Sejumlah Tokoh Sowan ke JK, Sudirman Said: Kita Harus Perkuat Kepemimpinan Intrinsik
Minggu, 08 Maret 2026 - 12:24 WIB
loading...
A
A
A
"JK bukan siapa-siapa secara posisi saat ini, tapi punya kepemimpinan intrinsik karena integritasnya," sebutnya.
Sementara pakar hukum Universitas Andalas, Feri Amsari, mengungkapkan bahwa ada dua alasan utama mengapa para tokoh meminta bertemu JK. Pertama, pengalaman JK sebagai Wapres, ketua partai, hingga juru damai dianggap penting untuk membicarakan krisis kepemimpinan global agar "penyakit" dari luar tidak masuk ke dalam negeri. "Mengulang kata Pak JK, pemimpin tidak boleh menggunakan sebatas insting dan instan," tegas Feri.
Baca juga: Banjir Jakarta Siang Ini Meluas Jadi 147 RT dan 19 Jalan
Kedua, mereka ingin belajar mengenai aspek ekonomi dalam penyelenggaraan negara sebagai bahan perbaikan ke depan. Suara kritis juga datang dari representasi mahasiswa, Ketua BEM UGM Tiyo Ardianto. Ia menekankan bahwa pertemuan ini bukanlah pertemuan politik, melainkan pertemuan moral rakyat sebagai penumpang "bus besar" bernama NKRI. "Sopirnya Prabowo, kernetnya Gibran, awaknya menteri; rakyat sebagai penumpang layak menegur sopir," kata Tiyo.
Ia menilai kondisi "bus" Indonesia saat ini sudah reot dan memiliki banyak masalah yang harus segera direparasi agar tidak semakin jauh dari tujuannya.
Sementara pakar hukum Universitas Andalas, Feri Amsari, mengungkapkan bahwa ada dua alasan utama mengapa para tokoh meminta bertemu JK. Pertama, pengalaman JK sebagai Wapres, ketua partai, hingga juru damai dianggap penting untuk membicarakan krisis kepemimpinan global agar "penyakit" dari luar tidak masuk ke dalam negeri. "Mengulang kata Pak JK, pemimpin tidak boleh menggunakan sebatas insting dan instan," tegas Feri.
Baca juga: Banjir Jakarta Siang Ini Meluas Jadi 147 RT dan 19 Jalan
Kedua, mereka ingin belajar mengenai aspek ekonomi dalam penyelenggaraan negara sebagai bahan perbaikan ke depan. Suara kritis juga datang dari representasi mahasiswa, Ketua BEM UGM Tiyo Ardianto. Ia menekankan bahwa pertemuan ini bukanlah pertemuan politik, melainkan pertemuan moral rakyat sebagai penumpang "bus besar" bernama NKRI. "Sopirnya Prabowo, kernetnya Gibran, awaknya menteri; rakyat sebagai penumpang layak menegur sopir," kata Tiyo.
Ia menilai kondisi "bus" Indonesia saat ini sudah reot dan memiliki banyak masalah yang harus segera direparasi agar tidak semakin jauh dari tujuannya.
Lihat Juga :