Dokter Tifa Ungkap Termul Tak Henti Bikin Fitnah
Minggu, 29 Maret 2026 - 06:14 WIB
loading...
A
A
A
“Kesibukan menyelesaikan akhir studi Doktoralku 7 hari dalam seminggu, membuat saya hanya mampu menjalani Wajib Lapor di hari Sabtu, mengiris waktu istirahat yang tak banyak,” tuturnya.
Di area Polda Metro Jaya yang sunyi, hening, dengan kesadaran penuh dirinya bahwa jalan perjuangan memang tidak pernah menawarkan kemudahan. “Namun di saat yang sama, beredar sebuah video berisi fitnah keji dari salah seorang Termul. Fitnah yang muncul setelah fitnah saya mengajukan Restorative Justice, dan fitnah-fitnah sebelumnya,” katanya.
“Kali ini sebetulnya fitnahan sangat kelewatan. Sangat kurang ajar, karena menyangkut riwayat sakitnya keluargaku, kematian muda saudara-saudaraku, dengan biadab dijadikan bahan fitnahan, penderitaan dijadikan bahan bullyan. Tetapi saya tersenyum,” ujarnya.
Dia tersenyum bukan karena meremehkan, tetapi karena memahami bahwa setiap perjuangan besar selalu diiringi oleh dua hal: ujian dari Tuhan, dan serangan dari manusia. Dia menuturkan, fitnah adalah bahasa mereka yang tidak mampu mengalahkan gagasan.
Dia menambahkan, serangan personal adalah senjata mereka yang kehabisan argumen. Tifa melanjutkan, serangan pribadi adalah tanda kekalahan setelak-telaknya.
“Dan di titik ini, narasi-narasi yang diarahkan kepadaku, termasuk yang dikaitkan dengan polemik seputar ijazah Joko Widodo, justru semakin menunjukkan satu hal: Ketika substansi tak lagi mampu dijawab, maka yang diserang adalah pribadi,” kata dia.
Di area Polda Metro Jaya yang sunyi, hening, dengan kesadaran penuh dirinya bahwa jalan perjuangan memang tidak pernah menawarkan kemudahan. “Namun di saat yang sama, beredar sebuah video berisi fitnah keji dari salah seorang Termul. Fitnah yang muncul setelah fitnah saya mengajukan Restorative Justice, dan fitnah-fitnah sebelumnya,” katanya.
“Kali ini sebetulnya fitnahan sangat kelewatan. Sangat kurang ajar, karena menyangkut riwayat sakitnya keluargaku, kematian muda saudara-saudaraku, dengan biadab dijadikan bahan fitnahan, penderitaan dijadikan bahan bullyan. Tetapi saya tersenyum,” ujarnya.
Dia tersenyum bukan karena meremehkan, tetapi karena memahami bahwa setiap perjuangan besar selalu diiringi oleh dua hal: ujian dari Tuhan, dan serangan dari manusia. Dia menuturkan, fitnah adalah bahasa mereka yang tidak mampu mengalahkan gagasan.
Dia menambahkan, serangan personal adalah senjata mereka yang kehabisan argumen. Tifa melanjutkan, serangan pribadi adalah tanda kekalahan setelak-telaknya.
“Dan di titik ini, narasi-narasi yang diarahkan kepadaku, termasuk yang dikaitkan dengan polemik seputar ijazah Joko Widodo, justru semakin menunjukkan satu hal: Ketika substansi tak lagi mampu dijawab, maka yang diserang adalah pribadi,” kata dia.
Lihat Juga :