SPPG Garda Terdepan Membangun Ketahanan Gizi dan Ekonomi Kerakyatan
Senin, 30 Maret 2026 - 12:54 WIB
loading...
Satuan Pelayanan (SPPG) menjadi garda terdepan Program Makan Bergizi Gratis kunci membangun ketahanan gizi dan ekonomi kerakyatan. Foto/istimewa
A
A
A
JAKARTA - Implementasi Program Makan Bergizi Gratis (MBG) melalui Satuan Pelayanan (SPPG) dinilai bukan sekadar upaya pemenuhan kalori nasional. Program tersebut juga merupakan sebuah transformasi besar dalam kedaulatan ekonomi rakyat.
Sekjen DPP Advokasi Rakyat untuk Nusantara (ARUN) Bungas T Fernando Duling menyatakan di tengah dinamika pembangunan yang masif, model kemandirian yayasan dan investor lokal yang dilakukan SPPG menjadi garda terdepan dalam membangun ketahanan gizi dan pembangunan multiple effect ekonomi.
"Namun, penting untuk meletakkan perspektif kita secara jernih, insentif harian sebesar Rp6 juta bukanlah sekadar angka keuntungan bagi mereka. Ia adalah amanah arus kas operasional yang baru bertransformasi menjadi profit setelah melewati ambang batas titik impas atau Break Even Point (BEP) yang terukur secara ketat dalam periode kontrak 24 bulan," katanya, Senin (30/3/2026).
Baca juga: SPPG Mulai Operasi 31 Maret, Waka BGN Ingatkan Mitra yang Mark Up Harga Bahan Baku Akan Disikat
Fernando menilai keberanian para investor mandiri ini adalah sebuah revolusi nutrisi. Bayangkan, dengan nilai investasi di angka Rp1,3-2 miliar, para mitra ini telah mengucurkan modal sosial-ekonomi ke tingkat desa tanpa membebani APBN untuk konstruksi awal.
"Di sinilah kami hadir memberikan dukungan moral penuh dan pendampingan strategis. Karena kami memahami bahwa menjadi investor SPPG bukan hanya soal hitung-hitungan neraca, melainkan soal daya tahan mengelola operasional hingga mencapai titik impas (BIP) di bulan ke-14 hingga ke-20," ungkapnya.
Fernando menegaskan, pihaknya berdiri di samping para mitra untuk memastikan tantangan birokrasi dan hambatan teknis tidak mematahkan semangat pengabdian mereka.
Lihat video: Prabowo Cek Pemeriksaan Food Safety yang Jadi Pembeda di SPPG Polri
"Dalam kacamata kami, investasi ini adalah oase ekonomi bagi akar rumput. Jauh sebelum piring makanan sampai ke meja siswa, investasi mandiri ini telah menjadi mesin penyerap tenaga kerja yang luar biasa," ungkapnya.
Fernando menyebutkan, ribuan arsitek, instalatur, tukang bangunan, hingga jasa pengangkutan lokal bergerak dalam satu napas pembangunan selama 60 hari kerja.
"Penyerapan tenaga kerja formal dan informal ini memberikan dampak instan pada daya beli masyarakat desa. Warung-warung lingkungan dan pedagang kaki lima di sekitar lokasi pembangunan merasakan langsung tetesan ekonomi dari aktivitas ini. Inilah manifestasi nyata dari ekonomi kerakyatan, uang negara belum keluar, namun ekonomi rakyat sudah berputar kencang melalui inisiatif mandiri," katanya.
Memasuki fase operasional, tantangan sesungguhnya adalah menjaga ekosistem lokal agar tetap berdaya. Fernando menyatakan ARUN secara aktif mendampingi yayasan agar mampu merangkul petani, peternak, dan UMKM sebagai pemasok utama bahan baku.
”Kami menekankan SPPG harus menjadi pembeli siaga yang memangkas rantai distribusi panjang, sehingga keuntungan tidak lagi lari ke tengkulak, melainkan menetap di kantong para produsen pangan lokal. Di dapur-dapur SPPG, para relawan dan tenaga kerja lokal bukan sekadar pelaksana, mereka adalah jantung dari program ini yang mendapatkan insentif layak sekaligus peningkatan martabat sosial," tegas Fernando.
Secara objektif, investasi di rentang Rp1,3-1,4 miliar adalah titik keseimbangan ideal untuk menjamin kualitas layanan sekaligus keberlanjutan usaha.
Fernando menegaskan, ARUN memperingatkan agar efisiensi tidak dilakukan secara ekstrem di bawah angka Rp1 miliar, karena hal itu berisiko menurunkan standar layanan dan mengancam keberlangsungan kontrak.
"Kami hadir untuk mengawal agar para mitra tetap berada pada koridor kualitas yang ditetapkan Badan Gizi Nasional. Dukungan moral adalah memastikan bahwa investor tidak berjalan sendirian dalam menghadapi risiko, terutama bagi mereka yang bertaruh di wilayah sulit dengan biaya logistik tinggi," ujarnya.
Fernando menegaskan, SPPG Mandiri adalah monumen kemitraan yang sehat antara negara, swasta, dan rakyat. Keuntungan stabil yang baru dinikmati investor di penghujung masa kontrak adalah imbal hasil yang sangat pantas atas keberanian mereka memikul risiko di awal.
"Kami akan terus mengawal proses ini, memastikan setiap Rupiah investasi tetap menjadi katalisator bagi kebangkitan ekonomi Nusantara. Inilah revolusi kita bersama, memastikan perut rakyat kenyang, nutrisi anak bangsa terpenuhi, dan dompet masyarakat akar rumput kembali berisi," ucapnya.
Sekjen DPP Advokasi Rakyat untuk Nusantara (ARUN) Bungas T Fernando Duling menyatakan di tengah dinamika pembangunan yang masif, model kemandirian yayasan dan investor lokal yang dilakukan SPPG menjadi garda terdepan dalam membangun ketahanan gizi dan pembangunan multiple effect ekonomi.
"Namun, penting untuk meletakkan perspektif kita secara jernih, insentif harian sebesar Rp6 juta bukanlah sekadar angka keuntungan bagi mereka. Ia adalah amanah arus kas operasional yang baru bertransformasi menjadi profit setelah melewati ambang batas titik impas atau Break Even Point (BEP) yang terukur secara ketat dalam periode kontrak 24 bulan," katanya, Senin (30/3/2026).
Baca juga: SPPG Mulai Operasi 31 Maret, Waka BGN Ingatkan Mitra yang Mark Up Harga Bahan Baku Akan Disikat
Fernando menilai keberanian para investor mandiri ini adalah sebuah revolusi nutrisi. Bayangkan, dengan nilai investasi di angka Rp1,3-2 miliar, para mitra ini telah mengucurkan modal sosial-ekonomi ke tingkat desa tanpa membebani APBN untuk konstruksi awal.
"Di sinilah kami hadir memberikan dukungan moral penuh dan pendampingan strategis. Karena kami memahami bahwa menjadi investor SPPG bukan hanya soal hitung-hitungan neraca, melainkan soal daya tahan mengelola operasional hingga mencapai titik impas (BIP) di bulan ke-14 hingga ke-20," ungkapnya.
Fernando menegaskan, pihaknya berdiri di samping para mitra untuk memastikan tantangan birokrasi dan hambatan teknis tidak mematahkan semangat pengabdian mereka.
Lihat video: Prabowo Cek Pemeriksaan Food Safety yang Jadi Pembeda di SPPG Polri
"Dalam kacamata kami, investasi ini adalah oase ekonomi bagi akar rumput. Jauh sebelum piring makanan sampai ke meja siswa, investasi mandiri ini telah menjadi mesin penyerap tenaga kerja yang luar biasa," ungkapnya.
Fernando menyebutkan, ribuan arsitek, instalatur, tukang bangunan, hingga jasa pengangkutan lokal bergerak dalam satu napas pembangunan selama 60 hari kerja.
"Penyerapan tenaga kerja formal dan informal ini memberikan dampak instan pada daya beli masyarakat desa. Warung-warung lingkungan dan pedagang kaki lima di sekitar lokasi pembangunan merasakan langsung tetesan ekonomi dari aktivitas ini. Inilah manifestasi nyata dari ekonomi kerakyatan, uang negara belum keluar, namun ekonomi rakyat sudah berputar kencang melalui inisiatif mandiri," katanya.
Memasuki fase operasional, tantangan sesungguhnya adalah menjaga ekosistem lokal agar tetap berdaya. Fernando menyatakan ARUN secara aktif mendampingi yayasan agar mampu merangkul petani, peternak, dan UMKM sebagai pemasok utama bahan baku.
”Kami menekankan SPPG harus menjadi pembeli siaga yang memangkas rantai distribusi panjang, sehingga keuntungan tidak lagi lari ke tengkulak, melainkan menetap di kantong para produsen pangan lokal. Di dapur-dapur SPPG, para relawan dan tenaga kerja lokal bukan sekadar pelaksana, mereka adalah jantung dari program ini yang mendapatkan insentif layak sekaligus peningkatan martabat sosial," tegas Fernando.
Secara objektif, investasi di rentang Rp1,3-1,4 miliar adalah titik keseimbangan ideal untuk menjamin kualitas layanan sekaligus keberlanjutan usaha.
Fernando menegaskan, ARUN memperingatkan agar efisiensi tidak dilakukan secara ekstrem di bawah angka Rp1 miliar, karena hal itu berisiko menurunkan standar layanan dan mengancam keberlangsungan kontrak.
"Kami hadir untuk mengawal agar para mitra tetap berada pada koridor kualitas yang ditetapkan Badan Gizi Nasional. Dukungan moral adalah memastikan bahwa investor tidak berjalan sendirian dalam menghadapi risiko, terutama bagi mereka yang bertaruh di wilayah sulit dengan biaya logistik tinggi," ujarnya.
Fernando menegaskan, SPPG Mandiri adalah monumen kemitraan yang sehat antara negara, swasta, dan rakyat. Keuntungan stabil yang baru dinikmati investor di penghujung masa kontrak adalah imbal hasil yang sangat pantas atas keberanian mereka memikul risiko di awal.
"Kami akan terus mengawal proses ini, memastikan setiap Rupiah investasi tetap menjadi katalisator bagi kebangkitan ekonomi Nusantara. Inilah revolusi kita bersama, memastikan perut rakyat kenyang, nutrisi anak bangsa terpenuhi, dan dompet masyarakat akar rumput kembali berisi," ucapnya.
(cip)
Lihat Juga :