Regionalisme Asia dan Dilema Indonesia di Tengah Struktur Global

Rabu, 15 April 2026 - 13:31 WIB
loading...
Regionalisme Asia dan...
Harryanto Aryodiguno, Ass. Prof. International Relations, President University. Foto/Dok SindoNews
A A A
Harryanto Aryodiguno, Ph.D.
Ass. Prof. International Relations, President University

Penandatanganan Major Defense Cooperation Partnership (MDCP) antara Indonesia dan Amerika Serikat bukan sekadar peristiwa bilateral dalam bidang pertahanan. Ia mencerminkan dinamika yang lebih luas dalam politik global, khususnya bagaimana regionalisme di Asia berkembang dan berfungsi. Dalam banyak literatur hubungan internasional, regionalisme Asia tidak mengikuti pola integratif seperti Uni Eropa. Sebaliknya, ia berkembang dalam bentuk yang terfragmentasi, saling tumpang tindih, dan berlapis-lapis—atau yang dapat disebut sebagai layered regionalism.

Kawasan Asia-Pasifik hari ini dipenuhi oleh berbagai kerangka kerja regional yang berjalan secara paralel. ASEAN menjadi fondasi utama kerja sama kawasan Asia Tenggara, sementara APEC menghubungkan ekonomi lintas kawasan. Di sisi lain, mekanisme seperti ASEAN+3 dan kerangka Indo-Pasifik menghadirkan konfigurasi yang berbeda dengan aktor dan kepentingan yang tidak selalu sejalan. Dalam konteks ini, tidak ada satu arsitektur regional tunggal yang dominan, melainkan banyak lapisan kerja sama yang saling beririsan.

Implikasi dari kondisi ini terlihat jelas dalam kasus MDCP. Kerja sama pertahanan Indonesia–Amerika Serikat tidak dapat dipahami hanya sebagai hubungan bilateral, melainkan sebagai bagian dari lapisan regionalisme Indo-Pasifik yang lebih luas. Indonesia tetap menjadi bagian dari ASEAN, tetapi pada saat yang sama juga masuk ke dalam orbit kerja sama keamanan yang dipimpin oleh Amerika Serikat. Yang menarik, keterlibatan ini tidak mengharuskan Indonesia keluar dari struktur regional lainnya. Fenomena ini dikenal sebagai overlapping regional commitments, di mana negara berpartisipasi dalam berbagai kerangka kerja sekaligus tanpa komitmen eksklusif.

Dalam perspektif teoritis, hal ini sejalan dengan pandangan Andrew Hurrell yang menekankan bahwa regionalisme sering kali bukan alternatif dari tatanan global, melainkan reproduksi dari tatanan tersebut. Dalam konteks Asia-Pasifik, Amerika Serikat tetap berperan sebagai penyedia keamanan utama (security provider), dan berbagai inisiatif regional, termasuk Indo-Pasifik, dapat dipahami sebagai ekstensi dari sistem global yang berpusat pada Amerika. Dengan demikian, MDCP tidak menunjukkan bahwa Indonesia keluar dari sistem tersebut, melainkan bahwa Indonesia sedang mengadaptasi posisinya di dalamnya.

Di sinilah relevansi pernyataan bahwa Asia tidak sedang menjadi independen, tetapi beradaptasi dalam struktur global yang ada. Negara-negara di kawasan ini tidak berupaya memutus hubungan dengan kekuatan besar, melainkan mencari cara untuk menavigasi dan memanfaatkan hubungan tersebut demi kepentingan nasional mereka.

Strategi Indonesia dalam konteks ini dapat dipahami sebagai bentuk strategic hedging. Asia-Pasifik dikenal sebagai kawasan di mana negara-negara tidak memilih satu blok secara tegas, tidak membentuk aliansi militer yang kaku, tetapi juga tidak sepenuhnya netral. Indonesia, misalnya, menjalin kerja sama militer dengan Amerika Serikat, tetapi pada saat yang sama tetap menjaga hubungan ekonomi dan politik dengan Tiongkok. Lebih jauh lagi, Indonesia secara tegas menolak memberikan akses bebas bagi pesawat militer asing ke wilayah udaranya. Sikap ini mencerminkan strategi “berpartisipasi tanpa berkomitmen penuh,” sebuah pendekatan yang memungkinkan fleksibilitas dalam menghadapi dinamika geopolitik.

Namun demikian, praktik ini juga mengungkap ketegangan mendasar dalam regionalisme Asia, yaitu antara prinsip ASEAN centrality dan penetrasi kekuatan eksternal. Di satu sisi, ASEAN berupaya mempertahankan otonomi kawasan dan menjadi pusat arsitektur regional. Di sisi lain, realitas geopolitik menunjukkan bahwa kekuatan besar seperti Amerika Serikat dan Tiongkok tetap memiliki pengaruh yang signifikan. MDCP menunjukkan bahwa ASEAN belum cukup kuat untuk menjadi kerangka keamanan yang sepenuhnya mandiri, sehingga negara-negara anggotanya, termasuk Indonesia, masih membutuhkan kerja sama eksternal untuk menjaga keseimbangan kekuatan.

Meski demikian, satu hal yang tetap menjadi garis merah dalam kebijakan Indonesia adalah kedaulatan. Pemerintah secara konsisten menegaskan bahwa setiap kerja sama harus melalui evaluasi ketat dan tidak boleh mengorbankan prinsip kedaulatan nasional. Dalam teori regionalisme, pendekatan ini dikenal sebagai sovereignty-sensitive regionalism, yaitu bentuk kerja sama yang tetap mempertahankan kontrol penuh negara terhadap kebijakan domestik dan keamanan nasional. Berbeda dengan model integrasi Eropa yang rela mengorbankan sebagian kedaulatan demi integrasi yang lebih dalam, Asia memilih jalur yang lebih berhati-hati dan pragmatis.

Akhirnya, regionalisme di Asia-Pasifik juga tidak dapat dilepaskan dari konteks kompetisi kekuatan besar. Kawasan ini menjadi arena di mana Amerika Serikat dan Tiongkok berupaya memperluas pengaruhnya. Dalam kerangka ini, MDCP dapat dilihat sebagai bagian dari strategi Amerika Serikat untuk memperkuat posisinya di Indo-Pasifik, termasuk dengan menarik Indonesia lebih dekat dalam kerja sama keamanan. Namun, Indonesia tidak serta-merta menerima atau menolak sepenuhnya. Sebaliknya, Indonesia memilih untuk mempertahankan ambiguitas strategis sebagai instrumen kebijakan.

Dengan demikian, MDCP bukanlah tanda bahwa Indonesia sedang memilih pihak, melainkan cerminan dari strategi yang lebih kompleks. Indonesia berpartisipasi dalam struktur global, tetapi tidak sepenuhnya tunduk; bekerja sama dengan kekuatan besar, tetapi tetap menjaga jarak. Inilah wajah regionalisme Asia kontemporer—bukan tentang kemandirian absolut, melainkan tentang kemampuan untuk beradaptasi, menavigasi, dan mempertahankan ruang otonomi di tengah tekanan sistem global.
(rca)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Berita Terkait
Prabowo Ungkap Indonesia...
Prabowo Ungkap Indonesia Ingin Perluas Peluang WNI Kerja di Jerman
Presiden Jerman Steinmeier...
Presiden Jerman Steinmeier Tiba di Indonesia, Berikut Agenda Lengkapnya
Suvenir Kapal Perang...
Suvenir Kapal Perang Mikasa dari Menhan Jepang untuk Presiden Prabowo
Menhan Jepang Temui...
Menhan Jepang Temui Presiden Prabowo di Kertanegara, Penguatan Kerja Sama Pertahanan Dibahas
AS Rayakan 250 Tahun...
AS Rayakan 250 Tahun Kemerdekaan, Soroti Masa Depan Kemitraan Strategis dengan Indonesia
Republikorp-Barzan Holdings...
Republikorp-Barzan Holdings Kerja Sama Pertahanan mulai Senjata hingga Kapal Selam Mini
Bagaimana Industri Farmasi...
Bagaimana Industri Farmasi Besar AS Raup Untung dari Pandemi dengan Perlakukan Warga Seperti Kelinci Percobaan?
Badan Intelijen AS Peringatkan...
Badan Intelijen AS Peringatkan Israel Bisa Sabotase Kesepakatan Perdamaian AS-Iran
Trump Klaim Tidak Ada...
Trump Klaim Tidak Ada Batasan pada Kekuasaannya
Rekomendasi
Pelemahan Emas Antam...
Pelemahan Emas Antam Berlanjut ke Rp2.6 Juta per Gram, Ini Daftar Lengkapnya
Tanpa Bantuan AS, Trump:...
Tanpa Bantuan AS, Trump: Israel Akan Hancur
Jelang Lawan Arab Saudi,...
Jelang Lawan Arab Saudi, Yamal Belum Siap Main 90 Menit
Berita Terkini
Mantan Petinggi OJK...
Mantan Petinggi OJK Ditahan Bareskrim terkait Kasus Dana Syariah Indonesia
Boni Hargens Minta Hilangkan...
Boni Hargens Minta Hilangkan Prasangka Buruk terhadap Polri
Sony Sonjaya Ungkap...
Sony Sonjaya Ungkap 41 Nama Diduga Minta Titik SPPG, Sahroni Khawatir untuk Mengelabui Penyidik
Din Syamsuddin Sebut...
Din Syamsuddin Sebut Penahanan Roy Suryo dan Dokter Tifa Dipaksakan: Kezaliman yang Nyata
Periksa Silmy Karim,...
Periksa Silmy Karim, KPK Telusuri Asal-usul Aset
Ziarah ke Makam Soekarno...
Ziarah ke Makam Soekarno di Blitar, Kapolri: Menyerap Nilai Pemimpin Bangsa
Infografis
5 Negara Produsen Jet...
5 Negara Produsen Jet Tempur Terbesar di Dunia
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved