besar organisasi apakah tetap bergerak dengan pola komando dan hierarkis atau kembali menguatkan basis kultural dari bawah.
“Ini bukan sekadar kontestasi elite. Ini soal masa depan NU,” tandas Bustomi.
(shf)
Lihat Juga :