Gurita Konsentrasi Saham dan Ujian Transparansi Bursa Kita

Senin, 13 April 2026 - 15:22 WIB
loading...
A A A
Jika pasar kita masih dipenuhi oleh "saham-saham tidur" yang dikunci oleh segelintir konglomerasi, jangan harap aliran modal asing akan betah parkir di Jakarta. Investor asing akan melihat fenomena ini sebagai risiko sistemik yang bisa memicu price manipulation atau setidaknya kesulitan untuk melakukan pintu keluar (exit strategy) saat terjadi guncangan.

Namun, kita tentu harus bersikap adil. Banyak dari perusahaan dengan kepemilikan terkonsentrasi ini adalah "National Champions" kita—perusahaan-perusahaan raksasa yang menjadi tulang punggung makroekonomi nasional. Mereka menyerap ribuan tenaga kerja, membayar pajak dalam jumlah jumbo, dan memiliki fundamental yang kokoh.

Masalahnya bukan pada keberadaan mereka, melainkan pada keengganan mereka untuk membagi "lantai dansa" secara lebih proporsional kepada publik. Media massa lain mencatat bahwa beberapa emiten papan atas masih memiliki jumlah saham beredar di publik (free float) yang sangat minimalis, sehingga pergerakan harganya sangat rentan terhadap spekulasi sempit.

Oleh karena itu, kebijakan pengungkapan status kepemilikan ini harus dipandang sebagai vaksin, bukan racun. Untuk memperkuat pasar modal kita, pemerintah melalui Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dan BEI perlu melangkah lebih jauh.

Pertama, peningkatan rasio free float minimum secara bertahap harus ditegakkan dengan sanksi yang kredibel. Tidak boleh ada lagi "dispensasi abadi" bagi emiten besar.

Kedua, perlindungan terhadap investor minoritas harus diperkuat melalui mekanisme hak suara yang lebih berbobot dalam keputusan-keputusan strategis perusahaan (affirmative minority rights). Kita ingin investor ritel merasa seperti pemilik perusahaan, bukan sekadar penonton di pinggir lapangan.
Halaman :
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Berita Terkait
Penangkapan dr Tifa...
Penangkapan dr Tifa dan Ujian Negara Hukum di Tengah Polemik Ijazah Jokowi
Taiwan, Identitas, dan...
Taiwan, Identitas, dan Politik Pengakuan: Membaca Ulang Perdebatan Lintas Selat
Ekologi adalah Kesehatan:...
Ekologi adalah Kesehatan: Ketika Dua Visi Besar Emil Salim dan Farid Moeloek Menjadi Keharusan Zaman
Mengapa Pendonor Darah...
Mengapa Pendonor Darah Kita Tidak Kembali?
Dari SPBU ke Meja Makan:...
Dari SPBU ke Meja Makan: Rantai Dampak Kenaikan BBM terhadap Kesejahteraan
Birokrasi dan Paradoks...
Birokrasi dan Paradoks Belanja Negara
IHSG Sepekan Melonjak...
IHSG Sepekan Melonjak 2,82%, Kapitalisasi Pasar Bertambah Jadi Rp10.788 Triliun
BEI Tegaskan MSCI Belum...
BEI Tegaskan MSCI Belum Putuskan Status Pasar Saham RI
Airlangga Jadikan Catatan...
Airlangga Jadikan Catatan MSCI Sebagai Amunisi Tuntaskan Reformasi Pasar Modal
Rekomendasi
Swiss: Perundingan AS...
Swiss: Perundingan AS dan Iran Berlanjut di Burgenstock
Putin Terus Tebar Ancaman,...
Putin Terus Tebar Ancaman, 4 Negara ini Memiliki Bunker Nuklir Teraman di Eropa
Drama Injury Time, Jerman...
Drama Injury Time, Jerman Tekuk Pantai Gading 2-1 dan Lolos ke 32 Besar
Berita Terkini
Perkuat Nasionalisme,...
Perkuat Nasionalisme, TNI Gelar Nobar Kebangsaan Piala Dunia 2026 di 1.500 Lokasi
Ungkap Kondisi Terkini...
Ungkap Kondisi Terkini Dokter Tifa, Kuasa Hukum: Masih Terpasang Infus
Kuasa Hukum Prioritaskan...
Kuasa Hukum Prioritaskan Roy Suryo dan Dokter Tifa Tak Ditahan saat Penyerahan ke Kejaksaan
Gelar Mimbar Mahasiswa,...
Gelar Mimbar Mahasiswa, BEM Persatuan Indonesia Sampaikan Lima Pernyataan Sikap
Gelar Pertemuan di Ponpes...
Gelar Pertemuan di Ponpes Al Falah Ploso Kediri, Ini Tiga Seruan Masyayikh NU
Seskab Teddy Bertemu...
Seskab Teddy Bertemu Kepala BNN Komjen Suyudi, Ada Apa?
Infografis
5 Alasan Perdamaian...
5 Alasan Perdamaian Amerika Serikat dan Iran Sulit Terwujud
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved