Optimalisasi Lahan PLTS, Solar Grazing Jadi Kunci Ketahanan Energi
Rabu, 15 April 2026 - 20:21 WIB
loading...
CEO PT Gema Aset Solusindo Syam Basrijal mengungkapkan efisiensi proyek PLTS kini tidak lagi hanya diukur dari biaya konstruksi atau tarif listrik yang dihasilkan. Foto: Ist
A
A
A
JAKARTA - Efisiensi proyek Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) kini tidak lagi hanya diukur dari biaya konstruksi atau tarif listrik yang dihasilkan. Integrasi antara sektor energi dan peternakan atau yang dikenal sebagai solar grazing mulai dilirik sebagai strategi krusial untuk menekan biaya operasional sekaligus memperkuat ketahanan bisnis jangka panjang.
CEO PT Gema Aset Solusindo Syam Basrijal mengungkapkan selama ini fase operasional dalam siklus hidup PLTS yang mencapai 25–30 tahun kerap terabaikan, terutama dalam hal pengendalian vegetasi. Di wilayah tropis seperti Indonesia, pertumbuhan rumput yang cepat memerlukan biaya pemeliharaan signifikan.
Baca juga: Pemanfaatan Energi Terbarukan dan Konservasi Energi untuk Ketahanan Energi Nasional
"Solar grazing mengubah cara kita membaca efisiensi, bukan hanya pada bagaimana membangun pembangkit, tetapi bagaimana mengelola ruangnya secara berkelanjutan," ujar Syam, Senin (13/4/2026).
Lahan seharusnya dipandang sebagai bagian dari sistem produksi yang bisa terus dioptimalkan, bukan sekadar tempat berdirinya panel.
Secara teknis, penggunaan hewan ternak untuk menjaga ketinggian rumput dapat menggantikan metode konvensional seperti mesin pemotong atau herbisida. Syam mencatat metode biologis ini mampu memangkas biaya pengelolaan vegetasi secara drastis.
"Pada beberapa praktik internasional, pengurangan biaya pengelolaan vegetasi bisa mencapai 20–40% dibanding metode konvensional," ucapnya.
Selain hemat biaya, sistem ini juga meminimalkan emisi karbon karena berkurangnya penggunaan bahan bakar mesin pemotong. Lebih jauh, lahan yang selama ini dianggap sebagai zona penyangga tak produktif kini bertransformasi menjadi area produksi protein hewani.
Dengan kepadatan sekitar 5–10 domba per hektare, investor dapat memperoleh dua aliran nilai sekaligus dari satu aset listrik dan pendapatan dari ternak. "Lahan yang sebelumnya dianggap non-productive buffer zone berubah menjadi area produksi ternak," kata Syam.
Dari sisi manajemen risiko, integrasi ini memberikan diversifikasi pendapatan bagi pemilik proyek. Pendapatan dari sektor peternakan tidak bergantung pada skema tarif listrik, sehingga menciptakan struktur bisnis yang lebih adaptif terhadap fluktuasi pasar.
Dia menekankan implementasi solar grazing memerlukan desain teknis yang presisi. Domba menjadi pilihan utama karena ukuran tubuhnya yang tidak merusak struktur panel, berbeda dengan kambing yang memiliki kecenderungan memanjat.
Selain aspek bisnis, solar grazing menjadi solusi atas potensi resistensi sosial. Dengan melibatkan peternakan lokal, masyarakat sekitar tidak lagi hanya menjadi penonton melainkan mitra ekonomi yang mendapatkan akses lahan dan peningkatan kapasitas. Hal ini mengubah hubungan proyek dengan warga menjadi kemitraan ekonomi yang nyata dan berkelanjutan.
"Dan mungkin di situlah arah masa depan bisnis energi akan bergerak, bukan pada seberapa besar kita membangun infrastruktur baru, tetapi pada seberapa dalam kita memahami dan mengelola ruang yang sudah kita miliki," ungkapnya.
CEO PT Gema Aset Solusindo Syam Basrijal mengungkapkan selama ini fase operasional dalam siklus hidup PLTS yang mencapai 25–30 tahun kerap terabaikan, terutama dalam hal pengendalian vegetasi. Di wilayah tropis seperti Indonesia, pertumbuhan rumput yang cepat memerlukan biaya pemeliharaan signifikan.
Baca juga: Pemanfaatan Energi Terbarukan dan Konservasi Energi untuk Ketahanan Energi Nasional
"Solar grazing mengubah cara kita membaca efisiensi, bukan hanya pada bagaimana membangun pembangkit, tetapi bagaimana mengelola ruangnya secara berkelanjutan," ujar Syam, Senin (13/4/2026).
Lahan seharusnya dipandang sebagai bagian dari sistem produksi yang bisa terus dioptimalkan, bukan sekadar tempat berdirinya panel.
Secara teknis, penggunaan hewan ternak untuk menjaga ketinggian rumput dapat menggantikan metode konvensional seperti mesin pemotong atau herbisida. Syam mencatat metode biologis ini mampu memangkas biaya pengelolaan vegetasi secara drastis.
"Pada beberapa praktik internasional, pengurangan biaya pengelolaan vegetasi bisa mencapai 20–40% dibanding metode konvensional," ucapnya.
Selain hemat biaya, sistem ini juga meminimalkan emisi karbon karena berkurangnya penggunaan bahan bakar mesin pemotong. Lebih jauh, lahan yang selama ini dianggap sebagai zona penyangga tak produktif kini bertransformasi menjadi area produksi protein hewani.
Dengan kepadatan sekitar 5–10 domba per hektare, investor dapat memperoleh dua aliran nilai sekaligus dari satu aset listrik dan pendapatan dari ternak. "Lahan yang sebelumnya dianggap non-productive buffer zone berubah menjadi area produksi ternak," kata Syam.
Dari sisi manajemen risiko, integrasi ini memberikan diversifikasi pendapatan bagi pemilik proyek. Pendapatan dari sektor peternakan tidak bergantung pada skema tarif listrik, sehingga menciptakan struktur bisnis yang lebih adaptif terhadap fluktuasi pasar.
Dia menekankan implementasi solar grazing memerlukan desain teknis yang presisi. Domba menjadi pilihan utama karena ukuran tubuhnya yang tidak merusak struktur panel, berbeda dengan kambing yang memiliki kecenderungan memanjat.
Selain aspek bisnis, solar grazing menjadi solusi atas potensi resistensi sosial. Dengan melibatkan peternakan lokal, masyarakat sekitar tidak lagi hanya menjadi penonton melainkan mitra ekonomi yang mendapatkan akses lahan dan peningkatan kapasitas. Hal ini mengubah hubungan proyek dengan warga menjadi kemitraan ekonomi yang nyata dan berkelanjutan.
"Dan mungkin di situlah arah masa depan bisnis energi akan bergerak, bukan pada seberapa besar kita membangun infrastruktur baru, tetapi pada seberapa dalam kita memahami dan mengelola ruang yang sudah kita miliki," ungkapnya.
(jon)
Lihat Juga :