Peneliti UHAMKA Soroti Dampak Perang Iran Terhadap Indonesia

Selasa, 07 April 2026 - 09:27 WIB
loading...
Peneliti UHAMKA Soroti...
Ketegangan global akibat Perang Iran 2026 semakin meningkat. Foto/CNN
A A A
JAKARTA - Di tengah meningkatnya ketegangan global akibat Perang Iran 2026, ancaman terhadap Indonesia tidak hanya datang dari sisi ekonomi seperti kenaikan harga minyak atau tekanan terhadap APBN. Ancaman yang lebih dalam justru datang dari sesuatu yang jarang disadari hilangnya posisi Indonesia dalam perhatian dunia.

Hal ini diungkap peneliti Pusat Studi Politik dan Sosial UHAMKA sekaligus Founding Director Global Trust Intelligence (GTI) Emaridial Ulza, dalam laporan strategis terbarunya yang mengkaji dampak konflik tersebut terhadap Indonesia.

Laporan setebal lebih dari 35 halaman ini disusun dari ratusan sumber internasional dan menunjukkan Indonesia saat ini menghadapi kondisi yang disebut sebagai strategic invisibility trap. “Kondisi ini bukan berarti Indonesia dipersepsikan buruk oleh dunia internasional, melainkan justru tidak hadir dalam persepsi global sama sekali,” ujarnya, Selasa (7/4/2026).

Baca juga: MUI: Iran Bakal Mudahkan Kapal Tanker Indonesia Lewati Selat Hormuz

Dalam dunia yang dipenuhi arus informasi cepat, negara yang tidak muncul dalam narasi global akan cenderung tidak diperhitungkan, baik dalam konteks investasi, diplomasi, maupun pengambilan keputusan strategis.

Emaridial menjelaskan dalam perspektif international marketing dan neurosains keputusan kolektif, pelaku pasar global dan publik internasional tidak semata-mata merespons data, tetapi lebih dipengaruhi oleh narasi yang sering muncul dan tertanam dalam ingatan.

“Dalam konteks ini, negara yang tidak aktif membangun narasinya sendiri berisiko kehilangan perhatian, meskipun memiliki kekuatan ekonomi yang besar,” katanya.

Lihat video: Stok BBM Aman Meski Perang Iran vs Israel Memanas?


Fenomena ini terlihat jelas ketika dibandingkan dengan Iran. Meski berada dalam konflik besar, Iran tetap hadir di berbagai panggung global dan menjadi bagian dari percakapan dunia. Sementara itu, Indonesia dengan populasi lebih dari 280 juta jiwa dan pertumbuhan ekonomi yang relatif stabil tidak muncul sebagai aktor dalam narasi global yang dianggap penting.

“Kondisi ini bukan sekadar persoalan citra, melainkan memiliki dampak langsung terhadap ekonomi. Ketika reputasi, narasi, dan persepsi terganggu secara bersamaan, dampaknya akan terasa dalam bentuk tertundanya investasi asing, meningkatnya biaya pinjaman, hingga potensi keluarnya modal dari dalam negeri,” ucapnya.

Di sisi lain, laporan tersebut juga menyoroti tekanan ekonomi yang sedang dihadapi Indonesia melalui konsep Keynesian Triple Squeeze, yaitu kondisi ketika tiga pilar utama ekonomi—lapangan kerja, suku bunga, dan likuiditas—mengalami tekanan secara bersamaan. Kondisi ini dinilai berbeda dari krisis sebelumnya karena tidak ada sektor yang dapat berfungsi sebagai penyangga.

Selain tekanan ekonomi, laporan ini juga mengidentifikasi potensi dampak geopolitik yang lebih luas. Krisis energi global akibat konflik di Timur Tengah dinilai mulai mendorong negara-negara ASEAN untuk bernegosiasi dengan China dari posisi yang lebih lemah di Laut China Selatan. Pergeseran ini berpotensi memengaruhi keseimbangan keamanan kawasan, termasuk wilayah strategis Indonesia seperti Natuna.

Di tengah berbagai tekanan tersebut, Indonesia sebenarnya memiliki sejumlah keunggulan yang diakui secara global. Di antaranya keberhasilan menghimpun pajak ekonomi digital yang menempatkan Indonesia di tiga besar dunia, serta program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang menjadi salah satu investasi human capital terbesar di kawasan. Namun, menurut Emaridial, keunggulan-keunggulan ini belum dikomunikasikan secara efektif di tingkat global.

“Di era saat ini, narasi bukan lagi sekadar pelengkap, melainkan faktor yang menentukan arah ekonomi sebuah negara. Ketika sebuah negara tidak mampu mendefinisikan dirinya sendiri, maka dunia tidak akan melihatnya sebagai aktor yang penting,” katanya.

Laporan tersebut disusun menggunakan kerangka Global Trust Intelligence (GTI), sebuah pendekatan analitik yang mengintegrasikan international marketing, neurosains, ketahanan non-militer, serta ekonomi Keynesian untuk melihat keterkaitan antar-isu yang sering luput dari analisis konvensional.

”Di tengah dunia yang semakin kompetitif secara narasi, Indonesia dihadapkan pada pilihan tetap menjadi penonton dalam percakapan global, atau mulai membangun posisi sebagai aktor yang diperhitungkan. Karena dalam sistem global hari ini, yang tidak terlihat, berisiko untuk tidak dianggap ada,” katanya.
(cip)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Berita Terkait
Prabowo dan Jusuf Kalla...
Prabowo dan Jusuf Kalla Bahas Isu Global hingga Swasembada Energi
PKS Sebut Sinergi Pemerintah,...
PKS Sebut Sinergi Pemerintah, Dunia Usaha, hingga Masyarakat Kunci Jaga Stabilitas
Fokus Belanja Negara
Fokus Belanja Negara
Perang Iran 2026: Ketika...
Perang Iran 2026: Ketika Diplomasi Berbicara dengan Bahasa Rudal
Indonesia di Antara...
Indonesia di Antara Quantum Warfare dan Multipolaritas
Rupiah dan Pasar Distrust?
Rupiah dan Pasar Distrust?
AS Klaim Tembak Jatuh...
AS Klaim Tembak Jatuh Banyak Drone Iran
Tak Ingin Terus Jadi...
Tak Ingin Terus Jadi Target Rudal Iran, UEA Bayar Rp53 Triliun ke Teheran
Dunia Segara Akan Dengar...
Dunia Segara Akan Dengar Gema Kemenangan Iran
Rekomendasi
Ini Amalan Terbaik bagi...
Ini Amalan Terbaik bagi Wanita Haid dan Nifas di Bulan Muharram
AS Klaim Tembak Jatuh...
AS Klaim Tembak Jatuh Banyak Drone Iran
Dunia Segara Akan Dengar...
Dunia Segara Akan Dengar Gema Kemenangan Iran
Berita Terkini
Menhan Jepang Temui...
Menhan Jepang Temui Presiden Prabowo di Kertanegara, Penguatan Kerja Sama Pertahanan Dibahas
Kritik Menggema Jelang...
Kritik Menggema Jelang Muktamar, Warga NU Depok Soroti Tata Kelola PBNU
BPJS Kesehatan Pastikan...
BPJS Kesehatan Pastikan Layanan Peserta Tanpa Diskriminasi
MBG Perlu Dilanjutkan...
MBG Perlu Dilanjutkan dengan Evaluasi, Perbaikan Tata Kelola, dan Efisiensi Anggaran
Demonstrasi Ketidakpastian...
Demonstrasi Ketidakpastian Hukum dalam Penanganan Perkara dr Tifa dan Roy Suryo pada Polemik Ijazah Joko Widodo
Harga Pertamax Naik,...
Harga Pertamax Naik, Pengamat UGM: Tak Bisa Ditahan Lagi Pemerintah
Infografis
Sejarah Panjang Persia...
Sejarah Panjang Persia Menjadi Iran yang Mengubah Timur Tengah
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved